Ini Tantangan Bus AKAP Listrik Sumber Alam Rute Yogya-Bekasi

Sedang Trending 45 menit yang lalu

Jakarta -

Tahun lalu, PO Sumber Alam bekerja sama dengan Kalista sempat menyediakan layanan transportasi yang ramah lingkungan berupa armada bus listrik untuk layanan AKAP. Bus itu melayani trayek AKAP (antar kota antar provinsi) Yogyakarta-Bekasi. Bagaimana kelanjutannya?

Saat itu, bus yang disuplai oleh Kalista digunakan untuk uji coba trayek AKAP menggunakan bus listrik. Bus ini mengombinasikan warna putih, hitam, biru, dan juga hijau. Di bagian kaca depan terdapat tulisan 100% electric vehicle, lalu pada bagian bodi samping juga terdapat gambar colokan kabel yang menandakan bahwa ini kendaraan listrik.

Logo Kalista juga tersemat di bagian bodi samping. Bagi yang belum tahu, Kalista adalah perusahaan fleets-as-a-service (FaaS) yang menyediakan solusi end-to-end dengan ekosistem EV yang komprehensif untuk mempermudah transisi bisnis menuju EV.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Apakah proyek bus listrik buat trayek AKAP berlanjut? Direktur Pengembangan Bisnis Kalista Group, Yoga Adiwinarto, mengatakan bus AKAP menggunakan armada listrik masih banyak tantangan. Terutama soal infrastrukturnya.

"Purpose-nya pada saat itu kita memang pengen lebih ngetes dari sisi operasionalnya. Jadi bener nggak sih, kan orang bilang, ah nggak bisa lah (bus) listrik dipakai AKAP dan sebagainya. Nah itu bisa, nggak ada masalah," kata Yoga di Jakarta, Rabu (20/5/2026).

"Tapi ya ketika sudah masuk ke sisi komersial, ini yang ada challenge. Kenapa? Karena salah satunya adalah di sisi infrastruktur mereka. Contoh kayak Jakarta-Yogyakarta itu kemarin kita jalankan 540 km one way. Ya mungkin kalau kita baterainya kita kebanyakan, bisa aja. Sampai sekali jalan nggak usah nge-charge, cuma nggak bisa bawa orang. Karena udah keberatan si busnya. Jadi akhirnya kita memang limit di battery capacity, sehingga mereka perlu melakukan charging di tengah-tengah, di jalan tol, di rest area, dan lain-lainnya," ujar Yoga.

Memang saat ini sudah banyak SPKLU yang tersebar di sepanjang jalan tol di Pulau Jawa. Namun, kebanyakan SPKLU itu dirancang buat kendaraan penumpang, bukan kendaraan komersial semacam bus atau truk.

"Charging kita itu kalau udah masuknya di SPKLU belum bisa buat mobil yang heavy duty vehicle. Jadi kalau truk tadi yang kayak trailer, kalau bus tuh yang kayak bus-bus besar belum masuk. Cuman kalau untuk yang shuttle-shuttle gampang. Jadi memang harus ada investment spesifik ke sana," ujar Yoga.

Menurutnya, saat ini Kalista bersama dengan PLN dan pengelola jalan tol bekerja sama menyediakan SPKLU khusus untuk kendaraan besar seperti bus dan truk. Harapannya, dengan infrastruktur yang disediakan, akan semakin banyak kendaraan ramah lingkungan yang beredar.

"Harus ada support dari pemerintah. Bukan (support) subsidi, kita nggak ngomong (support berupa) subsidi, tapi kita fokusnya ke infrastruktur charging station," katanya.


(rgr/dry)