Insentif EV jadi angin segar bagi industri kendaraan listrik di RI

Sedang Trending 45 menit yang lalu

Jakarta (ANTARA) - Ketua Umum Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo) Jenderal TNI (Purn.) Moeldoko mengatakan bahwa kebijakan insentif untuk kendaraan listrik dapat menjadi angin segar bagi konsumen dan menghadirkan optimisme baru bagi industri kendaraan listrik yang tengah berkembang di Indonesia.

“Karena itu, insentif itu betul-betul ditunggu ya. Insentif ini tidak saja memberikan senyum kepada pembeli, tapi juga memberikan harapan baru lagi kepada penjual dan juga industri (EV),” kata Moeldoko saat konferensi pers peluncuran Periklindo Electric Vehicle Show (PEVS) 2026, di Jakarta, Kamis.

Dia juga berharap bahwa insentif juga harus diperluas. Jadi, tidak hanya untuk kendaraan penumpang dan juga kendaraan roda dua saja. Akan tetapi, juga bisa menyasar ke kendaraan komersial seperti bus, truk, dan kendaraan logistik.

Baca juga: Hyundai sambut positif rencana insentif EV berbasis baterai nikel

Langkah tersebut dinilai penting karena kendaraan komersial menjadi salah satu penyumbang emisi karbon terbesar sekaligus pengguna utama bahan bakar diesel bersubsidi.

Dengan memperluas insentif ke sektor transportasi komersial, pemerintah dinilai dapat mempercepat transisi menuju transportasi ramah lingkungan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap solar subsidi.

Dorongan elektrifikasi kendaraan komersial juga sejalan dengan upaya pemerintah memperbaiki kualitas udara perkotaan dan memperkuat target net zero emission di masa mendatang.

Baca juga: Purbaya: Insentif EV tekan impor BBM saat harga minyak global tinggi

Terlebih, penggunaan bus dan kendaraan logistik listrik dipandang memiliki dampak signifikan terhadap efisiensi energi nasional.

“Untuk itu, insentif ini harapan dari Periklindo ya tentunya, tidak saja segmennya itu kepada mobil penumpang, tetapi juga perlu dipikirkan mobil-mobil komersial. Seperti di antaranya bus, truk, mobil-mobil logistik. Karena mereka itulah penyumbang emisi yang cukup besar,” harap dia.

Moeldoko mengatakan bahwa program subsidi motor listrik ini harus terarah dan tepat sasaran serta memberikan prioritas sektor transportasi berbasis layanan masyarakat seperti pengemudi ojek online dan perusahaan ride-hailing.

Baca juga: BYD sambut positif insentif EV yang menggunakan nikel

Menurut dia, skema tersebut dapat memberikan nilai ekonomi dan lingkungan yang besar kendaraan-kendaraan yang digunakan secara aktif setiap harinya untuk mendulang pundi-pundi rupiah.

“Harapan saya sebagai Ketua Periklindo, untuk subsidi sepeda motor di antaranya itu mesti dipikirkan. Yang perlu dipikirkan satu, mungkin korporasi transportasi online itu, mungkin harus menjadi prioritas utama,” ujar dia.

Sementara itu, Pemerintah Indonesia melalui kementerian Keuangan sedang mempersiapkan kebijakan dengan memberikan masing-masing 100 ribu unit mobil dan 100 ribu sepeda motor listrik tahun ini.

Baca juga: Indef nilai insentif infrastruktur EV dan energi bersih pacu ekonomi

Untuk sepeda motor listrik, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menganggarkan Rp5 juta per sepeda motor. Sedangkan untuk mobil listrik, insentif berupa Pajak Pertambahan Nilai Ditanggung Pemerintah (PPN DTP) sebesar 40-100 persen untuk pembelian kendaraan listrik.

Insentif PPN DTP dikhususkan untuk kendaraan EV, tanpa mencakup kendaraan hibrida. Adapun terkait besaran insentif akan ditentukan berdasarkan baterai yang digunakan, yang dibagi menjadi baterai nikel dan non-nikel.

Baca juga: Menperin sebut insentif EV tak akan terlalu beda dari sebelumnya

Pewarta:
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026

  • Tags
  • insentif ev
  • periklindo
  • pevs 2026