Sektor energi terbarukan diproyeksi menarik investasi baru berskala besar akibat kekhawatiran terkait keamanan energi dan rantai pasokan global yang mendorong kenaikan permintaan serta pendapatan. Lonjakan permintaan bahan baku industri bersih ini berpotensi memicu kenaikan harga dalam beberapa tahun ke depan, seperti dilansir dari Bloombergtechnoz pada Selasa (26/5/2026).
Duta Aksi Iklim Singapura, Ravi Menon, menyampaikan bahwa kapasitas industri harus mampu mengimbangi lonjakan tersebut agar harga tidak melambung tinggi. Mantan pejabat bank sentral tersebut memberikan pandangannya mengenai pergerakan modal dalam situasi ini pada Jumat.
"Kecuali kapasitas industri mampu mengimbangi," kata Duta Aksi Iklim Ravi Menon kepada Bloomberg News pada Jumat.
Menon menambahkan bahwa para investor institusional dan hedge fund semestinya sudah mulai mengambil langkah investasi sejak dini. Hal ini didasari atas kepastian adanya pertumbuhan permintaan yang signifikan di masa mendatang.
"Anda membutuhkan sinyal harga dan kemudian modal dan investasi akan mengalir ke sektor ini, dan pasokan kemudian akan mulai mengejar ketinggalan. Faktanya, investor cerdas seharusnya sudah berinvestasi di sektor ini sekarang, menyadari bahwa akan ada permintaan dan harga akan naik," ujar Ravi Menon, Duta Aksi Iklim.
Kenaikan permintaan energi hijau dipicu oleh upaya negara-negara pengguna bahan bakar fosil untuk mengamankan mandiri energi di tengah gangguan pasokan minyak dan gas akibat perang di Iran yang dimulai sejak akhir Februari. Negara seperti Korea Selatan dan Filipina kini mempercepat proyek energi bersih mereka.
Tren positif sektor ini terlihat dari Indeks Transisi Energi Bersih S&P Global yang melesat 37% tahun ini, melampaui kenaikan 30% pada Indeks Minyak S&P Global. Menon menegaskan bahwa dorongan politik global saat ini sudah sejalan dengan agenda transisi energi demi menghindari krisis serupa di masa depan.
"Dorongan politik sejalan dengan agenda energi bersih karena bagaimana cara memastikan Anda tidak terjebak dalam situasi ini lagi?" kata Ravi Menon, Duta Aksi Iklim.
Mantan kepala Otoritas Moneter Singapura yang menjabat selama 12 tahun hingga pensiun pada 2024 itu menjelaskan bahwa percepatan transisi hijau berisiko menaikkan harga di seluruh sektor, termasuk bagi konsumen. Keterbatasan pasokan logam industri, mineral penting, dan biaya bahan bakar jangka pendek menjadi faktor pendorong utama.
Selain itu, tekanan inflasi jangka panjang juga akan muncul dari peningkatan anggaran untuk adaptasi dan pemulihan bencana akibat perubahan iklim. Namun, diversifikasi rantai pasokan mendesak dilakukan negara-negara untuk menghindari ketergantungan tunggal pada teknologi hijau dari China.
"Masalah keamanan energi yang berkaitan dengan energi terbarukan masih jauh dari skala risiko konsentrasi pada bahan bakar fosil," kata Ravi Menon, Duta Aksi Iklim.
Meskipun demikian, perluasan energi bersih ini menghadapi tantangan serius dari kebijakan beberapa ekonomi terbesar di Asia. India dan beberapa negara lain memilih kembali menggunakan batu bara sebagai strategi jangka panjang untuk mengatasi kelangkaan listrik sejak konflik di Iran pecah.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·