Menteri Investasi dan Hilirisasi, Rosan Roeslani, melaporkan realisasi investasi Indonesia pada kuartal I-2026 mencapai Rp497 triliun di tengah penguatan sinyal positif dari lembaga internasional seperti IMF dan Bank Dunia pada Senin (13/4/2026). Capaian tersebut tumbuh sekitar 7 persen secara tahunan dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp465 triliun.
Dilansir dari Money, pertumbuhan ini setara dengan 24,3 persen dari total target investasi nasional tahun 2026 yang dipatok pada angka Rp2.041,3 triliun. Sektor hilirisasi sumber daya alam menjadi penyumbang signifikan dengan nilai Rp150,1 triliun atau 30,2 persen dari total capaian tiga bulan pertama.
"Pada triwulan pertama ini bisa kami capai yaitu sebesar Rp497 triliun berarti tumbuh (sekitar) 7 persen secara tahunan," ujar Rosan Roeslani, Menteri Investasi dan Hilirisasi/ Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM).
Data sementara menunjukkan penyerapan tenaga kerja dari investasi tersebut mencapai 627.036 orang. Negara-negara seperti Singapura, China, Jepang, Korea Selatan, dan Amerika Serikat masih mendominasi aliran modal yang masuk ke dalam negeri.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan optimismenya setelah bertemu dengan investor global di Washington DC. Pemerintah dinilai berhasil menyeimbangkan akselerasi pertumbuhan ekonomi dengan kehati-hatian fiskal di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto.
"Harusnya sih, enggak lama lagi (arus modal) akan masuk ke Indonesia dan akan mendorong pasar modal Indonesia ke level yang lebih tinggi lagi," ujar Purbaya Yudhi Sadewa, Menteri Keuangan.
Meski pemerintah bersikap optimistis, ekonom Indef Tauhid Ahmad memberikan catatan kritis terkait tantangan eksternal. Ia menilai kenaikan harga minyak dunia dan dinamika perjanjian dagang internasional masih membayangi arus modal jangka pendek.
"Kalau tahun ini (realisasi investasi) rasanya masih cukup berat sebenarnya ya. Kenapa tahun ini agak berat? Saya lebih cenderung punya prospeknya di tahun depan. Pertama, situasi tekanan global yang mempengaruhi kita, kenaikan harga minyak, perjanjian perdagangan, termasuk juga kelemahan ekonomi domestik, termasuk misalnya soal rating misalnya, itu tetap masih pengaruh," ujar Tauhid Ahmad, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Tauhid memproyeksikan pertumbuhan ekonomi tahun 2026 akan berada di angka 5 persen. Angka ini lebih rendah dari target yang dicanangkan pemerintah sebesar 5,4 persen, sehingga ruang penarikan investasi besar dianggap masih terbatas.
"2026 (pertumbuhan ekonomi) masih sekitar 5 persen ya, paling tinggi kan 5 persen. Jadi ini masih di bawah pemerintah, yang memerintah kan 5,4 persen," ujar Tauhid Ahmad, Ekonom senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef).
Hambatan internal seperti perizinan, kepastian hukum, dan ketersediaan lahan juga menjadi poin yang disoroti oleh pengamat. Defisit anggaran yang mendekati batas 3 persen turut menjadi perhatian investor global dalam menilai keberlanjutan fiskal nasional.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·