Investor Asing dan Domestik Borong SRBI di Tengah Tekanan Rupiah

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Investor asing dan domestik secara masif meningkatkan kepemilikan pada instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) hingga Kamis, 16 April 2026, guna mencari imbal hasil tinggi di tengah ketidakpastian ekonomi global. Langkah ini diambil saat nilai tukar rupiah mengalami depresiasi sebesar 2,59% sejak awal tahun.

Berdasarkan data yang dilansir dari Bloombergtechnoz, imbal hasil atau yield SRBI untuk tenor 12 bulan telah menyentuh angka 5,76%, yang merupakan level tertinggi sejak Juli tahun lalu. Instrumen ini digunakan Bank Indonesia (BI) sebagai alat kontraksi likuiditas sekaligus pendukung stabilisasi nilai tukar.

Bank Indonesia merespons kerentanan rupiah dengan menambah frekuensi lelang SRBI menjadi dua kali sepekan, yakni setiap hari Rabu dan Jumat, sejak Februari 2026. Sepanjang kuartal I-2026, bank sentral tercatat telah menggelar sedikitnya 19 kali lelang instrumen moneter tersebut.

Data kepemilikan menunjukkan posisi investor asing pada SRBI melonjak drastis sebesar 65,82% atau setara Rp57,12 triliun dalam periode November 2025 hingga Maret 2026. Meskipun sempat turun tipis pada Maret menjadi Rp143,91 triliun, minat pemodal luar negeri tetap berada dalam tren meningkat dibandingkan akhir tahun lalu.

Sektor perbankan domestik juga tercatat mengalihkan dananya ke SRBI dengan total kepemilikan mencapai Rp638,92 triliun pada Maret 2026. Angka ini meningkat konsisten dari posisi Januari sebesar Rp614,78 triliun dan Februari senilai Rp637,64 triliun.

Industri nonbank, termasuk pengelola dana asuransi, dana pensiun, dan reksadana, turut memborong instrumen ini hingga mencapai nilai Rp170,25 triliun pada Maret 2026. Penempatan dana pada SRBI dinilai lebih aman dari risiko kredit macet (NPL) dibandingkan penyaluran kredit langsung ke sektor riil.

Namun, tingginya minat perbankan pada SRBI berdampak pada pengetatan likuiditas dan pelemahan transmisi kredit. Kredit modal kerja UMKM tercatat anjlok 4,9% secara tahunan (yoy) pada Februari, sementara kredit segmen mikro cenderung stagnan dengan pertumbuhan hanya 0,004%.

Selain berdampak pada sektor riil, kenaikan kepemilikan asing di instrumen ini turut mengerek posisi Utang Luar Negeri (ULN). Pada Februari 2026, total ULN pemerintah naik 5,5% secara tahunan menjadi US$215,9 miliar.

"Peningkatan ULN Bank Indonesia didorong oleh kenaikan kepemilikan non-residen terhadap instrumen moneter yang diterbitkan oleh Bank Indonesia sejalan dengan operasi moneter pro-market dan upaya menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dari dampak meningkatnya ketidakpastian global," sebut laporan Bank Indonesia.

Hingga akhir kuartal I-2026, cadangan devisa Indonesia tercatat menyusut sebesar US$8,23 miliar menjadi US$148,15 miliar. Jumlah tersebut diperkirakan setara dengan pembiayaan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah.