Investor Lepas SUN Tenor Pendek Saat Rupiah Melemah ke Rp17.189

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Investor melakukan aksi jual pada sejumlah tenor pendek dan menengah di pasar Surat Utang Negara (SUN) seiring anjloknya nilai tukar rupiah ke posisi Rp17.189 per dolar AS pada perdagangan Jumat, 17 April 2026 siang. Dilansir dari Bloombergtechnoz, pergerakan ini memicu kenaikan imbal hasil pada berbagai instrumen surat utang pemerintah.

Data pasar menunjukkan imbal hasil SUN tenor 1 tahun naik 1,1 basis poin (bps) menjadi 5,63%, sedangkan tenor 2 tahun meningkat 5,6 bps ke level 5,91%. Kenaikan juga terjadi pada tenor 4 tahun sebesar 0,8 bps ke 6,28%, tenor 5 tahun naik 2,3 bps menjadi 6,3%, dan tenor 6 tahun meningkat 1,8 bps ke posisi 6,37%.

Meskipun terjadi aksi jual pada tenor pendek, imbal hasil pada instrumen tenor panjang justru tercatat mengalami penurunan. Imbal hasil tenor 11 tahun turun 1,2 bps menjadi 6,67%, sementara tenor 12 dan 13 tahun masing-masing mengalami penurunan sebesar 2,4 bps ke level 6,72% dan 6,77%.

Data Perubahan Imbal Hasil SUN Berbagai TenorTenorPerubahan (bps)Imbal Hasil (%)
1 Tahun+1,15,63
2 Tahun+5,65,91
4 Tahun+0,86,28
5 Tahun+2,36,30
6 Tahun+1,86,37
10 Tahun (Acuan)+0,16,58
11 Tahun-1,26,67
12 Tahun-2,46,72
13 Tahun-2,46,77

Tekanan pada pasar obligasi ini berbanding terbalik dengan kondisi Selasa (14/4/2026) saat investor membukukan pembelian bersih sebesar US$279,7 juta. Namun, sentimen positif tersebut tergerus oleh depresiasi rupiah yang menyentuh level terendah sepanjang sejarah dengan pelemahan 0,29% sejak pembukaan perdagangan hari ini.

Analis melihat adanya korelasi antara rendahnya kepercayaan pasar dengan situasi geopolitik serta disiplin anggaran negara. Faktor eksternal seperti penguatan dolar AS dan kenaikan harga minyak dunia turut menjadi beban tambahan bagi stabilitas fiskal dalam negeri.

"Kepercayaan investor masih lemah, di tengah kekhawatiran terhadap disiplin fiskal dan risiko penurunan peringkat, kemungkinan berkontribusi pada kesenjangan undervaluasi tersebut, bersamaan dengan penguatan dolar AS secara luar sejak konflik Iran dimulai," tulis Stephen Chiu dan Chunyu Zhang, Strategis Valas Bloomberg Intelligence.

Kenaikan harga energi global dikhawatirkan akan memperlebar defisit anggaran akibat pembengkakan subsidi pemerintah. Kondisi ini diprediksi meningkatkan biaya pinjaman negara karena tekanan inflasi yang memicu potensi kenaikan suku bunga di pasar keuangan domestik.

Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, menilai struktur pasar keuangan Indonesia masih sangat bergantung pada aliran modal asing sehingga rentan terhadap ketidakstabilan geopolitik. Pembiayaan negara saat ini masih sangat bertumpu pada penerbitan obligasi bruto dan pinjaman luar negeri.

Menurut Kepala Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, dalam konteks itu Indonesia perlu memperdalam pasar obligasi domestik, menjaga pasokan valas, dan membuat pembiayaan pemerintah lebih tahan terhadap gejolak asing.