Indonesian Petroleum Association (IPA) menyatakan optimisme bahwa target produksi minyak satu juta barel per hari (BOPD) pada tahun 2029 dapat terealisasi melalui kontribusi lapangan migas baru. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konferensi pers Road to IPA Convex 2026 di Jakarta pada Selasa (12/5/2026).
Dilansir dari Bloombergtechnoz, pencapaian target tersebut sangat bergantung pada keberhasilan kegiatan eksplorasi untuk menemukan cadangan baru. Selain minyak, pemerintah juga menargetkan produksi gas mencapai 12 miliar kaki kubik standar per hari (BSCFD) pada periode yang sama.
"Target satu juta barel [minyak] dan gas 12 BSCFD [Billion Standard Cubic Feet per Day], kami percaya bahwa ini bisa dicapai kalau kita mempunyai banyak temuan lapangan baru dari hasil eksplorasi," ungkap Marjolijn Wajong, Direktur Eksekutif IPA.
Marjolijn menekankan pentingnya menjaga tingkat produksi pada lapangan migas yang saat ini masih aktif beroperasi. Hal ini diperlukan agar penambahan dari lapangan baru benar-benar meningkatkan total volume produksi secara nasional.
"Kita kan ngomongnya naik nih, bukan hanya mempertahankan. Maka harus ada lapangan-lapangan baru. Dan lapangan-lapangan baru itu harus besar dan didapat dari eksplorasi," tambah Marjolijn.
Tantangan lain yang dihadapi sektor hulu migas Indonesia adalah kondisi geopolitik global yang dinilai dapat mengancam stabilitas pasokan energi domestik. Indonesia hingga kini masih mengandalkan impor untuk memenuhi sebagian kebutuhan energi di dalam negeri.
"Hal itu berpotensi memunculkan risiko terhadap pasokan energi nasional, khususnya karena Indonesia masih bergantung dari impor energi untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Kondisi tersebut mendorong perlunya kolaborasi antara pemerintah dan pelaku industri demi memperkuat ketahanan energi nasional, melalui peningkatan produksi dan percepatan eksplorasi di sektor hulu migas," jelas Marjolijn.
Ketidakpastian harga komoditas energi akibat konflik bersenjata internasional menjadi bukti kerentanan rantai pasok global. Marjolijn berpendapat bahwa penguatan produksi dalam negeri merupakan solusi utama untuk mengurangi ketergantungan terhadap luar negeri.
"Indonesia perlu mengantisipasi hal ini dengan memperkuat produksi dalam negeri agar tidak terlalu bergantung pada impor," ujar Marjolijn.
Guna menarik minat investor dalam kegiatan eksplorasi yang berisiko tinggi, IPA mendorong adanya kepastian hukum dan skema fiskal yang lebih kompetitif. Kolaborasi antara sektor swasta dan pemerintah dianggap sebagai faktor kunci keberhasilan industri hulu migas.
"Penemuan cadangan baru menjadi kunci. Tidak cukup hanya mengandalkan proyek yang sudah berjalan. Diperlukan eksplorasi yang lebih agresif serta kolaborasi erat antara pemerintah dan pelaku industri," katanya.
Berdasarkan data SKK Migas, realisasi produksi minyak mentah Indonesia sepanjang kuartal pertama tahun 2026 mencapai rata-rata 572.724 bph. Pada bulan Maret 2026 saja, angka produksi tercatat menyentuh 599.862 bph setelah sempat mengalami penurunan pada awal tahun.
Kepala SKK Migas Djoko Siswanto mengungkapkan bahwa penurunan produksi di Blok Rokan pada Januari 2026 disebabkan oleh kerusakan infrastruktur pipa milik PT Transportasi Gas Indonesia (TGI). Hal ini sempat mengganggu pasokan gas untuk pembangkit listrik di wilayah kerja tersebut.
"Januari turun karena pipa TGI pada 2 Januari putus, sehingga tidak bisa mensuplai gas untuk pembangkit listrik MCTN di Rokan, sehingga turunnya sangat besar sekali. Alhamdulillah pipa TGI sudah selesai, tetapi akhir Maret kemarin berdasarkan pigging itu masih ditemukan tiga titik yang rawan, sehingga dalam hal ini dioperasikan belum maksimal," kata Djoko Siswanto dalam rapat kerja bersama Komisi XII DPR RI.
Pemerintah sendiri telah menetapkan target lifting minyak nasional dalam APBN 2026 sebesar 610.000 bph. Target ini menunjukkan peningkatan bertahap dari sasaran tahun 2025 yang dipatok pada angka 605.000 bph.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·