Iran dilaporkan telah mengirimkan usulan diplomatik baru kepada Amerika Serikat pada Senin (27/4) untuk mengakhiri perselisihan militer dan membuka kembali akses Selat Hormuz. Langkah ini mencakup tawaran penundaan perundingan nuklir demi memprioritaskan penyelesaian konflik bersenjata melalui mediator Pakistan.
Dilansir dari Bloombergtechnoz, dokumen proposal tersebut mengusulkan perpanjangan gencatan senjata sebagai landasan menuju penghentian pertempuran secara permanen. Berdasarkan laporan Axios, pemerintah Teheran baru akan bersedia melanjutkan pembahasan program nuklir setelah Washington secara resmi mencabut blokade di jalur distribusi energi tersebut.
Hingga saat ini, Gedung Putih belum memberikan pernyataan resmi terkait kesediaan mereka untuk mempertimbangkan tawaran yang disampaikan melalui pihak ketiga itu. Namun, kabar mengenai diplomasi terbaru ini langsung memicu reaksi di pasar keuangan Asia dengan melemahnya nilai tukar dolar AS serta kenaikan kontrak berjangka indeks S&P 500.
Presiden Donald Trump mengonfirmasi adanya komunikasi baru dari pihak Iran pada Sabtu lalu. Penegasan ini muncul setelah Trump sebelumnya menginstruksikan para utusan Amerika Serikat untuk membatalkan rencana kunjungan diplomatik ke Pakistan pada akhir pekan.
"Menariknya, segera setelah saya membatalkannya, dalam waktu 10 menit kami menerima dokumen baru yang jauh lebih baik," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
Meski mengakui adanya perubahan sikap dari Teheran, pemimpin Amerika Serikat tersebut menilai substansi dari tawaran yang diberikan masih belum memenuhi kriteria yang diharapkan oleh pemerintahannya.
"menawarkan banyak hal, tetapi belum cukup," tambah Trump, Presiden Amerika Serikat.
Situasi di lapangan menunjukkan bahwa meskipun gencatan senjata sebagian besar masih ditaati sejak awal April, blokade ketat di Selat Hormuz tetap diberlakukan oleh kedua negara. Jalur tersebut sangat krusial karena mengalirkan sekitar seperlima dari total pasokan minyak dunia yang saat ini tidak dapat dilalui.
Badan Energi Internasional (IEA) telah mengategorikan gangguan distribusi di kawasan tersebut sebagai guncangan pasokan energi terbesar dalam catatan sejarah. Kondisi ini terus memberikan tekanan pada harga minyak mentah global selama blokade masih dipertahankan oleh Iran maupun Amerika Serikat.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·