Perdagangan minyak global diperkirakan menghadapi realitas baru menyusul prediksi bahwa volume ekspor melalui Selat Hormuz tidak akan kembali normal meskipun perang Iran-Amerika Serikat usai. Risiko konflik geopolitik di Teluk Persia memicu kewaspadaan tinggi bagi kapal komersial Barat, seperti dilansir dari Money pada Minggu (31/5/2026).
Arus pelayaran di jalur vital pasar energi dunia tersebut terganggu sejak Iran menutupnya pada 28 Februari 2026 sebagai respons atas perang. Posisi ini dimanfaatkan Teheran untuk memperkuat kendali de facto atas Selat Hormuz dalam penyelesaian konflik.
Mantan penasihat senior energi dan keamanan nasional Presiden AS Joe Biden, Amos Hochstein, menilai Iran akan tetap memegang kendali atas jalur strategis tersebut dalam jangka panjang.
"Apapun yang terjadi, Iran akan mengendalikan Selat Hormuz dalam jangka waktu yang dapat diperkirakan ke depan," kata Hochstein.
Kondisi politik ini diyakini oleh sejumlah pemimpin di kawasan Timur Tengah akan terus berlanjut tanpa memandang hasil akhir dari meja negosiasi damai.
"Bahkan tidak terlalu penting apa isi kesepakatannya. Semua pihak di kawasan percaya bahwa itulah yang akan terjadi," ujar Hochstein.
Kepala Strategi Komoditas Global RBC Capital Markets, Helima Croft, menambahkan bahwa pengaruh signifikan Iran akan menekan arus perdagangan energi ke level yang jauh lebih rendah daripada sebelum konflik.
"Menurut pandangan kami, skenario apa pun yang mengakhiri konflik tetapi tetap membuat Iran memiliki kendali operasional dan pengaruh atas Selat Hormuz akan menyebabkan arus pelayaran melalui jalur tersebut berada jauh di bawah level normal," ujar Croft.
Editor-in-Chief Lloyd’s List, Richard Meade, memproyeksikan lalu lintas kapal tanker di selat tersebut hanya mampu pulih di kisaran 60 hingga 70 persen dari volume sebelum perang.
"Situasi ini memang tidak serta-merta memicu resesi seperti yang digambarkan dalam sejumlah skenario terburuk yang pernah dibahas sebelumnya, tetapi juga tidak memungkinkan terjadinya pemulihan ke tingkat aktivitas sebelum perang," kata Meade.
Kapal terafiliasi China diperkirakan bergerak lebih bebas, sementara kapal Barat membutuhkan perjanjian bilateral khusus dengan Iran untuk melintas.
"Yang muncul justru sesuatu yang lebih mengkhawatirkan. Sebuah selat yang terbelah secara permanen, di mana akses ditentukan oleh keselarasan politik, bukan oleh prinsip kebebasan bernavigasi," kata Meade.
Analis risiko maritim Lloyd’s List, Tomer Raanan, menarik pelajaran dari krisis Laut Merah yang membuktikan bahwa gangguan besar jalur maritim tidak memerlukan armada laut raksasa.
"Untuk menciptakan disrupsi besar di sebuah titik sempit jalur pelayaran maritim (maritime chokepoint), Anda tidak perlu memiliki angkatan laut yang sangat besar," ujar Raanan.
Kepala Risiko Negara Kawasan Timur Tengah di S&P Global Market Intelligence, Jack Kennedy, mencatat serangan kelompok Houthi sejak November 2023 memangkas lalu lintas harian Selat Bab el-Mandeb hingga lebih dari 50 persen.
Berbeda dengan Laut Merah yang bisa dihindari dengan memutar ke Tanjung Harapan Afrika Selatan, Selat Hormuz tidak memiliki alternatif yang sebanding untuk menyalurkan 20 persen pasokan minyak dan LNG global.
"Memang bisa mengalihkan sebagian pengiriman melalui jaringan pipa, tetapi tidak semua komoditas dapat disalurkan lewat pipa," kata Raanan.
Jalur pipa Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dinilai belum mampu menggantikan sepenuhnya peran krusial Selat Hormuz bagi komoditas global.
"Kita tidak hanya berbicara soal minyak yang harus keluar melalui Selat Hormuz," kata Raanan.
Menteri Energi Amerika Serikat, Chris Wright, memperkirakan peran strategis Selat Hormuz akan berangsur turun seiring percepatan pembangunan infrastruktur pipa alternatif oleh negara-negara Teluk seperti Uni Emirat Arab yang ditargetkan beroperasi pada 2027.
"Menggunakan blokade seperti ini hanya bisa dilakukan sekali. Akan ada jalur-jalur lain yang digunakan untuk menyalurkan energi keluar dari Teluk Persia," kata Wright.
Meski peran selat menurun, Wright menegaskan posisi negara Teluk sebagai produsen utama tetap sangat penting bagi pasokan energi global.
"Kita akan melihat berkurangnya peran strategis Selat Hormuz, tetapi bukan berarti pentingnya produksi dan pasokan energi dari negara-negara di kawasan tersebut ikut menurun," kata Wright.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·