Iran menghadapi kesulitan signifikan untuk membuka kembali jalur Selat Hormuz setelah penyebaran ranjau laut secara acak. Kondisi ini diperparah oleh kemungkinan hilangnya sebagian ranjau tersapu arus dan minimnya catatan akurat mengenai lokasi penanaman, seperti dilaporkan New York Times mengutip pejabat Amerika Serikat.
Situasi pelik ini muncul menyusul peningkatan ketegangan di kawasan tersebut. Sebelumnya, pada 2 Maret 2026, pejabat senior Korps Pengawal Revolusi Islam (IRGC) mengumumkan penutupan jalur air vital tersebut, sekaligus memperingatkan bahwa kapal-kapal yang melintas dapat menjadi target.
Penebaran ranjau yang tidak terorganisir mengakibatkan peningkatan gangguan signifikan pada lalu lintas kapal tanker. Menurut laporan yang dihimpun dari Detik iNET, para pemilik kapal menjadi cemas akan potensi bahaya ranjau, ditambah ancaman drone dan rudal Iran.
Kekacauan ini secara tidak langsung memberikan Iran posisi tawar yang kuat dalam menekan arus energi global. Namun, strategi yang diterapkan kini berbalik menjadi bumerang bagi negara tersebut karena mereka sendiri kesulitan mengatasi masalah yang diciptakan.
Meskipun Iran berupaya mengatasi tantangan ini, termasuk dengan membuka jalur alternatif yang berisiko, namun pergerakan maritim belum kembali normal. IRGC bahkan telah mengeluarkan peringatan mengenai area yang diranjau, dan media telah menerbitkan peta rute yang dianggap lebih aman.
Pembersihan ranjau laut merupakan salah satu operasi militer paling rumit. Bahkan Amerika Serikat, yang memiliki kapal pemburu ranjau canggih, tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk membersihkan jalur air yang sangat besar dan bergejolak seperti Selat Hormuz dalam waktu singkat.
Jika militer paling kuat secara teknologi sekalipun menghadapi kendala demikian, situasi yang dialami Iran tentu jauh lebih kritis. Baik Iran maupun AS hingga saat ini tidak memiliki gambaran yang jelas mengenai jumlah ranjau yang tersisa atau lokasi pasti penyebarannya di dalam selat.
Presiden AS Donald Trump sebelumnya telah mendesak pembukaan kembali selat tersebut dengan segera dan aman. Pejabat Iran, melalui Menteri Luar Negeri Abbas Araqchi, secara tidak langsung mengakui kesulitan ini dengan menyatakan bahwa pembukaan kembali selat akan mempertimbangkan kendala teknis.
Ranjau laut sendiri adalah perangkat peledak mandiri yang ditempatkan di dalam air untuk menghancurkan kapal selam dan kapal permukaan. Ada tiga jenis ranjau laut: ranjau hanyut yang bergerak mengikuti arus, ranjau tambat yang dibatasi oleh tali dan jangkar, serta ranjau dasar yang tidak bergerak sama sekali.
Ranjau juga dapat dibedakan berdasarkan cara penyebarannya, mulai dari kapal permukaan, kapal selam pada Perang Dunia I, hingga pesawat terbang dalam jumlah besar selama Perang Dunia II. Ledakannya pun bervariasi, dari ranjau kontak yang memerlukan sentuhan fisik, hingga ranjau pengaruh yang diledakkan oleh kehadiran kapal.
Situasi ini tetap menjadi fokus perhatian global, dengan Trump sempat memperingatkan Iran tentang kemungkinan serangan baru jika perundingan di Pakistan tidak membuahkan hasil positif.
1 minggu yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·