Iran Sebut Proposal Perdamaian Amerika Serikat Jembatani Perbedaan

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Pemerintah Iran menyatakan proposal perdamaian terbaru dari Amerika Serikat berhasil menjembatani sebagian celah perbedaan untuk mengubah gencatan senjata menjadi kesepakatan permanen pada Kamis (21/5/2026), dilansir dari Bloombergtechnoz.

Teheran kini tengah merumuskan jawaban resmi terhadap draf tersebut setelah kantor berita semi-resmi Iranian Students' News Agency melaporkan penyelarasan lebih lanjut membutuhkan dihentikannya ambisi perang Washington.

Kementerian Luar Negeri Iran menjelaskan pertukaran pesan ini mengacu pada draf 14 poin usulan Iran terkait kesepakatan jangka pendek mengenai pembukaan Selat Hormuz dan pencabutan blokade pelabuhan.

Iran juga menuntut penghentian pertempuran di semua front termasuk Lebanon serta pencairan aset yang dibekukan, sementara Marsekal Lapangan Asim Munir dari Pakistan dijadwalkan mengunjungi Teheran selaku mediator utama.

Di sisi lain, perkembangan ini terjadi di tengah fluktuasi harga minyak mentah Brent yang turun ke angka US$104,70 per barel meskipun secara keseluruhan telah melonjak 45 persen sejak konflik dimulai.

Presiden AS Donald Trump menyatakan pihak Washington tengah berada dalam tahap akhir diplomasi dengan Iran yang memicu respons positif pada pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat.

Namun, ancaman kelanjutan serangan tetap dilontarkan oleh pihak Amerika Serikat apabila Iran tidak menyetujui persyaratan yang diajukan sejak gencatan senjata berlaku pada 8 April lalu.

"Kami akan mencapai kesepakatan atau kami akan melakukan beberapa hal yang sedikit tidak menyenangkan," kata Trump.

"Tapi mudah-mudahan itu tidak terjadi," kata Trump.

Isu utama lain yang mengganjal negosiasi ini adalah tuntutan Amerika Serikat agar Teheran menyerahkan cadangan uranium tingkat tinggi dan menghentikan aktivitas pengayaan nuklir selama minimal satu dekade.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan posisi negaranya melalui sebuah pernyataan tertulis bahwa mereka tidak akan tunduk pada tekanan luar.

"Memaksa Iran menyerah melalui tekanan hanyalah ilusi," tulis Pezeshkian.

Situasi sengketa juga diperumit oleh ketegangan di Lebanon antara Israel dan Hizbullah, di mana Axios melaporkan adanya percakapan tegang antara Trump dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Korps Garda Revolusi Islam kemudian mengeluarkan peringatan keras mengenai potensi perluasan wilayah perang jika agresi militer kembali dilanjutkan terhadap Iran.

"Jika agresi terhadap Iran kembali terjadi, perang regional yang sebelumnya dijanjikan kali ini akan meluas melampaui kawasan," kata Korps Garda Revolusi Islam.

Pihak militer Iran tersebut juga menyatakan kesiapan mereka untuk meluncurkan serangan balasan yang tidak terduga sebagai respons atas setiap tindakan permusuhan lanjutan.

"serangan telak di tempat-tempat yang tidak Anda duga," kata Korps Garda Revolusi Islam.