Iran Taksir Kerugian Ekonomi Akibat Konflik Capai Rp4.629 Triliun

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Pemerintah Iran mengumumkan estimasi kerugian ekonomi sebesar 270 miliar dollar AS atau setara Rp4.629 triliun akibat konflik bersenjata dengan Amerika Serikat dan sekutunya yang berlangsung selama 40 hari hingga Kamis, 16 April 2026.

Angka fantastis tersebut mencakup kerusakan masif pada berbagai sektor strategis, mulai dari fasilitas energi nasional hingga jaringan logistik yang lumpuh total. Dilansir dari Money, total kerugian ini dihitung menggunakan asumsi kurs Rp17.145 per dollar AS.

"Angka tersebut masih merupakan estimasi awal," ujar Fatemeh Mohajerani, juru bicara pemerintah Iran, sebagaimana dikutip dari Anadolu Agency. Besarnya nilai tersebut kini menjadi basis tuntutan kompensasi Iran dalam meja negosiasi internasional.

Sektor energi menjadi area yang paling terdampak mengingat kedudukan Iran sebagai produsen minyak dan gas utama. Serangan udara dilaporkan menghancurkan fasilitas produksi yang mengakibatkan terhentinya ekspor serta pasokan domestik secara drastis.

Selain infrastruktur fisik, dampak nyata terlihat pada sektor ketenagakerjaan dengan hilangnya ratusan ribu lapangan kerja. Laporan DW menyebutkan industri manufaktur dan konstruksi mengalami gangguan operasional yang menyebabkan banyak perusahaan menutup usahanya.

Tekanan ekonomi ini semakin diperparah dengan lonjakan inflasi yang menggerus daya beli masyarakat. Banyak warga dilaporkan terpaksa menjual aset pribadi demi memenuhi kebutuhan dasar akibat terputusnya rantai pasok barang di seluruh negeri.

Upaya pemulihan diperkirakan akan memakan waktu bertahun-tahun karena keterbatasan akses terhadap teknologi dan investasi asing. Kondisi fiskal negara kini berada dalam tekanan berat antara kebutuhan rekonstruksi dan stabilitas anggaran.

Isu ganti rugi tersebut kini dibahas dalam pertemuan di Islamabad, Pakistan, pada Sabtu, 11 April 2026. Wakil Presiden AS JD Vance memimpin delegasi untuk berunding dengan pihak Iran di bawah mediasi pemerintah Pakistan selama masa gencatan senjata.

Hingga saat ini, belum ada kesepakatan resmi mengenai nilai kompensasi yang diminta oleh Teheran. Negosiasi diperkirakan akan berjalan alot mengingat kompleksitas geopolitik dan besarnya nilai kerugian yang diajukan oleh pemerintah Iran.