Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menuduh Uni Emirat Arab (UEA) telah menjadi mitra aktif dalam agresi militer yang dilancarkan Amerika Serikat dan Israel terhadap Teheran pada Kamis, 14 Mei 2026. Pernyataan ini muncul di tengah laporan intelijen mengenai operasi militer rahasia dan peningkatan kerja sama keamanan di kawasan Teluk.
Araghchi melontarkan tuduhan tersebut saat menghadiri KTT BRICS di India sebagaimana dilansir AFP. Ia meyakini bahwa negara tetangganya tersebut tidak hanya berperan sebagai pendukung, melainkan terlibat langsung dalam tindakan agresi terhadap kedaulatan Iran.
"UEA adalah mitra aktif dalam agresi ini, dan tidak ada keraguan tentang hal tersebut," kata Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Diplomat senior Iran tersebut kemudian menambahkan bahwa partisipasi UEA dalam rangkaian serangan tersebut kini semakin terlihat jelas. Araghchi mensinyalir adanya tindakan militer langsung yang dilakukan pihak Abu Dhabi terhadap negaranya.
"Juga menjadi jelas bahwa mereka berpartisipasi dalam serangan-serangan ini dan bahkan mungkin telah bertindak langsung terhadap kami," ucap Araghchi, Menteri Luar Negeri Iran.
Tuduhan Iran semakin tajam setelah laporan intelijen yang dikutip The Guardian mengungkap UEA melancarkan serangan rahasia ke Pulau Lavan milik Iran sebelum gencatan senjata April lalu. Operasi militer ini menggunakan jet tempur Mirage buatan Prancis dan drone Wing Loong asal China sebagai balasan atas gempuran Iran terhadap fasilitas gas Adnoc milik UEA.
Otoritas UEA secara tegas membantah tuduhan adanya pertemuan rahasia antara Presiden Mohammad bin Zayed Al Nahyan dan PM Israel Benjamin Netanyahu di wilayah mereka. Pernyataan resmi yang dilaporkan kantor berita WAM menekankan bahwa hubungan kedua negara sepenuhnya bersifat terbuka di bawah kerangka Abraham Accords.
"Hubungan dengan Israel bersifat publik dan dibangun dalam kerangka Abraham Accords yang dikenal baik dan diumumkan secara publik. Hubungan ini tidak didasarkan pada kerahasiaan atau pengaturan rahasia," tegas otoritas UEA dalam pernyataan melalui kantor berita WAM.
Pemerintah Abu Dhabi juga menolak keras segala klaim kunjungan pejabat Israel yang tidak melalui saluran resmi. Mereka menyebut informasi yang beredar sebagai tuduhan yang sama sekali tidak memiliki dasar kuat.
"Oleh karena itu, klaim apa pun mengenai kunjungan atau pengaturan yang tidak diungkapkan ke publik, adalah tuduhan tidak berdasar, kecuali itu dirilis oleh otoritas resmi yang relevan di UEA," sebut otoritas UEA sebagaimana dilansir Al Jazeera.
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memberikan peringatan pada Senin, 11 Mei 2026, bahwa kondisi perdamaian di kawasan saat ini sangat rapuh. Ia menyoroti kegagalan Iran dalam memberikan kompromi terkait program nuklir sebagai pemicu utama keretakan tersebut.
"Gencatan senjata ini hanya bergantung pada seutas benang," ujar Trump, Presiden Amerika Serikat.
Sementara itu, mantan Duta Besar Arab Saudi, Turki al-Faisal, memperingatkan risiko perang besar yang dapat menghancurkan infrastruktur energi dan visi pembangunan kawasan. Ia mendesak agar negara-negara Teluk tidak terseret ke dalam skenario konflik yang diinginkan Israel.
"Jika rencana Israel berhasil menyulut perang antara kami dan Iran, kawasan ini akan berubah menjadi negara yang hancur lebur," tulis al-Faisal, Mantan Duta Besar Arab Saudi.
Ketegangan ini dibarengi dengan lonjakan biaya perang yang dilaporkan Pentagon mencapai hampir US$29 miliar. Selain itu, Duta Besar AS Mike Huckabee mengonfirmasi bahwa Israel telah mengerahkan sistem pertahanan udara Iron Dome ke wilayah UEA untuk menghadapi potensi balasan dari Iran.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·