ISRAEL menyatakan akan tetap menggunakan kekuatan penuh terhadap ancaman di Libanon meskipun gencatan senjata sedang berlangsung. Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz, mengatakan ia bersama Perdana Menteri Benjamin Netanyahu telah menginstruksikan militer untuk bertindak tegas.
Ia menyebut tentara diperintahkan untuk bertindak dengan kekuatan penuh, baik di darat maupun dari udara, termasuk selama gencatan senjata, guna melindungi tentara kami di Libanon dari setiap ancaman. Selain itu, militer juga diminta menghancurkan jalan yang diduga dipasangi bahan peledak, serta menghancurkan rumah-rumah di desa perbatasan yang digunakan sebagai pos teror Hizbullah.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Penghancuran di Wilayah Selatan
Menurut laporan kantor berita resmi Libanon, National News Agency (NNA) militer Israel masih melanjutkan penghancuran di wilayah selatan. NNA melaporkan musuh Israel masih menghancurkan sisa-sisa rumah di Bint Jbeil pada Ahad, setelah sehari sebelumnya terjadi pembongkaran serupa.
Laporan yang sama menyebut tentara Israel juga meledakkan rumah-rumah di Mais Al-Jabal serta melakukan operasi penyisiran dan peledakan di Deir Seryan. Kota Kunin juga dilaporkan mengalami penembakan artileri.
Gencatan Senjata 10 Hari
Gencatan senjata selama 10 hari mulai berlaku pada Jumat 17 April 2026, menghentikan sementara pertempuran antara Israel dan Hizbullah yang telah berlangsung berminggu-minggu. Namun, situasi di lapangan masih belum stabil.
Dilansir Arab News, sebagian warga yang mengungsi mulai kembali ke desa-desa di Libanon Selatan. Di Desa Dibbine, seorang warga terlihat memeriksa kerusakan rumahnya, sementara bangunan di sekitarnya tampak hancur. Di Srifa, warga lain kembali sambil membawa barang-barang seperti kasur dan mesin cuci.
Militer Israel juga mengumumkan pembentukan Yellow Line di Libanon Selatan, serupa dengan garis pemisah yang diterapkan di Jalur Gaza. Pada Ahad, militer merilis peta garis pertahanan maju yang menunjukkan area operasi mereka.
Dilansir Al Arabiya, garis tersebut membentang sekitar 5 hingga 10 kilometer ke dalam wilayah Libanon, mencakup puluhan desa yang kini berada di bawah kendali Israel.
Gencatan senjata sebelumnya tercapai setelah pertemuan tingkat tinggi pertama antara Libanon dan Israel dalam beberapa dekade. Kesepakatan itu didukung Amerika Serikat dan ditujukan membuka jalan untuk negosiasi.
Sejak konflik pecah pada 2 Maret 2026, otoritas Libanon mencatat lebih dari 2.100 orang tewas, termasuk anak-anak, dan lebih dari 1,2 juta warga mengungsi. Di sisi lain, Israel menyebut serangan Hizbullah menewaskan dua warga sipil, sementara 15 tentaranya tewas dalam operasi di Libanon.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·