Israel Gempur Beirut Incar Komandan Pasukan Radwan Hizbullah

Sedang Trending 3 jam yang lalu

Militer Israel melancarkan serangan udara ke wilayah pinggiran selatan Beirut pada Rabu, 6 Mei 2026, yang menjadi serangan perdana di sekitar ibu kota Lebanon sejak gencatan senjata bulan lalu. Operasi ini menargetkan komandan Pasukan Radwan, unit elit Hizbullah, di lingkungan padat penduduk Haret Hreik.

Dilansir dari Bloombergtechnoz, serangan tersebut melibatkan kapal perang yang melepaskan tiga rudal ke arah gedung pemukiman. Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz mengonfirmasi bahwa pasukan pertahanan mereka (IDF) berupaya melenyapkan petinggi kelompok yang didukung Iran tersebut.

Selain di ibu kota, militer Israel juga melakukan serangan di wilayah Lebanon selatan yang berbatasan langsung dengan Israel utara. Langkah militer ini diklaim sebagai upaya untuk memastikan keamanan bagi warga sipil di wilayah perbatasan yang sering menjadi sasaran operasi Hizbullah.

"Kami berjanji untuk membawa keamanan bagi penduduk di wilayah Utara. Inilah cara kami bertindak dan akan terus bertindak!" tegas Netanyahu dan Katz dalam pernyataan tersebut.

Eskalasi terbaru ini dipicu oleh peluncuran roket dan pesawat nirawak oleh milisi Lebanon ke wilayah Israel pada awal Maret. Hizbullah mengeklaim serangan itu merupakan aksi balasan atas kematian pemimpin tertinggi Iran dalam perang yang meletus sejak akhir Februari.

Data Kementerian Kesehatan Lebanon menunjukkan jumlah korban jiwa akibat konflik ini telah menembus angka 2.700 orang. Di sisi lain, puluhan warga Israel dilaporkan tewas akibat serangan Iran dan Hizbullah, sementara kelompok milisi tersebut terus kehilangan pemimpin pentingnya.

Kondisi di lapangan tetap tegang meskipun Amerika Serikat dan Iran sedang mempertimbangkan proposal baru untuk mengakhiri pertempuran. Teheran memberi peringatan keras akan menarik diri dari kesepakatan gencatan senjata jika Israel tidak menghentikan kampanye militernya di tanah Lebanon.

Di tingkat diplomatik, Perdana Menteri Lebanon Nawaf Salam menyatakan bahwa pertemuan tingkat tinggi dengan Israel masih sangat sulit direalisasikan. Situasi semakin rumit karena Hizbullah menolak menyerahkan kekuatan militernya kepada tentara nasional Lebanon yang kekurangan sumber daya.