IWFP, di jalan panjang bernama damai

Sedang Trending 50 menit yang lalu
Indonesia Walk for Peace memberi pelajaran penting bahwa perdamaian sesungguhnya tidak selalu hadir dalam forum besar dunia. Kadang ia muncul dari langkah-langkah kecil di jalan raya, dari warga yang memberi air minum kepada orang asing, dari rumah i

Surabaya (ANTARA) - Panas siang di Jalan Ahmad Yani, Kota Surabaya, pertengahan Mei itu terasa menyengat. Arus lalu lintas bergerak padat, klakson kendaraan saling bersahutan, dan orang-orang bergegas mengejar urusan masing-masing.

Namun di tengah hiruk pikuk kota, langkah-langkah pelan para biksu berjubah cokelat justru menghadirkan suasana yang berbeda. Mereka berjalan kaki tanpa tergesa, menundukkan kepala, membawa tas sederhana, dan menyusuri jalan raya dengan ketenangan yang nyaris kontras dengan ritme kota modern.

Di trotoar, warga berhenti sejenak untuk melihat. Ada pengendara yang melambat, pedagang kecil yang melambaikan tangan, anak-anak yang memotret dengan telepon genggam, hingga warga lintas agama yang ikut memberi minuman.

Pemandangan itu mungkin sederhana, tetapi di tengah dunia yang makin gaduh oleh polarisasi sosial, konflik identitas, dan ketegangan politik, perjalanan para biksu dalam Indonesia Walk for Peace (IWFP) 2026 terasa seperti pengingat yang datang pada waktu yang tepat.

IWFP bukan sekadar perjalanan spiritual menuju Candi Borobudur untuk menyambut Waisak. Lebih dari itu, ia adalah simbol tentang bagaimana Indonesia sesungguhnya dibayangkan sebagai negeri yang beragam tetapi tetap mampu berjalan bersama.

Sebanyak 57 biksu dari Thailand, Malaysia, Laos, dan Indonesia berjalan lebih dari 600 kilometer dari Bali menuju Borobudur. Mereka melintasi kota-kota di Jawa Timur, singgah di vihara, klenteng, bahkan masjid, sambil membawa pesan perdamaian dan welas asih.

Di Banyuwangi, para biksu disambut masyarakat lintas agama di klenteng Tik Liong Tian Rogojampi. Di Surabaya, rombongan mampir ke Masjid Nasional Al Akbar sebelum melanjutkan perjalanan ke vihara. Di Bali, pemerintah daerah hingga masyarakat desa ikut mengawal perjalanan mereka.

Yang menarik, sambutan hangat itu tidak hanya datang dari umat Buddha. Banyak warga Muslim, Kristen, Hindu, hingga masyarakat umum ikut membantu perjalanan tersebut. Di tengah ruang digital yang sering dipenuhi pertengkaran identitas, pemandangan semacam itu terasa semakin langka sekaligus menenangkan.

Sejumlah Bhikkhu singgah di masjid untuk istirahat sebelum melakukan perjalanan kembali ke Surabaya dalam rangka Walk For Peace 2026 di Sidoarjo, Jawa Timur, Kamis (14/5/2026). Sebanyak 56 Bihkkhu yang berasal dari Indonesia, Malaysia, Thailand dan Laos tersebut melakukan perjalanan suci dari Bali menuju Candi Borobudur sepanjang 660 km dengan membawa pesan toleransi, kedamaian universal dan harmoni sosial dalam rangka menyambut Hari Raya Waisak 2560 BE pada 31 Mei 2026. (ANTARA FOTO/Umarul Faruq/bar)


Langkah toleransi

Indonesia selama ini sering dipuji sebagai negara majemuk yang mampu menjaga kerukunan. Namun dalam beberapa tahun terakhir, tantangan terhadap toleransi semakin nyata.

Media sosial membuat perbedaan mudah dipertentangkan. Politik identitas muncul hampir dalam setiap momentum politik. Bahkan ruang publik kerap dipenuhi kecurigaan terhadap kelompok yang berbeda.

Karena itu, Indonesia Walk for Peace menjadi menarik bukan hanya karena perjalanan spiritualnya, melainkan karena ia menghadirkan toleransi dalam bentuk yang konkret dan terlihat.

Baca juga: Rayakan Waisak, 50 biksu ikut "Walk for Peace 2026" menuju Borobudur

Baca juga: 57 biksu IWFP tiba di Surabaya suarakan perdamaian dan persatuan

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.