Jatuh Bangun Suami Istri di Solo Rintis Usaha Pastel Abon, Sukses Lepas Produk Sampai Jepang

Sedang Trending 56 menit yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Munculnya wabah Covid-19 pada 2020 menjadi titik awal lahirnya usaha camilan rumahan milik pasangan suami istri asal Solo, Sri Lestari Rahayu (35) dan Candra (36). Kondisi ekonomi saat itu berubah setelah Candra, yang mulanya bekerja sebagai guru honorer harus dirumahkan karena aktivitas belajar mengajar terganggu pandemi.

Dalam keadaan yang serba tidak pasti, keduanya mulai mencari peluang usaha dari rumah. Berbekal modal terbatas, mereka sempat mencoba berjualan mi cangkir. Namun usaha itu tidak bertahan lama karena pembatasan aktivitas masyarakat semakin ketat.

Sri dan Candra kemudian mencoba beralih ke usaha camilan. Pilihan itu berawal dari resep pastel abon yang diberikan ibu Sri, yang juga mertua Candra. Resep tersebut menjadi titik balik bagi usaha mereka yang kini dikenal dengan nama CamilanQ.

Dari produk rumahan yang awalnya hanya dipasarkan lewat status WhatsApp, pastel abon dari brand CamilanQ ini kini berkembang menjadi salah satu produk UMKM Solo yang sudah dipasarkan ke berbagai kota dan bahkan pernah dibawa hingga Jepang.

“Kenapa memilih menjual pastel abon, karena awalnya jadi camilan anak-anak. Tapi ternyata banyak yang minat, jadi sekalian saja open pre order,” kata Sri saat ditemui di rumah produksi, Jalan Dr. Rajiman, Bratan, Pajang, Laweyan, Kota Surakarta, Minggu (3/5).

Dari Guru Dirumahkan, Beralih Menjadi Pelaku UMKM

Candra mengatakan bahwa pandemi saat itu membuat banyak rencana hidup berubah dalam waktu singkat. Sebagai guru honorer, ia harus menerima kenyataan bahwa pekerjaannya terhenti karena sekolah membatasi kegiatan tatap muka.

Kondisi itu membuat pasangan ini memutar otak. Mereka mencoba usaha kecil-kecilan dengan menjual mi cangkir. Saat itu, produk tersebut sempat mendapat respons baik, namun gelombang pandemi berikutnya membuat penjualan berhenti.

Setelah itu, mereka memutuskan mencari produk yang lebih memungkinkan dibuat dari rumah. Pilihan jatuh pada camilan, karena modal produksinya lebih rendah dan bisa dijalankan sambil menyesuaikan kondisi saat itu.

Resep Pastel Abon dari Orang Tua Jadi Titik Balik Rezeki

Pastel abon menjadi produk yang dipilih setelah Sri mendapat resep dari ibunya pada 2020. Saat itu, sang ibu memberi masukan agar mereka mencoba menjual camilan jadul yang mulai jarang ditemui di pasaran.

Awalnya, produk yang dijual tidak hanya pastel abon. Mereka juga membuat stik bawang dan makaroni ulir. Namun dari beberapa produk itu, pastel abon yang justru paling banyak diminati oleh pembeli.

Agar tampil lebih menarik, produk yang semula hanya dibungkus plastik dan disteples kemudian dikemas menggunakan standing pouch. Perubahan kemasan itu membuat pastel abon terlihat lebih rapi dan memiliki nilai jual lebih tinggi.

“Dulu pastel abon itu juga identik sebagai jajanan lama, jadi kami coba kemas lagi supaya lebih menarik untuk pasar sekarang, anak-anak muda Gen Z, lah,” kata Sri.

Berkali-kali Ditolak, Terus Perbaiki Produk

Perjalanan membangun usaha ini lantas tidak berjalan mudah. Sri dan Candra mengaku harus mencoba berkali-kali untuk menemukan komposisi rasa yang sesuai. Mereka juga sering membagikan tester ke kerabat dan calon pembeli untuk meminta masukan.

Tidak semua respons yang diterima positif. Beberapa orang menilai rasa produk mereka kurang pas. Ada yang menyebut terlalu hambar, ada juga yang menilai kemasannya belum menarik. Penolakan itu justru menjadi bahan evaluasi. Keduanya terus memperbaiki resep, mengganti bahan baku, hingga memastikan semua komponen produk sesuai syarat perizinan.

Candra juga menyebut proses mengurus legalitas usaha, mulai dari pendaftaran merek hingga sertifikasi, menjadi tantangan tersendiri. Semua dijalani sambil tetap memproduksi dan memasarkan produk dari rumah.

Bergabung ke Komunitas UMKM dan Mulai Masuk Pasar Lebih Luas

Setelah beberapa waktu berjalan, Sri dan Candra mulai bergabung dengan komunitas UMKM di Solo. Dari sana, mereka banyak belajar soal kemasan, termasuk cara menjangkau pasar yang lebih luas. Mereka juga mulai memberanikan diri menawarkan produk ke berbagai toko oleh-oleh dan swalayan. Tidak semua langsung menerima. Beberapa kali produk mereka ditolak setelah proses kurasi.

Tak hanya itu, kerugian juga sempat dialami karena toko yang mereka kerjasamai memasang harga terlampau tinggi hingga produk tak habis. Meski begitu, upaya tersebut perlahan membuahkan hasil. Pastel abon CamilanQ akhirnya bisa dipasarkan di sejumlah minimarket lokal dan dikirim ke luar kota, seperti Semarang.

“Awalnya kami sempat minder, karena bersaing dengan banyak UMKM lain. Tapi dari situ kami belajar kalau yang dicari konsumen itu rasa dan kualitas,” ujar Candra.

BRIncubator Membuka Jalan hingga Produk Sampai Jepang

Perkembangan usaha semakin terasa setelah CamilanQ bergabung sebagai BRIncubator pada 2025. Program tersebut memberi banyak pembelajaran bagi Sri dan Candra dalam mengelola usaha secara lebih tertata.

Melalui program itu, mereka mendapat pendampingan tentang manajemen keuangan, branding, pengurusan HAKI, hingga fasilitasi sertifikasi halal. Kesempatan itu juga membuka akses pameran dan promosi produk di berbagai tempat.

Salah satu momen penting datang saat produk mereka dipajang di Hotel Ibis Solo. Di hotel tersebut, pastel abon CamilanQ dijadikan welcoming snack untuk tamu. Dari sana, sejumlah pelanggan mulai menghubungi mereka secara langsung untuk melakukan pemesanan. Sri mengatakan, jika pengalaman itu menjadi titik penting karena produk mereka mulai dikenal lebih luas.

“Salah satu momen yang berkesan itu saat perayaan Hari Desa di Boyolali, nah ini yang mengajak adalah BRI, Rumah BUMN Solo. Dari sini pastel abon didisplay dan banyak orang luar-luar yang akhirnya tahu kalau ada produk CamilanQ pastel abon ini,” ujar Sri.

Bahkan, pastel abon buatan CamilanQ pernah dibawa kerabat ke Jepang dalam jumlah sekitar 100 kemasan standing pouch.

“Alhamdulillah pastel abon sudah sampai ke Jepang. Waktu itu kerabat kami yang order dan kebetulan di sana juga banyak yang suka, akhirnya sekitar 100 produk terbang ke sana,” tambah keduanya.

Bagi pasangan ini, pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa usaha rumahan yang dirintis dari masa sulit bisa berkembang selama dijalankan dengan sabar. Dari camilan jadul yang dulu hanya dijual di pasar, pastel abon kini berhasil mendapat tempat di pasar modern.

Rumah BUMN Solo Rangkul UMKM di Soloraya Agar Berkembang

Sementara itu, koordinator Rumah BUMN Solo, Condro Rini, mengapresiasi setiap UMKM yang memiliki keinginan untuk maju dan berkembang seperti yang dilakukan CamilanQ.

Menurutnya, produk pastel abon ini jadi salah satu UMKM unggulan lokal yang patut dicontoh. Ini karena semangat yang digerakkan oleh sang owner membuat camilan ini lebih dari sekedar produk usaha rumahan, sehingga bisa naik kelas.

“CamilanQ sendiri merupakan alumni dari BRIncubator Lokal 2025. Setelah menyelesaikan program pendampingan, mereka menjadi UMKM Unggulan Rumah BUMN Solo,” kata Condro saat dihubungi Liputan6.com pada Rabu (6/5).

Salah satu prestasi yang diraih oleh CamilanQ adalah ketika mereka mampu mengelola media sosial dengan baik dan mengikutsertakannya di kompetisi LinkUMKM untuk para alumni BRIncubator yang ada di seluruh Indonesia.

Di ajang tersebut, CamilanQ mampu konsisten dalam mengunggah konten untuk media sosial. Posisinya tak main-main, karena berhasil meraih posisi Favorit 3.

“Ajang 7days Challenge yang diadakan oleh LinkUMKM tersebut adalah untuk melatih para UMKM agar dapat konsisten dalam mengupload konten di media sosial. Kemudian, CamilanQ berhasil menjadi salah satu juara harapan sebagai bentuk promosi branding,” ujar Condro.

Condro turut berharap agar para UMKM di wilayah Soloraya bisa terus berusaha untuk mengangkat produknya sehingga bisa “Berdaya”, “Inspiratif” dan “Inovatif”. Menurutnya, kesuksesan bukan hal yang mustahil diraih para UMKM selama terus diupayakan.

“UMKM yang dapat sustain ini adalah mereka yang mau terus belajar untuk scale up. Ketika bisnis sustain, maka peluang investor atau klien-klien besar tentu juga semakin tinggi,” tambahnya.