Ribuan mangkuk bubur yang disantap warga Jakarta setiap pagi ternyata bermula dari satu kampung.
Bubur telah menjadi bagian dari budaya sarapan masyarakat urban. Di tengah ritme Ibukota yang serba cepat, semangkuk bubur hangat sering kali menjadi pilihan sederhana untuk mengawali hari. Murah, praktis, sekaligus mengenyangkan, bubur pun menjelma menjadi ‘penyelamat’ perut sebelum memulai aktivitas sejak pagi buta.
Dari sekian banyak pilihan bubur yang tersebar di Jakarta, Bubur Tambun menjadi salah satu yang paling mudah dikenali. Para pedagangnya kerap berkeliling menggunakan sepeda motor dengan gerobak menempel di bagian belakang, hingga dijuluki masyarakat sebagai “Bubur Racing”. Bahkan, jagat maya sempat dihebohkan oleh konvoi sejumlah pedagang Bubur Tambun melintasi jalanan ketika pagi buta dengan takarir ‘Telat dikit, warga Jakarta asam lambung.’
"Itu, paling telat jam 06.00 harus udah sampai di tempat dagang. Kalau lebih dari jam 06.00, nanti pelanggan-pelanggan yang berangkat kerja, sekolah, atau lain sebagainya nggak jadi beli," ujar Muamar Rizky, penjual Bubur Tambun asal Desa Satriajaya, Kecamatan Tambun Utara, Kabupaten Bekasi.
Ketika ditemui Kamis (7/5/2026), pemuda yang akrab disapa Amar ini sedang sibuk melayani pembeli. Amar tampil berbeda dari pedagang bubur gerobakan pada umumnya. Alih-alih menggunakan gerobak dorong, ia berjualan memakai motor sport merah dengan gerobak bubur di bagian belakang. Spanduk bertuliskan “Bubur Racing”, julukan yang lekat dengan para pedagang Bubur Tambun, terpasang mencolok di sisi motornya. Meski berjualan bubur di pinggir jalan, Amar tampil modis, khas Gen Z, dengan kaus hitam bergaya streetwear, celana jeans longgar, serta sepatu kulit hitam bergaya chunky.
Tangan Amar begitu telaten menyiapkan bubur beserta topping-nya. Ia menuangkan kecap asin, disusul suwiran ayam, cakwe, seledri, bawang goreng, hingga tongcai (caipo)—sawi putih kering—yang selalu diincar masyarakat dari Bubur Tambun.
"Tongcai! Itu, sih yang ngebedain dari bubur-bubur ayam kebanyakan," ucap Rindy, salah satu pelanggan setia Bubur Tambun.
Lebih lanjut, Amar mengungkapkan bahwa dirinya baru beberapa minggu mangkal di satu titik, usai lima tahun terakhir berkeliling di Komplek Permata Timur, Pondok Kelapa, Jakarta Timur. Amar mengaku dua dandang Bubur Tambun racikannya itu selalu habis tak tersisa. Ketika akhir pekan maupun hari libur, penjualan ikut meningkat dengan total 100 porsi yang laku terjual.
"Sedangkan (ketika) mangkal, kalau pelanggan mau beli bubur pagi-pagi, ya dia bisa langsung datang. Jadi, waktunya pas (dan) lebih efisien juga," ungkap Amar.
Seporsi bubur buatan Amar secara visual menyerupai bubur ala Tionghoa maupun Bandung, yakni bertekstur padat, tanpa kuah kaldu kuning, serta ditaburi tongcai untuk memberikan sensasi renyah. Meski sekilas terlihat kental, resep turun-temurun milik Amar membuat Bubur Tambun racikannya tidak terlalu encer maupun pekat.
"Malah makin lama (dibiarkan) yang penting disiapin dari awal, terus nggak diaduk-aduk (dan tetap) ditaruh di tempat styrofoam atau mangkok itu malah tambah kental," beber Amar.
Denyut Nadi Kampung Bubur Tambun
Amar bukan satu-satunya penjual Bubur Tambun yang berangkat dini hari menuju Jakarta. Di kampung asalnya di Kampung Pulo dan Kampung Buwek, Desa Sumberjaya, Kecamatan Tambun Selatan, Kabupaten Bekasi, puluhan motor serupa juga melaju hampir bersamaan setiap pagi. Sejarah Bubur Tambun bermula dari kejeniusan seorang mantan koki yang memodifikasi resep bubur khas Tionghoa, dan diperkenalkan kepada khalayak luas. Resep tersebut diwariskan kepada anak-cucu, sehingga mayoritas penduduknya kini berprofesi sebagai penjual Bubur Tambun hingga dijuluki sebagai “Kampung Bubur Tambun.”
Sejauh mata memandang, sepeda motor dengan gerobak di belakangnya menghiasi rumah-rumah warga. Menurut Amar, hal inilah yang membedakan cara berjualan Bubur Tambun dengan bubur-bubur gerobakan. Sebab, para pedagang Bubur Tambun mampu memperluas jangkauan pembeli yang kini tersebar di seluruh wilayah Jabodetabek. Sebelum menggunakan motor seperti sekarang, para pedagang Bubur Tambun lebih dulu mengandalkan sepeda untuk berjualan ke Jakarta.
"Bahkan dulu (menggunakan) sepeda lagi tahun 80-an, tuh. Bapak saya almarhum pakai sepeda. Jadi, awalnya dulu itu dari rumah sini, dagangnya ke Jakarta, itu pada nyari tempat sendiri-sendiri, (dan) itu sambil ngontrak," ungkap Amar.
Julukan “Kampung Bubur Tambun” rupanya tidak hanya lahir karena banyaknya warga yang berjualan bubur. Di kawasan tersebut, tumbuh pula berbagai usaha lain yang menopang aktivitas para pedagang Bubur Tambun. Salah satunya dilakukan Mama Arul. Selama 15 tahun terakhir, ia menyediakan berbagai kebutuhan pedagang Bubur Tambun, mulai dari beras, ayam, sayur-mayur, minyak goreng, aneka bumbu dapur, sampai tongcai. Mama Arul mengungkapkan dalam sekali belanja, para pedagang bubur bisa merogoh kocek Rp300 ribu hingga Rp900 ribu.
"Mereka rata-rata (berbelanja) setiap hari. Makanya fresh, nggak ada barang-barang yang (didiamkan) beberapa hari," ungkap Mama Arul.
Meski harus mengeluarkan modal Rp2 juta untuk kebutuhan toko, ia merasa bersyukur sebab dapat ikut membantu pedagang Bubur Tambun agar semakin dikenal luas. Terlebih, Mama Arul selalu mematok harga sesuai kondisi pasaran, terutama saat terjadi kenaikan harga di beberapa komoditas tertentu.
"Standar aja sama kayak warung-warung lain juga. Nggak ada yang dinaikin atau (permainan harga) nggak ada," tambah Mama Arul.
Merawat Warisan Ayah di Tengah Tantangan
Di tengah ekosistem Kampung Bubur Tambun yang terus bertahan hingga kini, Amar menjadi salah satu generasi penerus yang melanjutkan usaha keluarga. Amar mengingat-ingat kembali bagaimana ia merintis ‘warisan’ usaha mendiang sang ayah yang sudah berjualan Bubur Tambun sejak tahun 80-an. Saat itu, Ia sempat bekerja kontrak di sebuah perusahaan selama dua tahun. Ketika masa-masa kontrak berakhir, Amar kemudian terenyuh dengan kondisi fisik ayahnya tidak memungkinkan untuk berjualan Bubur Tambun.
"Ya udah, saya bantu-bantu dagang awalnya. Inisiatif bantu dagang, bantu keliling, bantu ngelayanin, dan pada akhirnya bisa sendiri," ucap Amar.
Berbekal niat tulus membantu orang tua, Amar lantas ikut berjualan dengan menggunakan dua sepeda motor. Selama satu bulan, sang ayah mengajarkan bagaimana menghadapi pelanggan, cara-cara menyajikan Bubur Tambun, sampai diperkenalkan sebagai penerus usahanya. Setelah itu, tekadnya semakin bulat untuk menjadi pedagang Bubur Tambun, semata-mata demi merawat ‘warisan’ berharga yang dijaga bersama saudara iparnya hingga kini.
"Jadi, saya ulik sendiri gimana caranya biar (pelanggan) tambah suka. Ya, harus rajin ngobrol sama pelanggan, (bersikap) ramah, tanya kemauan (atau) kesukaannya gimana. Jadi, (biar) pelanggan (tambah) suka," ungkap Amar.
Penggunaan teknologi komunikasi menjadi pembeda antara generasinya dengan sang ayah terdahulu dalam menjaring pelanggan setia di jalanan.
"Karena dulu pas Bapak (berjualan) nggak pernah pakai handphone, sedangkan saya pakai handphone. Jadi, jangkauannya (kepada pelanggan) lebih luas," tambah Amar.
Akan tetapi, perjalanan Amar sebagai pedagang Bubur Tambun acapkali mendapat banyak tantangan. Mulai dari persoalan cuaca, naik-turunnya minat masyarakat untuk membeli bubur, hingga menghadapi musibah yang tidak terduga. Sehingga, tak jarang Ia terpaksa pulang ke rumah, tanpa membawa pundi-pundi Rupiah.
"Entah ban bocor, rantai putus, kopling putus, kalau (misalkan) baru berangkat terus bocor atau apa, (jadinya) kan telat (sampai lokasi). Apalagi, sampai jam 07.00 pagi belum juga (tuntas diperbaiki), (otomatis) balik pulang lagi," keluh Amar.
Ritme Dini Hari dan Kejujuran
Meski begitu, Amar tetap bersyukur sebab memiliki banyak pelanggan setia yang tidak jarang memesan Bubur Tambun-nya dengan jumlah yang besar.
"Sampai saat ini, ada salah satu pelanggan pesan terus setiap bulan (sebanyak) 200 (porsi) buat ke kantornya," ucap Amar.
Di balik semangkuk Bubur Tambun yang disantap warga Jakarta setiap pagi, terdapat rutinitas panjang yang sudah dimulai sejak dini hari. Selepas berjualan, Amar bersama istri dan ibunya kembali menyiapkan aneka bumbu maupun pelengkap (topping) untuk dagangan esok hari. Sementara itu, pembuatan bubur sebagai ‘pemain utama’, memotong seledri, hingga memasak sambal kacang—ciri khas lainnya Bubur Tambun—baru dilakukan mulai pukul 03.00 WIB hingga pukul 05.00 WIB.
"Lebih awal juga (proses mempersiapkan buburnya). Misalkan ke Tangerang tuh ada teman saya mungkin dia lebih awal (memasaknya dari) jam 02.00 (atau) bahkan jam 01.00 udah mulai masak," kata Amar.
Penggunaan dandang tebal berukuran tinggi menjadi salah satu rahasia mengapa Bubur Tambun tetap hangat hingga berjam-jam. Beberapa rekan seperjuangannya bahkan mengandalkan arang sebagai penghangat tambahan untuk perjalanan jauh.
"Mungkin kalau yang pakai arang itu (adalah pedagang Bubur Tambun yang berjualan selama) 4-5 jam," tambah Amar.
Demi mempertahankan kualitas dan kebersihan Bubur Tambun-nya, Amar memastikan seluruh bahan yang telah dimasaknya habis tanpa sisa, khususnya bubur, sambal kacang, seledri, hingga tongcai.
"Pokoknya semua (baik bubur maupun pelengkapnya) harus habis. Kayak tadi, saya (memastikan) sampai semua (benar-benar) bersih," tegas Amar.
Meski rasa lelah selalu menghantui, hal itu terbayar ketika dagangannya habis terjual dan membawa penghasilan untuk keluarga.
"Ya, kurang lebih Rp300 ribu sampai Rp400 ribu bisa (dibawa pulang saat akhir pekan). Tapi, kalau hari-hari biasa paling besar saya pribadi itu Rp250 ribu sampai Rp300 ribu," ujar Amar.
Bagi Amar, menjaga Bubur Tambun bukan sekadar meneruskan usaha keluarga, tetapi juga mempertahankan nilai-nilai yang diwariskan sang ayah sejak puluhan tahun silam.
"Hal-hal yang dijaga dari Bubur Tambun itu (oleh saya pribadi) adalah kualitasnya, ciri khasnya, kebersihannya, dan attitude saat berdagang, serta yang paling utama adalah kejujuran," pungkas Amar.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·