Jejak Luka Anak-anak di Daycare Little Aresha Yogyakarta

Sedang Trending 1 jam yang lalu

POLRESTA Yogyakarta menyegel tempat penitipan anak daycare Little Aresha di Kecamatan Umbulharjo, Kota Yogyakarta, pada Jumat, 24 April 2026. Penyegelan itu dilakukan setelah Tim Satuan Reserse Kriminal Polresta Yogyakarta menggerebek tempat penitipan anak tersebut.

Polisi menggerebek salah satu daycare di Yogyakarta itu setelah menerima laporan dari seorang orang tua murid terkait dugaan kekerasan dan penganiayaan yang dialami anaknya oleh sejumlah pengasuh. Polresta Yogyakarta juga membagikan video penangkapan dua terduga pelaku penganiayaan di tempat penitipan anak tersebut.

“(Ada) oknum daycare itu yang diduga kuat melakukan tindak pidana memperlakukan anak secara diskriminatif atau menempatkan, membiarkan, melibatkan, menyuruh melibatkan anak dalam situasi perlakuan salah dan penelantaran atau kekerasan terhadap anak,” kata Kepala Satuan Reserse Kriminal Polresta Yogyakarta Komisaris Riski Adrian pada Sabtu, 25 April 2026.

Adrian menuturkan kasus ini masih dalam penyelidikan. Pihaknya masih menunggu laporan lengkap dari Unit Pelayanan Perempuan dan Anak (PPA).

Di balik proses hukum yang kini berjalan, satu per satu kisah para orang tua korban mulai terungkap. Salah satu orang tua korban, Mega, bukan nama sebenarnya, mengaku menitipkan anaknya di Little Aresha pada pertengahan 2025. Kepada Tempo, Mega mengaku memilih tempat penitipan anak itu karena terpengaruh citra baik Little Aresha di media sosial. Ia percaya tempat tersebut bisa menjadi ruang aman untuk tumbuh kembang anaknya. “Setiap orang tua tentunya ingin menyekolahkan anaknya di tempat terbaik, aku dulu juga mikirnya gitu,” kata Mega.

Pada awalnya, semua tampak berjalan normal. Namun, beberapa hari kemudian, Mega mulai merasa ada yang janggal. Ia heran karena pihak daycare tidak menyediakan grup WhatsApp bagi orang tua murid.

Saat Mega menanyakan alasan tidak adanya grup khusus itu, pihak daycare memberi jawaban yang justru membuatnya semakin curiga. Menurut Mega, pengelola beralasan para orang tua tidak setuju dengan pembuatan grup tersebut “Kami justru takut kalau mama tidak bisa los (lepas) dengan kami, karena orang tua bisa bikin anak tidak betah,” ujar Mega menirukan alasan pihak Little Aresha.

Rasa janggal itu semakin kuat setelah sebulan anaknya berada di Little Aresha. Mega melihat anaknya menunjukkan tanda-tanda trauma dan ketakutan setiap kali dititipkan di tempat tersebut.

Kecurigaan Mega memuncak ketika ia menemukan bekas luka pada tubuh anaknya sepulang dari daycare. Ia melihat bekas cubitan dan cakaran pada tubuh buah hatinya.

Pada awalnya, Mega tidak langsung mempertanyakan bekas cubitan itu kepada pemilik daycare. Namun, sehari kemudian, ia kembali menemukan luka cakaran di tubuh anaknya. Saat itu, ia meminta penjelasan kepada pihak Little Aresha. Akan tetapi, pengelola tidak memberikan penjelasan yang memadai mengenai luka tersebut. “Jawabannya seperti template, karena memang baru banget di sana jadi banyak tanya, banyak hal janggal dan enggak sinkron antara cerita anak dan keterangan pihak daycare,” ujarnya.

Setelah kejadian itu, Mega memilih tidak membawa kasus tersebut ke jalur visum. Ia memutuskan segera mengeluarkan anaknya dari Little Aresha setelah menduga buah hatinya mengalami kekerasan di tempat penitipan anak itu.

Tempo berupaya mengonfirmasi cerita ini kepada anak pemilik Little Aresha melalui akun Instagram @xintxxputri. Namun, akun tersebut sudah tidak lagi dapat diakses ketika Tempo kembali mencoba meminta konfirmasi.

Pilihan Editor: Bisakah Pelecehan Seksual Verbal Grup Percakapan Dipidanakan