Tokyo (ANTARA) - Jepang mencatatkan defisit perdagangan sebesar 1,71 triliun yen (1 yen = Rp107) pada tahun fiskal 2025, menandai lima tahun berturut-turut mengalami defisit, seiring tarif lebih tinggi dari Amerika Serikat (AS) yang diberlakukan sejak April 2025 membebani ekspor mobil.
Demikian menurut data pemerintah yang dirilis pada Rabu (22/4).
Kementerian Keuangan Jepang menyampaikan dalam sebuah laporan awal bahwa untuk tahun fiskal dari April 2025 hingga Maret 2026, ekspor naik 4 persen dari tahun sebelumnya menjadi 113,24 triliun yen, didukung oleh permintaan akan semikonduktor dan perangkat elektronik lainnya.
Sementara itu, impor naik tipis 0,5 persen menjadi 114,96 triliun yen di tengah kenaikan harga platinum dan logam nonfero lainnya.
Pengiriman barang ke AS turun 6,6 persen, menandai penurunan pertama dalam lima tahun, dengan ekspor mobil merosot tajam sebesar 15,9 persen.
Untuk Maret saja, Jepang mencatatkan surplus perdagangan sebesar 667 miliar yen, naik 25,9 persen dari tahun sebelumnya seiring ekspor naik 11,7 persen dan impor meningkat 10,9 persen.
Impor minyak mentah naik untuk bulan ketiga berturut-turut berdasarkan volume, meningkat 2,4 persen.
Pewarta: Xinhua
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·