Pemerintah Jerman mengintensifkan pendekatan diplomatik terhadap negara-negara Teluk guna mengamankan dan melindungi pasokan energi nasional yang terancam akibat konflik di Selat Hormuz. Langkah ini dilakukan dengan menawarkan bantuan nyata seperti sistem pertahanan udara, sebagaimana dilansir dari Detikcom.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul memimpin mesin lobi tersebut melalui serangkaian pertemuan padat. Pada Senin (18/05), Wadephul menerima kunjungan Menteri Luar Negeri Turki Hakan Fidan, lalu melanjutkan agenda dengan konferensi keamanan energi Ukraina bersama Kementerian Ekonomi Jerman.
Ukraina dinilai sukses menjaga infrastruktur energinya dari serangan Rusia selama lebih dari empat tahun perang, sebuah pengalaman yang kini dipelajari Jerman. Setelah itu, Wadephul menemui Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab Sheikh Abdullah bin Zayed dan Putra Mahkota Yordania Hussein bin Abdallah.
Kanselir Jerman Friedrich Merz sebelumnya telah mengisyaratkan perubahan haluan diplomasi ini pada akhir April, sekitar dua bulan pasca-pecahnya perang antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran. Merz menyatakan ketidakpuasannya terhadap strategi yang diambil oleh Washington dan Tel Aviv.
"Karena itu kami, sebagai bagian dari Eropa, ingin terus mendorong solusi diplomatik. Kami tetap berkoordinasi erat dengan pihak Amerika, tetapi juga memiliki gagasan Eropa sendiri mengenai bagaimana konflik ini harus diselesaikan," kata Kanselir Jerman Friedrich Merz.
Melalui pernyataan tersebut, Berlin kini mengalihkan fokus pada negara-negara Teluk yang ikut menghadapi ancaman akibat sokongan Rusia terhadap Iran. Hubungan ini dinilai krusial karena Amerika Serikat dianggap gagal menjadi pelindung kawasan.
"Tidak semua negara Teluk bisa dipukul rata, tetapi inti persoalannya adalah soal keandalan," kata Kepala biro DW di Berlin, Max Hofmann.
Hofmann menambahkan bahwa negara-negara Teluk mulai melihat Jerman sebagai mitra menarik karena konsistensinya pada tatanan internasional. Kegagalan strategi mediasi antara Barat dan Iran membuat kawasan tersebut mencari alternatif perlindungan.
"Strategi mereka untuk menjadi mediator antara Iran dan Barat telah gagal. Dalam situasi seperti ini, Jerman kembali terlihat menarik karena tetap berpegang pada tatanan internasional berbasis aturan," ujar Kepala biro DW di Berlin, Max Hofmann.
Selain negara Teluk, Wadephul juga menemui Sultan Brunei Haji Hassanal Bolkiah selaku pemegang presidensi ASEAN. ASEAN menjadi pihak yang terdampak langsung oleh penutupan Selat Hormuz oleh Iran, sehingga pembukaan jalur pelayaran tersebut menjadi prioritas bersama.
"Cepat atau lambat selat itu akan dibuka kembali. Negara-negara Teluk juga sedang mengembangkan rute transportasi alternatif," ucap Kepala biro DW di Berlin, Max Hofmann.
Hofmann memproyeksikan kawasan Teluk dapat bertransformasi menjadi pemasok hidrogen hijau bagi Jerman di masa depan. Kerja sama jangka panjang ini dikonfirmasi telah dirintis sejak sebelum perang Iran pecah.
"Dalam jangka panjang, kawasan ini bahkan bisa memainkan peran penting sebagai pemasok hidrogen hijau bagi Jerman," kata Kepala biro DW di Berlin, Max Hofmann.
Kepala program regional Konrad-Adenauer-Stiftung di Amman, Philipp Dienstbier, menyebut langkah Berlin ini bukan hal mengejutkan. Kanselir Merz dan Menteri Ekonomi Katherina Reiche sudah lebih dulu mengunjungi kawasan tersebut demi kemitraan strategis.
"Bahkan sebelum perang Iran pecah, Kanselir Merz dan Menteri Ekonomi Katherina Reiche sudah mengunjungi kawasan Teluk untuk menunjukkan minat terhadap kerja sama strategis jangka panjang," kata Kepala program regional Konrad-Adenauer-Stiftung di Amman, Philipp Dienstbier.
Dienstbier menilai bahwa perhatian Berlin terhadap wilayah Teluk memang telah lama masuk dalam agenda prioritas. Namun, dia menekankan perlunya tindakan konkret selain dukungan politik belaka.
"Ini menunjukkan bahwa kawasan Teluk memang sudah berada di posisi penting dalam agenda Berlin." ujar Kepala program regional Konrad-Adenauer-Stiftung di Amman, Philipp Dienstbier.
Jerman diharapkan segera merealisasikan bantuan militer taktis untuk memperkuat posisi tawarnya. Bantuan pertahanan menjadi poin krusial yang dinantikan oleh negara-negara mitra di kawasan Teluk.
"Jerman harus menawarkan kerja sama yang lebih erat di bidang pertahanan udara dan penanggulangan drone," tutur Kepala program regional Konrad-Adenauer-Stiftung di Amman, Philipp Dienstbier.
Agresivitas diplomasi Wadephul ini juga bertalian erat dengan ambisi politik luar negeri Jerman di kancah global. Jerman tengah membidik kursi tidak tetap di Dewan Keamanan PBB yang pemungutan suaranya akan digelar oleh Majelis Umum PBB pada 3 Juni mendatang, bersaing dengan Austria dan Portugal.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·