Jumlah Kelas Menengah Indonesia Menyusut Menjadi 16,9 Persen

Sedang Trending 3 hari yang lalu

Laporan Katadata Indonesia Middle Class Insight (KIMCI) 2026 yang dirilis pada Kamis (16/4/2026) mengungkapkan bahwa populasi kelas menengah di Indonesia mengalami penyusutan signifikan menjadi 16,9 persen. Penurunan ini terpantau dari posisi sebelumnya yang mencapai 21,5 persen pada tahun 2019 silam.

Data tersebut menunjukkan adanya pergeseran struktur ekonomi, di mana kelompok menuju kelas menengah atau aspiring middle class justru melonjak hingga 48,8 persen. Meskipun jumlahnya berkurang, dilansir dari Money, kelompok kelas menengah tetap mendominasi dengan menyumbang 81,5 persen dari total konsumsi rumah tangga nasional pada 2024.

Riset yang disusun Katadata Insight Center (KIC) melalui survei terhadap 1.000 responden ini mencatat bahwa pengeluaran rumah tangga berkontribusi sebesar 58,8 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB). Kondisi ini menempatkan kelas menengah sebagai tulang punggung stabilitas ekonomi nasional sekaligus motor penggerak konsumsi utama.

Tekanan ekonomi saat ini tercermin dari alokasi pendapatan harian, di mana 40,5 persen upah digunakan untuk konsumsi rutin dan 16,4 persen terserap untuk cicilan. Akibatnya, sebanyak 63,6 persen responden mengaku pernah mengalami situasi pengeluaran yang lebih besar daripada penghasilan bulanan mereka.

"Mudah-mudahan KIMCI di tahun keduanya bisa menjadi acuan untuk memahami peta lanskap middle class di Indonesia," ujar Metta Dharmasaputra, Co-founder & CEO Katadata Indonesia. Ia berharap hasil riset ini menjadi dasar pemahaman kondisi ekonomi kelompok tersebut.

Guna menjaga ketahanan finansial, sebanyak 46,3 persen kelas menengah kini menjalankan pekerjaan sampingan atau side hustle. Motivasi utama dari aktivitas tambahan ini adalah meningkatkan pendapatan sebesar 53,1 persen dan menambah alokasi tabungan darurat sebanyak 41,5 persen.

Sektor hunian, pendidikan, dan kesehatan menjadi tiga beban utama yang menekan ruang fiskal rumah tangga. Sebanyak 35 persen responden mengeluhkan mahalnya harga rumah, sementara biaya kesehatan dianggap sebagai risiko finansial terbesar yang dapat menguras tabungan di masa tua.

Kecemasan terhadap masa depan juga meningkat dengan 62,3 persen responden mengkhawatirkan penurunan kondisi kesehatan. Sebagai langkah antisipasi, 64,2 persen masyarakat mulai menerapkan pola hidup sehat dan 56,7 persen lainnya berupaya menyiapkan dana darurat secara mandiri.