PT Kereta Api Indonesia (Persero) mencatat lonjakan volume penumpang pada kuartal I 2026 yang didorong oleh peningkatan aksesibilitas transportasi di berbagai wilayah. Dilansir dari Money, pertumbuhan ini terlihat pada layanan KA Pariaman Ekspres dan aktivitas penumpang di Stasiun Pegaden Baru, Subang, sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Volume penumpang KA Pariaman Ekspres mencapai 382.748 orang pada kuartal I 2026, atau mengalami kenaikan sebesar 10,16 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pada tahun sebelumnya, layanan yang menempuh rute Pauh Lima–Padang–Naras ini tercatat melayani sebanyak 347.459 pelanggan.
“Peningkatan ini mencerminkan mobilitas masyarakat yang semakin tinggi, sekaligus menunjukkan bahwa perjalanan jarak dekat kian menjadi bagian dari rutinitas harian maupun aktivitas akhir pekan,” kata Vice President Public Relations KAI Anne Purba dalam keterangan resmi, Minggu (19/4/2026).
Manajemen KAI telah menambah frekuensi operasional KA Pariaman Ekspres menjadi lima perjalanan pulang pergi setiap hari seiring pemberlakuan Gapeka 2025. Kereta ini melintasi jalur sepanjang 75 kilometer yang menghubungkan area perkotaan dengan kawasan pesisir di Sumatera Barat.
“Dengan tarif yang terjangkau sebesar Rp 5.000, layanan ini menjadi alternatif transportasi yang praktis dan ekonomis, baik untuk kebutuhan harian maupun perjalanan rekreasi,” lanjut Anne.
Rute perjalanan ini menyuguhkan pemandangan laut dan pohon kelapa, dengan akses langsung menuju destinasi wisata seperti Pantai Gandoriah di Pariaman. Fasilitas transportasi ini menghubungkan sejumlah titik penting termasuk Alai, Air Tawar, Tabing, hingga Lubuk Alung.
“KA Pariaman Ekspres menjadi bagian dari perjalanan masyarakat, baik untuk aktivitas rutin maupun saat ingin menikmati waktu di akhir pekan,” ujar Anne.
Perusahaan menyatakan komitmennya untuk terus memantau kualitas layanan agar tetap relevan dengan kebutuhan pengguna jasa. Hal ini mencakup aspek kenyamanan perjalanan di setiap rute yang dilalui.
“Perjalanan yang singkat ini menghadirkan pengalaman yang berbeda di setiap rutenya,” kata Anne.
KAI juga melakukan penyesuaian layanan secara berkala berdasarkan dinamika lapangan dan ekspektasi para pelanggan. Evaluasi dilakukan untuk memastikan operasional tetap optimal mendukung mobilitas publik.
“Anne menambahkan, KAI terus melakukan evaluasi layanan dengan mendengarkan masukan pelanggan serta menyesuaikan dengan kebutuhan perjalanan saat ini,” lapor Money.
Bagi warga yang mencari opsi liburan yang terjangkau, moda transportasi ini diposisikan sebagai solusi perjalanan yang efisien. Perjalanan dari pusat kota menuju daerah pesisir kini dapat ditempuh dengan waktu yang lebih ringkas.
“Bagi masyarakat yang ingin mengisi akhir pekan dengan cara yang sederhana, perjalanan ini bisa menjadi pilihan,” tutup Anne.
Pihak manajemen menekankan bahwa konektivitas yang baik akan meninggalkan kesan positif bagi para penumpang selama di perjalanan.
“Dari kota menuju pesisir, perjalanan terasa ringkas, dengan pengalaman yang tetap berkesan,” ujar Anne.
Selain layanan komuter, mobilitas penumpang jarak jauh di Stasiun Pegaden Baru, Kabupaten Subang, juga menunjukkan tren positif. Jumlah penumpang yang berangkat mencapai 16.110 orang pada kuartal I 2026, meningkat tajam dari angka 3.252 orang pada periode yang sama tahun 2022.
| 2022 | 3.252 | 3.146 |
| 2023 | 8.488 | 8.422 |
| 2024 | 12.430 | 12.612 |
| 2025 | 12.847 | 14.142 |
| 2026 | 16.110 | 16.063 |
“Kenaikan serupa juga terlihat pada jumlah pelanggan yang turun di stasiun tersebut,” ujar Anne.
Stasiun ini kembali diaktifkan untuk melayani naik turun penumpang kereta api jarak jauh guna memfasilitasi kebutuhan warga Subang. Sebelumnya, masyarakat di wilayah tersebut harus menuju Stasiun Haurgeulis atau Bandung untuk mengakses layanan kereta api.
“Dari 3.146 orang pada 2022, jumlahnya melonjak menjadi 8.422 pada 2023, lalu 12.612 pada 2024, meningkat menjadi 14.142 pada 2025, dan kembali bertambah hingga 16.063 pelanggan pada kuartal I 2026,” kata Anne.
Saat ini, Stasiun Pegaden Baru melayani berbagai rangkaian kereta seperti KA Gunungjati, KA Bengawan, hingga KA Tawang Jaya Premium. KAI menilai antusiasme warga cukup tinggi setelah stasiun ini kembali beroperasi penuh.
“Kami melihat antusiasme masyarakat yang terus tumbuh,” ujar Anne.
Perubahan pola mobilitas ini memudahkan warga dalam merencanakan perjalanan baik untuk urusan pekerjaan maupun kepentingan pribadi. Pegaden Baru kini menjadi titik sentral keberangkatan bagi wilayah sekitarnya.
“Pegaden Baru kembali digunakan sebagai titik keberangkatan dan kedatangan, seiring kebutuhan perjalanan yang semakin beragam,” ujar Anne.
Keberadaan akses kereta api di Subang dinilai strategis karena mendukung konektivitas menuju potensi daerah dan kawasan ekonomi seperti Pelabuhan Patimban. Hal ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lokal secara berkelanjutan.
“Perjalanan dengan kereta api kini semakin mudah dijangkau,” kata Anne.
Integrasi antarwilayah melalui moda kereta api diharapkan terus memperluas pilihan transportasi bagi masyarakat luas.
“Masyarakat dapat menyesuaikan rencana perjalanannya, baik untuk aktivitas rutin maupun momen di akhir pekan,” kata Anne.
Pengembangan layanan ke depan akan terus mempertimbangkan aspirasi pengguna untuk menciptakan ekosistem transportasi yang lebih baik.
“Masukan dari pelanggan menjadi bagian penting dalam pengembangan layanan kami,” ujar Anne.
Konektivitas yang semakin luas diharapkan mampu menjadikan perjalanan kereta api sebagai bagian tak terpisahkan dari gaya hidup masyarakat di berbagai daerah.
“Dengan konektivitas yang semakin luas, perjalanan dapat direncanakan dengan lebih mudah dan menjadi bagian dari aktivitas masyarakat di berbagai wilayah,” tegas Anne.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·