Volume pengguna KRL Commuter Line di wilayah Jabodetabek mengalami lonjakan signifikan di seluruh rute operasional pada periode 2022 hingga awal 2026. Pertumbuhan ini didorong oleh perbaikan layanan, peningkatan kapasitas, serta kemudahan akses perpindahan antarmoda yang semakin terintegrasi dan terjangkau bagi masyarakat.
Kenaikan jumlah penumpang terjadi di lima lintas utama, yakni lintas Bogor, Cikarang, Rangkasbitung, Tangerang, dan Tanjung Priok. Berdasarkan data yang dihimpun, pergeseran pola mobilitas ini mencerminkan tingginya ketergantungan warga terhadap transportasi publik yang efisien, sebagaimana dilansir dari Detik Finance.
Vice President Corporate Communication KAI Anne Purba menjelaskan bahwa transformasi perilaku bertransportasi masyarakat berbanding lurus dengan keandalan sistem yang ditawarkan oleh operator.
"Ketika sistem transportasi dibangun dengan lebih andal, masyarakat akan mengikuti dengan sendirinya. Pilihan menggunakan transportasi publik muncul karena layanan memberi kemudahan, keterjangkauan, kepastian, dan rasa aman," ujar Anne dalam keterangannya, Minggu (26/4/2026).
Data operasional menunjukkan lintas Bogor mencatat lonjakan dari 102.054.022 penumpang pada 2022 menjadi 155.009.997 orang pada 2025. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, jumlah pengguna di rute tersebut telah mencapai 38.203.481 penumpang.
Peningkatan juga terlihat di lintas Cikarang yang melayani 55.660.235 penumpang pada 2022 dan naik menjadi 85.936.774 penumpang pada 2025. Pada tiga bulan pertama 2026, tercatat sebanyak 21.717.664 orang telah menggunakan layanan di lintas tersebut.
Di lintas Rangkasbitung, angka penumpang tumbuh dari 43.317.716 pada 2022 menjadi 77.552.716 pada 2025, dengan total 20.197.205 penumpang pada awal 2026. Lintas Tangerang turut mencatat kenaikan dari 15.333.812 orang di 2022 menjadi 27.280.453 orang di 2025, sementara awal tahun 2026 tercatat 6.987.364 penumpang.
Terakhir, lintas Tanjung Priok mencatat pertumbuhan dari 1.599.107 pelanggan di 2022 menjadi 3.531.311 pelanggan pada 2025. Per Maret 2026, jumlah penggunanya telah menyentuh angka 873.658 pelanggan.
Efisiensi biaya melalui tarif yang kompetitif memungkinkan masyarakat mengalokasikan anggaran untuk kebutuhan lain yang lebih produktif. Anne juga menyoroti dampak positif peralihan moda ini terhadap kondisi lingkungan dan kelancaran lalu lintas di jalan raya.
"Perubahan pilihan moda juga berdampak pada kondisi jalan. Kepadatan lalu lintas berkurang, perjalanan menjadi lebih lancar, dan risiko kecelakaan dapat ditekan. Lingkungan ikut membaik karena berkurangnya polusi karena penggunaan kendaraan pribadi," kata Anne.
Pihak KAI menilai infrastruktur yang memadai akan membentuk kebiasaan jangka panjang dalam penggunaan moda transportasi publik. Integrasi jaringan dan peningkatan kapasitas diharapkan dapat menjaga keberlanjutan minat masyarakat dalam berpindah dari kendaraan pribadi ke kereta api.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·