Pilot project pengelolaan sampah berbasis circular economy mulai dijalankan untuk mendukung transportasi publik yang lebih bersih, modern, dan berkelanjutan
Jakarta (ANTARA) - KAI Group memperkuat komitmen keberlanjutan melalui peluncuran program Waste Management Terintegrasi yang dimulai di Hall Stasiun Gambir, Jakarta pada Kamis, (21/5). Program ini menjadi langkah strategis dalam membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, terukur, dan terintegrasi di lingkungan operasional perkeretaapian.
Kegiatan tersebut dihadiri oleh Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa, Wakil Menteri Lingkungan Hidup Republik Indonesia Faisal Malik, jajaran Kementerian Lingkungan Hidup, pemerintah daerah, mitra pengelola lingkungan, serta manajemen KAI Services dan stakeholder terkait lainnya.
Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa mengatakan tingginya mobilitas pelanggan kereta api berbanding lurus dengan meningkatnya tantangan pengelolaan sampah di kawasan stasiun dan operasional perkeretaapian.
“Mobilitas pelanggan kereta api terus meningkat setiap harinya. Di balik pertumbuhan tersebut, terdapat tantangan besar yang harus dikelola bersama, termasuk pengelolaan sampah di area pelayanan publik. Karena itu, KAI Group memandang pengelolaan sampah harus dilakukan secara lebih terintegrasi, mulai dari pemilahan, pengangkutan, pengolahan, hingga pemanfaatan kembali agar memberikan dampak lingkungan yang lebih baik,” ujar I Gede.
Ia menambahkan, penguatan pengelolaan sampah menjadi bagian penting dalam mendukung transformasi transportasi publik yang semakin ramah lingkungan dan berkelanjutan.
Sebagai tahap awal implementasi, Stasiun Gambir dipilih menjadi lokasi pilot project karena merupakan salah satu simpul transportasi utama dengan volume mobilitas pelanggan yang tinggi. Setiap harinya, kawasan stasiun menghasilkan timbulan sampah dari aktivitas penumpang, tenant, operasional perjalanan kereta api, hingga area pelayanan publik lainnya.
Secara keseluruhan, total timbulan sampah di lingkungan KAI Group saat ini mencapai sekitar 1.854 ton per tahun atau lebih dari 4,3 ton per hari. Kondisi tersebut mendorong perlunya sistem pengelolaan sampah yang lebih modern, terukur, dan mampu mengurangi ketergantungan terhadap tempat pembuangan akhir (TPA).
Melalui program ini, KAI Group bersama KAI Services akan mengembangkan sistem pengelolaan sampah terpadu berbasis circular economy melalui pembangunan fasilitas TPS3R modern, penguatan waste sorting, pengolahan sampah organik dan anorganik, hingga pengembangan potensi konversi sampah menjadi energi ramah lingkungan.
Direktur Utama KAI Services Krisna Arianto mengatakan transformasi pengelolaan sampah menjadi bagian dari penguatan layanan transportasi publik yang semakin memperhatikan aspek lingkungan dan keberlanjutan.
“Program Waste Management Terintegrasi ini kami siapkan untuk membangun sistem pengelolaan sampah yang lebih efektif, terukur, dan berkelanjutan. Kami ingin menciptakan lingkungan stasiun yang lebih bersih dan nyaman sekaligus mendorong terbentuknya budaya peduli lingkungan di kawasan transportasi publik,” ujar Krisna.
Program tersebut juga akan didukung melalui pemanfaatan teknologi digital untuk monitoring tonase sampah, proses pemilahan, pengangkutan, hingga pengolahan secara lebih akurat dan transparan. Implementasi program dilakukan melalui kolaborasi antara KAI Group, KAI Services, Kementerian Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup, mitra pengelola lingkungan seperti Enviro, Kepul.id, PT Anak Bangsa Juara, serta partisipasi masyarakat dan pelanggan kereta api.
KAI Group menargetkan roadmap pengembangan program berlangsung bertahap sepanjang 2026–2029 melalui penerapan sistem pengelolaan sampah terintegrasi di stasiun-stasiun besar dan wilayah operasional strategis lainnya.
Melalui transformasi ini, KAI Group berharap pengelolaan sampah di kawasan transportasi publik dapat memberikan dampak lingkungan yang lebih positif, mendukung pengurangan emisi karbon, meningkatkan kualitas pelayanan, sekaligus memperkuat ekosistem transportasi publik Indonesia yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
2 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·