Kartini tanpa tanda jasa, "Panggil aku Dewi Kartika saja"

Sedang Trending 1 jam yang lalu
Jadi saya ingin terus mengajar anak-anak, meninggalkan kenangan yang bagus. Saya tidak mau terpuruk di rumah hanya tidur do nothing. Jadi tetap mengajar

Kuala Lumpur (ANTARA) - "Panggil aku Dewi Kartika saja". Kalimat itu terlintas di benak ketika bertemu Dewi Kartikaningrat, guru Sekolah Indonesia Kuala Lumpur (SIKL) yang mengabdikan diri mendidik anak-anak diaspora Indonesia di Kuala Lumpur, Malaysia, di tengah perjuangannya berdamai dengan kanker payudara.

Keteguhan dan perjuangan Dewi Kartika dalam mengajar anak-anak diaspora mengingatkan pada sosok pahlawan nasional Raden Ajeng Kartini sebagaimana tergambar dalam buku analisis biografi RA Kartini, yang ditulis sastrawan terkenal Pramoedya Ananta Toer berjudul "Panggil Aku Kartini Saja" – sebuah judul yang dikutip Pram dari petikan isi korespondensi Kartini kepada sahabat penanya Estelle "Stella" Zeehandelaar tahun 1899.

Dalam bukunya, Pramoedya Ananta Toer menggambarkan Kartini bukan sekadar simbol emansipasi, melainkan juga pejuang hak atas pendidikan. Dalam pembacaan Pram, Kartini bukan sosok dengan dukungan massa besar atau kekuatan materi berlimpah; yang ia miliki adalah kepekaan dan keprihatinan.

Kepekaan dan keprihatinan itulah yang terasa hidup dalam diri Dewi Kartikaningrat—dalam pengabdiannya sebagai “Kartini tanpa tanda jasa”. Ia mengajar anak-anak Indonesia di negeri orang, menghadapi beragam risiko dan keterbatasan, mulai dari persoalan administratif hingga potensi ancaman yang tak selalu kasatmata.

Dewi Kartikaningrat lahir di Yogyakarta, 25 September 1971. Darah pendidik mengalir kuat dalam dirinya. Ia merupakan anak sulung dari empat bersaudara, lahir dari pasangan orang tua yang sama-sama berprofesi sebagai guru.

Lingkungan itulah yang membentuknya sejak dini. Nuansa dunia pendidikan begitu lekat dalam kesehariannya, hingga ketika menempuh pendidikan tinggi, ia memilih jurusan pendidikan bahasa Inggris di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Yogyakarta—yang pada 1996 bertransformasi menjadi Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Semasa kuliah, Dewi sudah aktif mengajar. Sejak semester tiga, ia membuka kursus bahasa Inggris bagi anak-anak di sekitar rumahnya—mulai dari anak tetangga hingga anak tukang becak.

Ia mengenang, beberapa muridnya kala itu tidak mampu membayar biaya kursus. Sebagai gantinya, mereka memberinya tiga potong pisang goreng. Sebuah imbalan sederhana yang justru menyentuh hatinya.

Memasuki semester tujuh, Dewi juga menjalani praktik mengajar di SMP Negeri 2 dan SMA Berbudi di Yogyakarta. Dengan upah yang tak seberapa, ia tetap menjalaninya dengan penuh syukur, hingga akhirnya menamatkan pendidikannya pada 1996.

Baca juga: Indonesia tegaskan kontribusi R.A. Kartini lewat pameran di Paris

Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.