Kasus Hantavirus Terdeteksi di Jawa Timur Sejak Januari 2026

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Satu kasus Hantavirus dilaporkan telah terdeteksi di wilayah Jawa Timur sejak awal Januari 2026. Kepala Dinas Kesehatan Jawa Timur, dr Erwin Ashta Triyono, menyatakan pada Rabu (13/5/2026) bahwa pasien yang sempat terinfeksi virus tersebut kini telah dinyatakan sembuh total.

Temuan kasus perdana di tahun 2026 ini dikonfirmasi berdasarkan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan. Informasi mengenai kesembuhan pasien tersebut disampaikan oleh dr Erwin saat berada di Rumah Sakit Ibu dan Anak IBI Surabaya sebagaimana dilansir dari Detikcom.

"Kalau data dari Kemenkes ada satu pasien bulan Januari. Tapi pasiennya sudah baikan, sudah sembuh," kata dr Erwin kepada wartawan di RS Ibu dan Anak IBI Surabaya, dilansir detikJatim, Rabu (13/5/2026).

Diagnosis awal terhadap pasien dewasa tersebut sebenarnya adalah leptospira atau penyakit kencing tikus yang dipicu bakteri spiroset. Pasien sempat menjalani perawatan intensif di RSUD dr Soetomo karena menunjukkan gejala medis yang cukup serius.

Lantaran kondisi fisik pasien menunjukkan gejala demam tinggi disertai kondisi kulit yang menguning, pihak Kementerian Kesehatan memberikan instruksi untuk melakukan pengujian tambahan terkait potensi infeksi Hantavirus.

"Kemudian karena demam dan kuning, sehingga sama Menkes di dorong untuk pemeriksaan Hantavirus. Dan ternyata positif. Tapi sudah bagus sehingga sekarang sudah enggak ada kasus lagi laporan dari pusat. Dan itu kasusnya Januari 2026," jelas dr Erwin.

Hantavirus dikenal sebagai penyakit yang ditularkan melalui tikus, sehingga faktor kebersihan lingkungan menjadi aspek krusial dalam pencegahan. Masyarakat diminta untuk lebih waspada terhadap produk-produk atau area yang berpotensi tercemar kotoran hewan pengerat tersebut.

Hingga saat ini, belum ditemukan bukti adanya transmisi virus ini antarmanusia di wilayah Jawa Timur. Langkah antisipasi difokuskan pada pemutusan rantai kontak antara manusia dengan vektor pembawa virus, yakni tikus liar.

"Pokoknya jangan sampai kita terkontaminasi atau kontak dengan produk-produk yang terkontaminasi oleh tikus gitu aja. Itu yang lebih banyak. Meskipun belum terdeteksi ya antara penularan manusia ke manusia," urai dr Erwin.