Para peneliti dari Baycrest Corporate Centre for Geriatric Care, University of Toronto, dan York University menemukan bahwa pola bicara tertentu dapat menjadi indikator awal penurunan kognitif dan risiko demensia yang tinggi melalui analisis kecerdasan buatan (AI).
Studi yang dipublikasikan dalam Journal of Speech, Language, and Hearing Research tersebut menguji partisipan untuk mendeskripsikan gambar secara lisan, lalu menganalisis kecepatan dan kelancaran bicaranya menggunakan sistem AI.
Akurasi alat analisis berbasis kecerdasan buatan ini dilaporkan mencapai 75 hingga 78 persen dalam mengidentifikasi risiko penurunan kognitif dan memprediksi perkembangan penyakit Alzheimer dalam waktu enam tahun.
Dr. Heather Whitson, seorang profesor terkemuka di bidang neurosains di Duke School of Medicine, memberikan pandangannya mengenai dampak demensia pada kemampuan berbahasa.
"We know that language is one of the domains of cognition that can be really affected by dementia, and certain types of dementia more than others, but in all types of dementia, difficulty finding common words is a feature that we look for, and that we know occurs," kata Dr. Heather Whitson, Profesor Neurosains di Duke School of Medicine.
Meskipun demikian, para ahli menegaskan bahwa lupa memilih kata atau menyebut nama tempat secara keliru merupakan hal yang wajar dalam proses penuaan yang sehat.
Dr. Carolyn Fredericks dari Yale School of Medicine menjelaskan perbedaan antara penuaan normal dan indikasi kerentanan kognitif yang ditangkap oleh studi ini.
"All of us, probably starting around our 20s or 30s, start doing a little bit worse over time on many formal cognitive tests, and that does not mean that we’re on the way to dementia. It’s what we often refer to as healthy aging," ujar Dr. Carolyn Fredericks, Asisten Profesor Neurologi di Yale School of Medicine.
Ia menambahkan bahwa sistem kecerdasan buatan ini mampu menangkap tanda-tanda khusus pada individu yang lebih rentan.
"And some of the things that they were looking at in this study are things where everybody gets a little worse on these measures over time, but they’re picking up a signature where [in] some people, it’s just that much more so, and those are the ones who are vulnerable," kata Dr. Carolyn Fredericks.
Dr. Heather Whitson kembali mengingatkan bahwa kesulitan menemukan kata biasanya dimulai dari kata benda yang spesifik, seperti nama aktor.
"Usually it starts with proper nouns, so the person who’s saying, ‘I can remember everything about that actor, but I can’t think of their name right now,’" tambah Dr. Heather Whitson.
Ia juga menyoroti keterbatasan studi ini yang belum mengakomodasi perbedaan budaya dan variasi kecepatan bicara regional.
"Speech patterns are very dependent on culture and even families," tutur Dr. Heather Whitson.
Karena data penelitian ini hanya diambil dari satu titik waktu, tidak ada perbandingan historis untuk memastikan apakah penggunaan kata jeda tertentu merupakan kebiasaan sejak kecil atau tanda klinis.
"drawn from one time point," jelas Dr. Heather Whitson.
Sebagai panduan medis, Dr. Heather Whitson menjabarkan sejumlah bendera merah atau tanda peringatan kritis yang memerlukan pemeriksaan dokter, termasuk kesulitan berat dalam mengekspresikan diri dengan kosakata sehari-hari.
"The kinds of things I would worry about, number one ... having a lot of difficulty expressing oneself, particularly with ordinary dictionary words, not just struggling to come up with the name of someone or the title of a book or movie," tegas Dr. Heather Whitson.
Penurunan memori jangka pendek yang ditandai dengan pengulangan pertanyaan dalam waktu singkat juga menjadi sinyal yang mengkhawatirkan.
"That usually presents with either repeating one’s questions in a very short time span," tambah Dr. Heather Whitson.
Gejala lain meliputi tersesat di lokasi yang sudah dikenal atau berulang kali melupakan janji temu yang penting.
"Other things is getting lost in familiar places, or repeatedly forgetting important appointments," lanjut Dr. Heather Whitson.
Tanda bahaya terakhir adalah sering salah meletakkan barang tanpa mengetahui bagaimana barang tersebut bisa berada di sana.
"Misplacing items and having no idea how the item got there in the first place is also a red flag," kata Dr. Heather Whitson.
Untuk mengukur kondisi kognitif, Dr. Carolyn Fredericks menyarankan agar seseorang membandingkan kemampuan dirinya dengan rekan-rekan seusianya.
"Often it’s helpful to compare yourself to your peers," ujar Dr. Carolyn Fredericks.
Guna menekan risiko demensia, Dr. Heather Whitson merekomendasikan intervensi gaya hidup sejak usia 20-an, seperti mengendalikan tekanan darah tinggi secara ketat hingga angka sistolik 120 atau kurang.
"There’s even evidence that strict control of blood pressure down to a top number of 120 or less is associated with reduced dementia risk," papar Dr. Heather Whitson.
Aktivitas fisik yang teratur juga menjadi faktor utama yang paling berkorelasi dengan penurunan risiko gangguan otak ini.
"Physical activity is one of the things that is most associated with lowering dementia risk, as well as almost every other kind of health risk," ujar Dr. Heather Whitson.
Ia menekankan pentingnya satu perubahan kebiasaan utama demi kesehatan jangka panjang.
"So, I always tell people, if they’re going to change one thing about their lifestyle, increasing physical activity would be the thing to do," saran Dr. Heather Whitson.
Selain olahraga, optimalisasi fungsi penglihatan dan pendengaran juga berperan krusial dalam menurunkan risiko demensia karena kedua indra tersebut menyuplai informasi dan aktivasi terbesar ke otak.
"Making sure that people’s vision and hearing are optimized is associated with lowering our dementia risk, which kind of makes sense because our ears and our eyes are what feeds most information and activation to our brain," pungkat Dr. Heather Whitson.
Linguistic analysis terhadap karya sastra juga memperkuat teori ini, seperti studi Cardiff University dan Loughborough University pada novel Sir Terry Pratchett yang menunjukkan penurunan keragaman kosa kata sepuluh tahun sebelum ia didiagnosis menderita Alzheimer pada 2007.
41 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·