Seorang warga Kemayoran bernama Nuryati (63) meninggal dunia setelah terjebak di dalam gerbong KRL Commuter Line yang bertabrakan dengan KA Argo Bromo di Stasiun Bekasi Timur, Jawa Barat, pada Senin (27/4/2026) malam. Insiden tersebut menyebabkan kondisi gerbong menjadi gelap gulita dan tanpa sirkulasi udara yang memadai bagi para penumpang.
Kesaksian mengenai situasi mencekam di dalam kereta tersebut disampaikan oleh anak sulung korban, Halimah, berdasarkan laporan dari adiknya yang turut berada di lokasi kejadian. Kabar duka pertama kali diterima pihak keluarga melalui sambungan telepon sekitar pukul 21.00 hingga 21.30 WIB saat korban sedang dalam perjalanan menuju Cikarang.
Halimah mengungkapkan bahwa awalnya ia hanya mengira sang ibu mengalami kelelahan biasa di tengah perjalanan kereta tersebut sebelum kondisi memburuk.
"Katanya Mama pingsan," kata Halimah.
Kekhawatiran keluarga memuncak ketika panggilan telepon selanjutnya memberikan kabar bahwa kondisi Nuryati sudah tidak sadarkan diri dengan wajah yang memucat.
"Terus saya telepon lagi, sudah tidak ada kayaknya," ucap Halimah menirukan pesan dari sang adik.
Berdasarkan keterangan yang dihimpun dari anggota keluarga yang selamat, para penumpang di dalam gerbong terpaksa mencari jalan keluar dengan memanjat jendela di tengah kepanikan dan kegelapan. Namun, faktor usia dan fisik membuat Nuryati tidak mampu mengikuti cara evakuasi darurat tersebut.
"Mama enggak mungkin lompat lewat jendela," kata Halimah.
Nuryati baru bisa dievakuasi setelah pintu gerbong berhasil dibuka secara paksa, namun saat itu ia ditemukan dalam kondisi lemas di dalam ruangan yang sempat mengalami guncangan keras akibat benturan antar kereta.
"Mungkin karena Mama kehabisan oksigen di dalam. Jadi pas keluar itu sudah lemes," kata Halimah.
Sebelum peristiwa tragis itu terjadi, Nuryati berangkat dari Stasiun Kemayoran bersama dua anak dan keponakannya untuk menjenguk salah satu anaknya yang sedang menjalani perawatan medis di rumah sakit. Sosok almarhumah dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial di lingkungan tempat tinggalnya mulai dari kader jumantik hingga pengajian.
"Mama itu orang baik, diem, enggak pernah banyak ngomong," kata Halimah.
Pihak keluarga kini hanya bisa meratapi kepergian korban yang jenazahnya direncanakan untuk dimakamkan di kawasan Karet Tengsin, Jakarta Pusat. Halimah menyampaikan harapan agar standar keamanan dan kualitas transportasi publik dapat terus ditingkatkan guna mencegah kejadian serupa terulang.
"Mudah-mudahan transportasi di Jakarta lebih baik ya Jangan sampai nanti ada laka lantas lagi. Di udara, di darat, ataupun di air," kata Halimah.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·