Kemenhaj Pantau Kesiapan Fasilitas Arafah dan Mina Jelang Puncak Haji

Sedang Trending 29 menit yang lalu

Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI memastikan kesiapan fasilitas di Arafah dan Mina sekaligus memperingatkan jemaah haji Indonesia untuk membatasi aktivitas fisik demi menjaga stamina menjelang puncak ibadah haji pada Jumat (15/5/2026). Langkah antisipasi ini diambil mengingat adanya potensi risiko kesehatan serius akibat paparan cuaca panas ekstrem di Tanah Suci.

Fasilitas di Padang Arafah kini telah dilengkapi dengan pendingin udara, kasur, bantal, selimut, serta toilet khusus difabel dan urinoir tambahan untuk mengurai antrean. Dirjen Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj, Harun Al Rasyid, melakukan peninjauan langsung guna memastikan kapasitas tenda sesuai dengan jumlah jemaah yang akan melaksanakan wukuf.

"Memastikan detail kapasitas tenda dan jumlah jemaahnya," kata Harun Al Rasyid, Dirjen Pengendalian Penyelenggaraan Haji dan Umrah Kemenhaj.

Harun menjelaskan bahwa progres persiapan secara keseluruhan telah berjalan sesuai rencana dan hampir mencapai tahap akhir. Ia menargetkan seluruh fasilitas pendukung bagi jemaah akan siap sepenuhnya dalam waktu dekat.

"Perlu finishing aja kira-kira 10 persen. InsyaAllah akhir pekan ini sudah ready semuanya," ucap Harun Al Rasyid.

Tahun ini, setiap tenda di Arafah akan dipasangi daftar nama penghuni untuk mencegah adanya jemaah yang tidak mendapatkan tempat. Sementara itu, Juru Bicara Kemenhaj Maria Assegaf menekankan pentingnya bagi jemaah untuk tidak memaksakan diri melakukan kegiatan luar ruangan di siang hari.

"Kami mengimbau kepada jemaah untuk membatasi aktivitas yang tidak mendesak, terutama pada saat siang hari saat suhu udara sangat tinggi," kata Maria Assegaf, Juru Bicara Kemenhaj.

Maria mengingatkan bahwa fisik yang prima sangat dibutuhkan karena rangkaian puncak haji melibatkan aktivitas jalan kaki yang cukup jauh. Ia meminta jemaah untuk tetap fokus pada persiapan stamina menyongsong fase krusial tersebut.

"Pastikan bahwa stamina tetap terjaga karena rangkaian ibadah puncak haji memerlukan kesiapan fisik yang optimal," ucap Maria Assegaf.

Pihak kementerian juga menyarankan jemaah untuk lebih memprioritaskan ibadah yang bersifat wajib dan menjaga pola makan serta hidrasi. Istirahat yang cukup menjadi kunci agar tubuh tidak mudah tumbang sebelum prosesi di Arafah, Muzdalifah, dan Mina dimulai.

"Utamakan ibadah wajib, perbanyak istirahat, konsumsi makanan yang teratur tentunya, dan penuhi kebutuhan cairan tubuh dengan cukup minum air putih," ujar Maria Assegaf.

Pendampingan medis juga diperketat bagi jemaah yang masuk kategori risiko tinggi atau lansia. Maria meminta jemaah segera melapor jika merasakan keluhan kesehatan fisik sekecil apa pun kepada petugas yang berjaga.

"Khusus bagi jemaah lansia, disabilitas, serta jemaah dengan penyakit penyerta atau risiko tinggi, kami meminta agar selalu berkoordinasi dengan petugas kesehatan, ketua regu, ketua rombongan, maupun petugas sektor," tutur Maria Assegaf.

Maria menutup imbauannya dengan mengingatkan jemaah untuk bijak dalam mengelola waktu selama berada di Makkah. Hal ini bertujuan agar kondisi fisik tetap terjaga hingga seluruh rangkaian Armuzna selesai dilaksanakan.

"Gunakan waktu di Tanah Suci ini secara bijak agar stamina tetap terjaga menjelang Armuzna atau puncak haji," pungkas Maria Assegaf.

Dukungan atas langkah preventif ini juga datang dari Komisi VIII DPR yang menyoroti ancaman heatstroke akibat suhu ekstrem. Anggota Komisi VIII DPR, Dini Rahmania, menekankan bahwa keselamatan nyawa harus menjadi pertimbangan utama bagi setiap jemaah dalam beribadah.

"Jemaah juga harus mematuhi arahan petugas kesehatan dan petugas haji demi keselamatan bersama. Jangan memaksakan diri apabila kondisi tubuh kurang fit, karena kesehatan dan keselamatan jemaah harus menjadi prioritas utama agar ibadah berjalan lancar dan khusyuk," ujar Dini Rahmania, Anggota Komisi VIII DPR.

Dini menyarankan peningkatan asupan vitamin dan penggunaan pelindung matahari seperti payung berwarna terang. Sementara itu, dilansir dari Akurat Jakarta, dokter spesialis gizi klinik A. Yasmin Syauki menjelaskan bahwa warna urine dapat menjadi indikator kecukupan cairan tubuh jemaah.

“Tanda-tanda dehidrasi itu sebenarnya lemas. Sebelum sampai pada tahap lemas, kita bisa memantau melalui warna urine kita,” kata A. Yasmin Syauki, dokter spesialis gizi klinik.

Jika urine berwarna kuning pekat, jemaah diminta segera menambah asupan air putih tanpa menunggu rasa haus muncul. Yasmin menegaskan pentingnya tindakan cepat guna menghindari respons dehidrasi yang lebih parah saat berada di lapangan.

“Segera tambah asupan cairan kita untuk menghindari respons dehidrasi yang lebih berat,” tegas A. Yasmin Syauki.