Kemenkes Perluas Vaksinasi HPV untuk Laki&laki Mulai Tahun Ini

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Kementerian Kesehatan memperluas cakupan program vaksinasi human papillomavirus (HPV) nasional dengan menyasar kelompok laki-laki mulai tahun 2026. Langkah ini diumumkan oleh Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dalam rapat kerja bersama Komisi IX DPR di Jakarta pada Senin, 20 April 2026.

Perluasan target penerima vaksin ini bertujuan untuk memutus rantai penularan virus HPV yang selama ini menjadi penyebab utama kanker serviks pada perempuan. Selama ini, program imunisasi pemerintah hanya difokuskan pada anak perempuan usia sekolah.

Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa laki-laki memiliki peran signifikan dalam penyebaran virus tersebut. Menurutnya, meskipun dampak kesehatan paling berat dirasakan oleh perempuan, laki-laki bertindak sebagai pembawa atau carrier yang menularkan virus kepada pasangan mereka.

"Perempuan yang paling terdampak karena bisa mengalami kanker serviks, namun penularannya bisa berasal dari laki-laki," kata Budi Gunadi Sadikin, Menteri Kesehatan.

Budi menambahkan bahwa pendekatan yang hanya menyasar satu gender terbukti kurang optimal dalam menekan kasus secara total. Belajar dari kebijakan kesehatan di berbagai negara lain, perlindungan akan jauh lebih efektif jika kedua gender mendapatkan vaksinasi secara bersamaan.

"Kalau yang divaksin hanya perempuan, beban perlindungannya ada di satu sisi. Di banyak negara, vaksin HPV diberikan ke laki-laki dan perempuan sekaligus agar lebih efektif menekan penularan," kata Budi Gunadi Sadikin.

Selain faktor medis, Kemenkes berharap kebijakan ini meningkatkan kesadaran kolektif masyarakat. Keikutsertaan laki-laki dalam program ini diprediksi akan meningkatkan penerimaan publik terhadap pentingnya vaksinasi preventif sebagai upaya jangka panjang.

"Pengalaman berbagai negara menunjukan bahwa pemberian vaksinasi HPV secara luas mampu menurunkan kasus kanker serviks secara signifikan," kata Budi Gunadi Sadikin.

Sejalan dengan kebijakan pemerintah, penelitian global yang diterbitkan jurnal JAMA Oncology dan dilansir Health Kompas mendukung urgensi vaksinasi bagi pria. Studi yang melibatkan satu juta peserta di Amerika Serikat ini menunjukkan adanya penurunan signifikan risiko kanker terkait HPV pada pria muda.

Ahli onkologi Glenn J. Hanna menyoroti efektivitas vaksin dalam durasi pengamatan satu dekade. Data menunjukkan kelompok yang divaksin memiliki tingkat kasus kanker kepala dan leher yang jauh lebih rendah dibandingkan kelompok yang tidak divaksin.

"Dalam waktu 10 tahun setelah vaksinasi, sudah terlihat penurunan kanker terkait HPV," ujar Glenn J. Hanna, Ahli Onkologi.

Hanna menegaskan bahwa fungsi utama vaksin ini adalah sebagai benteng pertahanan sebelum virus berkembang menjadi sel ganas. Kemampuan vaksin dalam menangkal infeksi awal menjadi kunci utama pencegahan berbagai jenis kanker di masa depan.

"Vaksin ini sangat kuat dalam mencegah infeksi HPV, yang berkaitan dengan penurunan berbagai jenis kanker," jelas Glenn J. Hanna.

Meski manfaatnya terbukti besar, data penelitian yang dipimpin Taito Kitano menunjukkan cakupan vaksinasi pria secara global masih rendah, yakni hanya sekitar 15 persen. Angka ini tertinggal jauh dari capaian vaksinasi pada kelompok perempuan.

"Vaksinasi HPV pada laki-laki masih jauh lebih jarang dilakukan," ujar Taito Kitano, Dokter Anak.

Para peneliti menekankan pentingnya edukasi gender yang setara agar pencegahan kanker dapat dilakukan secara menyeluruh. Vaksinasi disarankan diberikan sejak usia remaja kepada setiap anak tanpa memandang jenis kelamin guna memaksimalkan perlindungan kesehatan nasional.

"Setiap anak, remaja, atau dewasa muda dapat mencegah kanker melalui vaksinasi HPV," kata Taito Kitano.