Jakarta (ANTARA) - Kementerian Koperasi (Kemenkop) menyatakan konsep Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes) Merah Putih yang memiliki beberapa fungsi bertujuan menjawab kebutuhan riil masyarakat terutama di desa, mulai dari pemasaran hasil panen hingga akses layanan dasar.
Asisten Deputi Organisasi dan Badan Hukum Kemenkop Try Aditya Putra mengatakan Kopdes tidak hanya berperan sebagai lembaga usaha, tetapi juga sebagai agregator atau offtaker yang menyerap hasil produksi warga desa.
“Yang pasti Koperasi Merah Putih ini sebagai agregator, offtaker, sehingga produk-produk unggulan di desa bisa langsung terserap. Warga tidak perlu jauh-jauh ke kota,” ujar Try saat menghadiri Rapat Anggota Tahunan (RAT) Koperasi Jasa Karyawan Kantor Berita ANTARA (Kokantara) di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, Kopdes juga akan dilengkapi fasilitas pendukung seperti gudang penyimpanan, modal usaha, hingga sarana transportasi untuk memperlancar distribusi.
Baca juga: Peneliti ingatkan risiko tata kelola penyaluran bansos lewat kopdes
Pemerintah menyatakan Kopdes Merah Putih akan berperan sebagai offtaker hasil pertanian; distributor barang strategis seperti LPG 3 kg, pupuk, beras; penyalur bantuan sosial; hingga penyedia layanan keuangan termasuk kredit berbunga 6 persen.
Try menjelaskan beragam fungsi yang melekat pada Kopdes bukan berarti terlalu luas, melainkan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat desa yang selama ini harus mengakses berbagai layanan ke kota.
“Jadi bukan dengan banyaknya fungsi, bagaimana fokusnya. Tapi memang itu yang saat ini dibutuhkan,” katanya menambahkan.
Ia mencontohkan kehadiran klinik dan apotek di Kopdes diharapkan dapat mempermudah akses layanan kesehatan, sementara gudang memungkinkan petani menyimpan hasil panen sebelum dijual.
Baca juga: Pemerintah tegaskan manajer Kopdes tak gantikan peran pengurus
Selain itu, Kopdes juga didorong menjadi pusat distribusi bagi pelaku usaha kecil di desa melalui skema kolaborasi, bukan persaingan.
“Sistemnya kolaboratif. Warung-warung di desa bisa bekerja sama dengan Kopdes, misalnya mengambil pasokan dari koperasi,” ujar Try.
Ia menambahkan Kopdes diupayakan memiliki akses langsung ke produsen atau distributor utama untuk menekan rantai pasok, tetapi tetap menjaga agar harga tidak terlalu berbeda dengan warung-warung maupun jaringan distribusi yang sudah ada di desa.
Dengan demikian, menurut Try, Kopdes tidak mematikan usaha yang sudah ada, melainkan menjadi pemasok bagi warung sehingga keduanya saling menguatkan.
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Zaenal Abidin
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·