Kementerian Keuangan Catat Defisit APBN Capai 0,64 Persen PDB

Sedang Trending 1 hari yang lalu

Kementerian Keuangan melaporkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atau APBN per 31 April 2026 mengalami defisit sebesar Rp164,4 triliun atau 0,64 persen terhadap Produk Domestik Bruto karena total penerimaan negara lebih rendah dari belanja.

Dilansir dari Bloomberg Technoz, posisi defisit tersebut menyusut dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang menyentuh angka 0,93 persen terhadap Produk Domestik Bruto atau PDB.

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa angka defisit ini berada di bawah target batas total sepanjang tahun yang dipatok sebesar 2,68 persen terhadap PDB.

Namun, realisasi defisit hingga akhir April ini berbanding terbalik dengan periode yang sama pada tahun lalu yang mencatatkan surplus sebesar Rp4,3 triliun atau setara dengan 0,02 persen terhadap PDB.

Laporan Kementerian Keuangan menunjukkan realisasi pendapatan negara sampai 31 April 2026 mencapai Rp918 triliun, atau baru memenuhi 29,1 persen dari target setahun penuh sebesar Rp3.153 triliun.

Meskipun demikian, perolehan pendapatan negara tersebut tercatat tumbuh sebesar 13,3 persen jika dibandingkan dengan capaian pada periode yang sama tahun lalu.

Di sisi lain, realisasi belanja negara hingga akhir April 2026 telah membengkak sebesar 34,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu menjadi Rp1.082,8 triliun.

Nilai belanja tersebut setara dengan 28,2 persen dari pagu anggaran belanja negara sepanjang tahun ini yang ditetapkan sebesar Rp3.842 triliun.

Akibat selisih tersebut, pemerintah merealisasikan pembiayaan anggaran sebesar Rp298,5 triliun atau 43,3 persen dari target tahunan Rp689,1 triliun, meningkat 6,2 persen secara tahunan.

Sementara itu, kinerja keseimbangan primer Indonesia berbalik arah menjadi surplus sebesar Rp28 triliun, setelah sebelumnya mencatatkan defisit hingga Rp95,8 triliun pada Maret 2026.

Surplus pada keseimbangan primer ini menandakan pemerintah tidak melakukan penarikan utang baru untuk membayar bunga utang lama yang jatuh tempo.

Walaupun mencatatkan hasil positif, realisasi surplus keseimbangan primer kali ini masih lebih rendah daripada periode yang sama tahun lalu yang mampu menyentuh angka Rp173,9 triliun.