Kerja sama bisnis China-AS berpotensi untungkan ekonomi global

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Beijing (ANTARA) - Di tengah ketidakpastian global yang terus berlanjut, komunitas bisnis China dan Amerika Serikat (AS) terus mengatasi berbagai tantangan ekonomi melalui kerja sama pragmatis, sekaligus memberikan dukungan kuat pada hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.

Pameran Rantai Pasokan Internasional China (China International Supply Chain Expo/CISCE) yang akan datang menjadi contoh nyata.

Partisipasi perusahaan-perusahaan AS dalam ajang tersebut diperkirakan akan semakin meningkat, dengan fokus khusus pada kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), semikonduktor, teknologi medis, dan manufaktur kelas atas, bidang-bidang yang menjadi keunggulan kompetitif kedua negara, menurut Dewan China untuk Promosi Perdagangan Internasional (China Council for the Promotion of International Trade/CCPIT).

Lembaga promosi perdagangan tersebut mengatakan perusahaan-perusahaan AS menempati peringkat pertama di antara peserta pameran asing dalam tiga edisi sebelumnya, dengan sejumlah raksasa industri, termasuk Apple dan Tesla, terus kembali berpartisipasi dari tahun ke tahun.

Upaya yang lebih luas untuk mendorong keterlibatan komersial juga terus berlanjut. Program pencocokan (matchmaking) bisnis China-AS telah berlangsung selama 21 tahun berturut-turut.

Pertemuan pertukaran industri transportasi rel digelar dalam kerangka kerja tersebut pada Maret lalu, sementara acara lainnya dijadwalkan berlangsung pada Juni untuk menjajaki kerja sama dalam ekonomi ketinggian rendah (low-altitude economy) yang sedang berkembang.

Perkembangan tersebut menegaskan sebuah kenyataan mendasar bahwa dua ekonomi terbesar di dunia tetap saling terkait, dengan rantai pasokan keduanya terintegrasi erat.

China dan AS secara gabungan menyumbang lebih dari sepertiga output ekonomi global dan sekitar seperlima perdagangan barang dunia. Saat ini, sekitar 80.000 perusahaan AS berinvestasi di China. Sekitar 80 persen pemasok inti Apple memiliki pabrik di China, sementara Gigafactory Shanghai milik Tesla menyumbang sekitar separuh pengiriman kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global perusahaan tersebut.

Hubungan komersial yang mendalam tersebut terus diperkuat melalui komitmen-komitmen baru jangka panjang, seiring semakin banyaknya perusahaan AS yang memandang pasar China sebagai jangkar strategis untuk pertumbuhan di masa mendatang.

Contohnya, Eli Lilly, raksasa farmasi AS, mengumumkan rencana pada Maret 2026 untuk menginvestasikan dana senilai 3 miliar dolar AS (1 dolar AS = Rp17.514) ke China dalam satu dekade mendatang guna memperluas kapasitas produksi rantai pasokan, dan menandai langkah signifikan lain yang diambil perusahaan itu untuk memperkuat posisinya di China serta menopang pengembangan industri perawatan kesehatan China.

Pada Maret, Amway, perusahaan kesehatan dan kebugaran yang berbasis di AS, mengumumkan peluncuran sebuah perkebunan organik di Chengdu, ibu kota Provinsi Sichuan, China barat daya. Itu akan menjadi perkebunan organik pertama milik perusahaan itu sendiri di luar Amerika.

Michael Nelson, presiden sekaligus CEO Amway, menyampaikan bahwa China tetap menjadi pasar terbesar perusahaan itu selama 23 tahun berturut-turut, yang berperan tidak hanya sebagai pusat rantai pasokan global, tetapi juga sumber inovasi dan mesin pertumbuhan strategis bagi perusahaan tersebut.

"Berinvestasi di China berarti berinvestasi pada pertumbuhan di masa mendatang, dan berada di China berarti hadir di mana peluang-peluang itu ada," ujarnya, sembari mengutip permintaan yang berkelanjutan dari konsumen China terkait produk-produk dan layanan yang berkualitas lebih tinggi.

Survei yang dilakukan oleh Kamar Dagang Amerika di China (AmCham China) menunjukkan bahwa 52 persen perusahaan AS yang beroperasi di China diperkirakan akan meraup laba pada 2025, sementara lebih dari separuh perusahaan yang disurvei tetap menempatkan China di antara posisi tiga teratas terkait destinasi investasi global mereka.

Indikator-indikator berwawasan ke depan memperkuat kepercayaan perusahaan-perusahaan AS terhadap pasar China. Menurut survei AmCham China, sekitar 72 persen responden perusahaan AS mengantisipasi pertumbuhan industri pada 2026, sementara hampir 60 persen berencana meningkatkan investasinya di China.

"Ada banyak cara bagi kami untuk menjalin kolaborasi yang dapat memberikan manfaat bersama kepada masyarakat dari kedua negara," ujar Ketua AmCham China James Zimmerman, sembari menyoroti potensi signifikan yang belum dimanfaatkan dalam bidang-bidang seperti perawatan kesehatan, barang konsumen, dan teknologi hijau, serta bidang yang sedang berkembang pesat seperti AI.

Para analis menuturkan hubungan komersial yang terjalin erat antara kedua negara menjadi penyeimbang yang menstabilkan hubungan lebih luas.

Dun Zhigang, peneliti di Institut Studi Keuangan Chongyang di Universitas Renmin China, menguraikan bahwa interaksi ekonomi dan perdagangan yang berkelanjutan tersebut menggarisbawahi fakta bahwa dua perekonomian itu masih memiliki ruang yang sangat besar untuk saling melengkapi secara strategis, dan hasil kerja sama tersebut memberikan manfaat yang nyata bagi rakyat kedua negara.

Hubungan ekonomi dan perdagangan China-AS pada dasarnya saling menguntungkan, ujar Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Guo Jiakun dalam konferensi pers harian pada Selasa (12/5).

Kedua pihak perlu menjalin kerja sama untuk mewujudkan kesepahaman penting yang telah dicapai oleh kedua presiden, dan memberikan stabilitas yang lebih besar bagi kerja sama ekonomi dan perdagangan China-AS serta bagi perekonomian global, imbuh Guo.

Pewarta: Xinhua
Editor: Hanni Sofia
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.