Kerugian Penipuan Online di Asia Tenggara Tembus Rp387 Triliun

Sedang Trending 46 menit yang lalu

Kawasan Asia Tenggara mengalami dampak kerugian finansial yang sangat besar akibat praktik penipuan online dalam satu tahun terakhir. Kerugian tersebut diperkirakan mencapai USD23,6 miliar atau setara dengan Rp387 triliun, seperti dilansir dari Medcom.

Situasi ini memicu ASEAN Foundation dan Google untuk menginisiasi program Scam Ready ASEAN. Inisiatif regional tersebut bertujuan memperkuat ketahanan masyarakat serta literasi digital di 11 negara anggota dalam menghadapi ancaman siber.

Indonesia menjadi salah satu wilayah dengan tingkat kasus penipuan online yang cukup mengkhawatirkan. Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC) mencatat lebih dari 411 ribu laporan sepanjang tahun 2025.

Total nilai kerugian yang dialami masyarakat Indonesia dari laporan tersebut mencapai USD550 juta atau berkisar Rp9 triliun. Modus kejahatan yang sering muncul meliputi phishing, rekayasa sosial, hingga penipuan berbasis pembayaran QR.

Kejahatan digital ini semakin kompleks karena kini melibatkan penggunaan AI generatif dan platform pembayaran digital lintas aplikasi. Hal tersebut membuat berbagai lapisan usia, mulai dari pemuda hingga lansia, memiliki tingkat kerentanan yang sama.

Strategi Pencegahan Lewat Scam Ready ASEAN

Direktur Eksekutif ASEAN Foundation, Dr. Piti Srisangnam, memberikan pandangannya mengenai perkembangan isu ini yang sudah menjadi tantangan lintas negara.

"Penipuan saat ini bukan lagi insiden yang terisolasi, melainkan tantangan bersama yang terus berkembang dan memengaruhi masyarakat lintas negara, sektor, dan komunitas," ujar Piti Srisangnam.

Program ini didukung oleh dana sebesar USD5 juta dari Google.org dengan target edukasi bagi 3 juta orang. Pendekatan yang digunakan adalah model Train-the-Trainer yang melibatkan 2.000 Master Trainer dari 20 organisasi lokal.

Masyarakat akan mendapatkan akses terhadap modul edukasi dan alat interaktif seperti game "Be Scam Ready". Alat ini dirancang untuk mengasah kemampuan berpikir kritis agar pengguna internet bisa mengenali pola penipuan lebih awal.

Peran Teknologi dan Kolaborasi Ekosistem

Vice President Southeast Asia Google, Sapna Chadha, menekankan pentingnya membangun fondasi keamanan yang kuat untuk menunjang pertumbuhan ekonomi digital di kawasan ini.

"Untuk tetap selangkah lebih maju dari pelaku kejahatan yang terus mengembangkan taktik mereka, kami meningkatkan keamanan produk dan platform kami, sekaligus mendukung inisiatif seperti program Scam Ready ASEAN," kata Sapna Chadha.

Langkah preventif ini selaras dengan pembentukan ASEAN Anti-Scam Working Group pada tahun 2024. Program ini mendorong keterlibatan pemerintah, industri perbankan, dan sektor teknologi untuk menciptakan perlindungan konsumen yang lebih menyeluruh.