Ketahanan Siber Indonesia Lemah di Tengah Konflik Geopolitik Global

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Deputy Head of Master IT Program Swiss German University, Dr. Lim, memperingatkan kerentanan ketahanan siber di Indonesia akibat ketegangan geopolitik dan percepatan transformasi digital dalam pemaparan whitepaper di Jakarta, Senin (11/5/2026).

Kondisi keamanan digital di tanah air saat ini dinilai belum sebanding dengan kompleksitas serangan siber yang terus berkembang. Berdasarkan data yang dilansir dari Detik iNET, tercatat hanya sekitar 11 persen perusahaan di Indonesia yang memiliki kesiapan ketahanan siber memadai.

"Dunia sedang menghadapi situasi yang tidak nyaman akibat perang dan krisis global. Di dunia siber juga sama, kita menghadapi serangan yang luar biasa," ujar Lim, Deputy Head of Master IT Program Swiss German University.

Lim menjelaskan bahwa pergeseran metode peperangan modern kini telah merambah ke ruang digital sehingga perlindungan data menjadi sama krusialnya dengan kebutuhan pokok lainnya.

"Kalau dulu kita bicara ketahanan energi atau ketahanan pangan, sekarang ketahanan siber juga menjadi sangat penting," kata Lim, Deputy Head of Master IT Program Swiss German University.

Munculnya teknologi kecerdasan buatan (AI) turut memperparah risiko karena dimanfaatkan oleh para peretas untuk menciptakan modus penipuan yang jauh lebih presisi dan meyakinkan.

"Deepfake sekarang sudah sangat mirip, baik suara maupun videonya. Bahkan email penipuan juga makin sulit dibedakan karena dibantu AI," ungkap Lim, Deputy Head of Master IT Program Swiss German University.

Selain AI, pakar IT tersebut menyoroti munculnya fileless malware yang bekerja langsung pada memori perangkat tanpa meninggalkan jejak fisik berupa file sehingga tidak terdeteksi oleh antivirus konvensional.

"Kalau dulu ancamannya masih virus biasa, sekarang berkembang menjadi fileless malware yang jauh lebih sulit dideteksi," kata Lim, Deputy Head of Master IT Program Swiss German University.

Kritik disampaikan terhadap pola pikir mayoritas pelaku industri yang cenderung bertindak reaktif atau baru memperkuat sistem setelah terjadi insiden kebocoran data yang merugikan perusahaan.

"Kalau perusahaan ingin menjadi digital company, maka keamanan siber harus menjadi kebutuhan utama agar bisnis tetap sustain ketika serangan terjadi," tutur Lim, Deputy Head of Master IT Program Swiss German University.

Pembangunan ketahanan digital yang kokoh memerlukan penerapan enam pilar, yaitu pencegahan, deteksi, respons, pemulihan, tata kelola, serta akuntabilitas kepemimpinan.

"Banyak perusahaan fokus membeli tools, tapi lupa membangun tata kelola dan budaya keamanan siber yang kuat," imbuh Lim, Deputy Head of Master IT Program Swiss German University.

Diperlukan sinergi lintas sektor antara pemerintah, pelaku industri, akademisi, dan komunitas untuk memperkuat pertahanan nasional terhadap serangan siber yang kian canggih.

"Keamanan siber tidak bisa diselesaikan sendiri-sendiri. Semua pihak harus bekerja sama menghadapi ancaman yang semakin kompleks," pungkas Lim, Deputy Head of Master IT Program Swiss German University.