Surabaya (ANTARA) - Hujan di Kota Surabaya selalu datang membawa dua wajah. Di satu sisi, ia menjadi penanda musim yang menenangkan setelah udara panas kota pesisir.
Namun di sisi lain, hujan juga menghadirkan kecemasan yang terus berulang. Jalan-jalan berubah seperti sungai, kendaraan tersendat, rumah warga terendam, dan ritme kota seakan lumpuh hanya dalam hitungan jam.
Surabaya bukan kota yang asing dengan banjir. Sebagai kota dataran rendah di hilir sungai besar dan berhadapan langsung dengan laut, Surabaya memang hidup dalam tekanan air dari banyak arah.
Ketika hujan turun bersamaan dengan pasang laut, sistem drainase kota bekerja di bawah tekanan yang berat. Persoalannya menjadi semakin rumit karena pertumbuhan kawasan permukiman dan betonisasi kota terus mempersempit ruang resapan.
Di tengah situasi itu, bozem atau tempat penampungan air buatan perlahan menjadi salah satu “kata kunci” baru dalam wajah penanganan banjir Surabaya.
Ia bukan sekadar kolam penampung air, melainkan bagian dari strategi kota untuk membeli waktu ketika hujan turun terlalu deras. Air ditahan sementara, diperlambat lajunya, lalu dialirkan secara bertahap menuju sungai primer atau laut melalui sistem pompa dan saluran.
Belakangan, perhatian terhadap bozem kembali menguat setelah Pemerintah Kota Surabaya mempercepat pembangunan Bozem Tanjungsari. Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, bahkan menargetkan kawasan Simorejo Sari terbebas dari banjir pada November 2026.
Proyek itu bukan proyek kecil. Kapasitas tampungnya mencapai sekitar 20 ribu meter kubik air, dengan sistem aliran yang terhubung ke Diversi Gunungsari dan Bozem Dupak.
Yang menarik, pembangunan bozem kini tidak lagi dipandang sebagai proyek pelengkap. Ia mulai ditempatkan sebagai jantung strategi pengendalian banjir perkotaan. Surabaya tampaknya mulai menyadari bahwa kota modern tidak bisa hanya mengandalkan saluran drainase sempit yang berpacu membuang air secepat mungkin ke laut. Kota juga membutuhkan ruang untuk menahan air.
Kesadaran itu penting. Sebab selama bertahun-tahun, banyak kota di Indonesia terjebak pada logika lama, yaitu memperbesar saluran tanpa menyediakan ruang tampung.
Akibatnya, air hanya dipindahkan lebih cepat dari satu titik ke titik lain. Genangan hilang di satu kawasan, tetapi muncul di kawasan lain yang lebih rendah. Bozem mencoba memutus siklus itu.
Baca juga: Antisipasi banjir, dua "bozem" dibangun di kawasan Surabaya barat
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
59 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·