Jakarta (ANTARA) - Ada sesuatu yang terasa tidak sopan dari cara Indonesia tersingkir dalam perhelatan Piala Thomas 2026: terlalu cepat dan tanpa pamit, seolah-olah sejarah panjang yang kita banggakan bisa diabaikan begitu saja tanpa banyak basa-basi.
Indonesia harus menerima kenyataan pahit tersingkir di fase grup setelah takluk 1-4 dari Prancis pada laga penentuan Grup D di Forum Horsens, Denmark, Rabu WIB.
Kekalahan itu bukan sekadar kekalahan biasa, tapi lebih menyerupai koreksi redaksional terhadap naskah panjang yang selama ini ditulis dengan terlalu percaya diri tentang nostalgia kedigdayaan Indonesia di cabang olahraga bulu tangkis..
Prancis, dalam hal ini, memainkan perannya dengan sangat baik, sebagai pengingat bahwa dunia tidak pernah menandatangani kontrak apa pun dengan nostalgia kita.
Selama ini, kita memperlakukan bulu tangkis seperti hak waris. Bukan dalam arti hukum, tentu saja, tetapi dalam arti psikologis yang lebih halus; kita tumbuh dengan keyakinan bahwa ada bidang-bidang tertentu (bulu tangkis salah satunya) yang secara otomatis akan tetap menjadi milik kita, seperti resep keluarga yang tidak pernah benar-benar ditulis, tapi selalu dianggap bisa direplikasi.
Empat belas gelar Piala Thomas menjadi semacam bukti historis bahwa asumsi itu masuk akal. Dari 1958 hingga 2024, Indonesia selalu berhasil menembus fase gugur. Bahkan kegagalan terburuk kita sebelumnya —perempat final 2012— masih terasa seperti kegagalan yang sopan, yang tahu diri, yang tidak melanggar batas-batas kepantasan sejarah.
Horsens menghapus kesopanan itu.
Tiba-tiba, kita tidak hanya kalah, tetapi kalah terlalu dini. Di fase grup, sebuah wilayah yang selama ini lebih sering kita anggap sebagai formalitas administratif ketimbang medan pertempuran yang serius.
Lebih dari itu, kita kalah dari tim yang tidak membawa beban sejarah. Prancis datang tanpa nostalgia, tanpa kewajiban untuk menghormati masa lalu kita, tanpa perasaan bersalah ketika mengalahkan negara dengan 14 gelar.
Mereka, dalam arti tertentu, bermain bulu tangkis seperti seharusnya, yaitu sebagai olahraga, bukan sebagai ritual penghormatan.
Di titik ini, mungkin kita perlu mengakui sesuatu yang agak tidak nyaman bahwa selama ini kita tidak hanya mencintai bulu tangkis, tetapi juga mencintai gagasan tentang diri kita sendiri di dalamnya. Kita tidak sekadar ingin menang; kita ingin tetap menjadi negara yang “memang seharusnya menang.”
Perbedaannya tipis, tapi menentukan. Sebab ketika kemenangan mulai jarang datang, yang terganggu bukan hanya papan skor, melainkan juga narasi. Kita tidak hanya kehilangan pertandingan; kita kehilangan alur cerita yang selama ini kita anggap stabil.
Sementara itu, di luar sana, negara-negara lain tampaknya tidak terlalu tertarik pada cerita kita. Mereka sibuk menulis cerita mereka sendiri, dengan sistem pembinaan yang terus diperbarui, dengan pendekatan yang mungkin terasa kurang romantis, tetapi jauh lebih efektif.
Baca juga: Indonesia tersingkir di fase grup Piala Thomas 2026
Ironi kecil
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·