Ketua Umum Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), Jacklevyn Manuputty, memberikan tanggapan terkait ceramah mantan Wakil Presiden Jusuf Kalla mengenai konflik Poso dan Maluku yang berujung pada laporan kepolisian. Jacklevyn menyebut narasi yang disampaikan Jusuf Kalla mengenai keterlibatan sentimen agama dalam konflik masa lalu tersebut pada dasarnya tidak keliru secara konteks sejarah.
Pernyataan ini muncul setelah Jusuf Kalla dilaporkan atas dugaan penistaan agama terkait ucapannya di Masjid Kampus UGM yang menyinggung keyakinan syahid di kedua belah pihak yang bertikai. Melalui akun Instagram resmi PGI, Jacklevyn menjelaskan bahwa pada periode konflik tersebut, agama memang kerap tampil dalam wajah yang terdistorsi untuk melegitimasi kekerasan.
Jacklevyn menekankan posisinya sebagai saksi hidup yang merasakan langsung dinamika perseteruan di wilayah tersebut. Ia melihat adanya penggunaan simbol dan ritual keagamaan sebagai sarana mobilisasi massa sebelum terjadinya bentrokan fisik di lapangan.
"Sebagai orang yang mengalami langsung dinamika konflik tersebut, saya menyaksikan bagaimana legitimasi religius, doa, kidung rohani, hingga pemberkatan tokoh agama sering menjadi prasyarat sebelum kombatan turun ke medan konflik," terang Jacklevyn Manuputty, Ketua Umum PGI.
Ia menambahkan bahwa istilah-istilah yang bermakna damai pun bisa berubah fungsi menjadi pemantik semangat dalam situasi perang. Hal ini menyebabkan tindakan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok-kelompok yang bertikai seolah-olah memiliki dasar moral dan kesucian.
"Saya yakin Jusuf Kalla memahami realitas ini sebagai orang yang turut berperan dalam penyelesaian konflik di Maluku dan Poso," imbuh Jacklevyn Manuputty.
Meski membenarkan konteks sosial yang disampaikan, Jacklevyn memberikan catatan khusus mengenai penggunaan istilah syahid yang disematkan kepada komunitas Kristen. Ia meluruskan bahwa secara doktrinal, agama Kristen tidak mengenal konsep syahid, melainkan martir.
Pihaknya mengakui bahwa penggunaan istilah martir dalam konflik Maluku pun sempat mengalami pergeseran makna akibat adanya ancaman terhadap identitas kolektif. Menurutnya, agama akhirnya hadir sebagai instrumen pembenaran atas tindakan yang diambil oleh komunitas tersebut.
"Pernyataan Jusuf Kalla membuka ruang refleksi yang perlu kita rawat. Bukan untuk menyalahkan agama, tetapi untuk memahami bagaimana agama dapat diselewengkan dalam situasi konflik," terang Jacklevyn Manuputty dilansir dari krjogja.com.
2 hari yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·