Hari Arafah menempati kedudukan yang sangat istimewa di antara hari-hari paling agung dalam Islam. Momentum penuh rahmat bagi seluruh umat Islam di dunia ini jatuh setiap tanggal 9 Zulhijah, seperti dikutip dari Cahaya.
Pada hari tersebut, jutaan jemaah haji berkumpul di Padang Arafah dengan pakaian ihram serba putih. Mereka menengadahkan tangan demi memohon ampunan dan berharap rahmat Allah SWT dalam suasana spiritual yang kuat.
Umat Islam yang tidak menunaikan ibadah haji juga bisa meraih keutamaan luar biasa pada Hari Arafah. Rasulullah SAW menganjurkan umatnya untuk memperbanyak doa, zikir, amal saleh, serta melaksanakan puasa sunnah.
Keistimewaan Hari Arafah tidak dapat dipisahkan dari kemuliaan sepuluh hari pertama bulan Zulhijah. Rasulullah SAW dalam banyak riwayat menjelaskan bahwa waktu-waktu tersebut merupakan saat terbaik untuk meningkatkan amal ibadah.
Dalam hadits riwayat Imam Bukhari, Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah daripada hari-hari ini, yaitu sepuluh hari pertama Zulhijah.”
Para sahabat kemudian bertanya apakah keutamaannya juga melebihi jihad di jalan Allah. Rasulullah SAW menjawab bahwa amal pada hari-hari itu bahkan lebih utama, kecuali jihad seseorang yang keluar dengan jiwa dan hartanya lalu tidak kembali.
Para ulama dalam kitab Tuhfatul Ahwadzi jilid 3 menjelaskan, sepuluh hari pertama Zulhijah menjadi waktu paling mulia karena di dalamnya terdapat Hari Arafah dan Hari Raya Idul Adha. Buku Fiqih Sunnah karya Sayyid Sabiq juga menyebutkan siang hari pada periode tersebut memiliki keutamaan besar karena menjadi momentum berkumpulnya ibadah puasa, sedekah, zikir, hingga haji.
Penyebab Hari Arafah Sangat Istimewa
Hari Arafah merupakan momentum ketika para jemaah haji melaksanakan wukuf di Padang Arafah. Wukuf sendiri menjadi rukun haji paling utama yang menentukan sah atau tidaknya ibadah haji seseorang.
Rasulullah SAW bahkan bersabda:
“Haji itu adalah Arafah.”
Pintu rahmat dan ampunan dibuka oleh Allah SWT dengan sangat luas pada hari penting ini. Kitab Lathaif Al-Ma’arif karya Ibnu Rajab Al-Hanbali menerangkan bahwa Hari Arafah adalah hari pembebasan dari api neraka, hari pengampunan dosa, serta hari dikabulkannya doa-doa. Sebagian ulama tafsir pun menyebutnya sebagai salah satu hari yang dimuliakan Allah dalam Al-Qur’an.
Penghapusan Dosa Dua Tahun Lewat Puasa Arafah
Puasa sunnah Arafah menjadi salah satu amalan yang paling dianjurkan bagi umat Islam yang tidak sedang berhaji. Keutamaan puasa ini tertuang secara jelas dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim dari Abu Qatadah RA.
Rasulullah SAW bersabda:
“Puasa hari Arafah dapat menghapus dosa setahun yang lalu dan setahun yang akan datang.”
Imam An-Nawawi dalam kitab Syarh Shahih Muslim menjelaskan, penghapusan dosa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah dosa-dosa kecil, dengan catatan seseorang menjauhi dosa besar. Sementara itu, Imam Al-Qurthubi menerangkan makna “dosa setahun yang akan datang” berarti Allah memberikan perlindungan dan taufik agar hamba-Nya dijaga dari maksiat.
Buku Ringkasan Fikih Sunnah karya Syaikh Sulaiman Ahmad Yahya Al-Faifi menyebutkan bahwa puasa Arafah merupakan amalan dengan peluang besar untuk mendatangkan ampunan Allah SWT.
Pembebasan Hamba dari Api Neraka
Banyaknya hamba yang dibebaskan Allah dari api neraka menjadi keutamaan lain dari Hari Arafah. Hal ini berlandaskan hadits riwayat Muslim dari Aisyah RA.
Rasulullah SAW bersabda:
“Tidak ada hari ketika Allah lebih banyak membebaskan hamba dari neraka selain Hari Arafah.”
Riwayat lain menyatakan bahwa Allah SWT mendekat kepada hamba-hamba-Nya lalu membanggakan mereka di hadapan para malaikat. Para ulama menjelaskan suasana penuh ampunan ini harus dimanfaatkan untuk memperbanyak istighfar, memperbaiki diri, dan memohon keselamatan dunia akhirat.
Waktu Paling Mustajab untuk Memanjatkan Doa
Amalan lain yang sangat dianjurkan pada Hari Arafah adalah memperbanyak doa karena waktu tersebut dikenal sangat mustajab.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik doa adalah doa pada Hari Arafah.”
Buku Panduan Doa dan Dzikir Haji dan Umrah yang Dicontohkan Rasulullah dan Para Ulama karya H. Deden Hafid Usman Lc dkk menjelaskan, doa sebaiknya diisi permohonan ampunan, keberkahan hidup, perlindungan dari keburukan, hingga permohonan istiqamah. Para ulama juga menganjurkan memperbanyak kalimat tauhid pada hari tersebut.
“Laa ilaaha illallaahu wahdahu laa syariika lah, lahul mulku wa lahul hamdu wa huwa ‘alaa kulli syai’in qadiir.”
Dzikir ini dikenal sebagai salah satu bacaan utama yang dianjurkan Rasulullah SAW ketika Hari Arafah tiba.
Alasan Jemaah Haji Tidak Dianjurkan Berpuasa
Hukum puasa Arafah berbeda bagi jemaah haji yang sedang menjalani wukuf. Mayoritas ulama menyebut hukum berpuasa bagi jemaah haji adalah makruh, berdasarkan hadits riwayat Abu Hurairah RA mengenai larangan Rasulullah SAW untuk berpuasa bagi orang di Arafah.
Hikmah dari larangan ini adalah agar jemaah haji memiliki kekuatan fisik dan stamina yang cukup. Kitab-kitab fikih menjelaskan wukuf membutuhkan kondisi tubuh kuat karena jemaah dianjurkan memperbanyak doa, zikir, dan ibadah sepanjang hari.
Daftar Amalan yang Dianjurkan pada Hari Arafah
Umat Islam juga dianjurkan meningkatkan berbagai amal saleh lainnya secara menyeluruh. Beberapa amalan yang dianjurkan antara lain memperbanyak istighfar, membaca Al-Qur’an, bersedekah, serta memperbanyak shalawat.
Selain itu, Muslim dianjurkan bertakbir, bertahmid, bertahlil, memohon ampunan kepada Allah SWT, serta memperbaiki hubungan dengan sesama manusia. Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa ibadah terbaik dilakukan dengan anggota tubuh serta hati yang bersih dan penuh keikhlasan.
Hari Arafah menjadi momentum muhasabah bagi seorang Muslim untuk merenungkan perjalanan hidup, mengingat dosa, dan memohon ampun dengan penuh kerendahan hati di tengah kehidupan yang sibuk.
45 menit yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·