Kiat Meraih Haji Mabrur Menurut Nasihat MUI Mojokerto

Sedang Trending 43 menit yang lalu

الحَمْدُ للهِ الْمَلِكِ الدَّيَّANِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَANِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ،

أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّANِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ:يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱتَّقُواْ ٱللَّه4َ وَلۡتَنظُرۡ نَفۡسٞ مَّا قَدَّمَتۡ لِغَدٖۖ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۚ إِنَّ ٱللَّهَ خَبِيرُۢ بِمَا تَعۡمَلُونَ

Upaya meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT menjadi pesan pembuka dalam khutbah Jumat yang dilansir dari Cahaya. Pesan penting ini bersumber dari naskah khutbah yang disusun oleh KH Nur Rohmad SAg MPd, selaku Ketua Komisi Dakwah dan Pengembangan Masyarakat MUI Kabupaten Mojokerto.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

الْعُمْرَةُ إِلَى الْعُمْرَةِ كَفَّارَةٌ لِمَا بَيْنَهُمَا وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

"Umrah ke umrah berikutnya adalah penghapus dosa di antara keduanya, dan haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga." (HR. Malik, Ahmad, al-Bukhari, Muslim dan al- Arba’ah [Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa’ai, Ibnu Majah])

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:

مَنْ حَجَّ هٰذَا الْبَيْتَ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَمَا وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

"Barang siapa yang berhaji ke Baitullah, lalu tidak bersetubuh (selama masih dalam rangkaian ibadah haji) dan tidak melakukan dosa besar, maka ia akan kembali (bersih dari dosa-dosanya) seperti saat dilahirkan ibunya" (HR. al-Bukhari, Muslim dan lainnya)

Haji mabrur diartikan sebagai ibadah yang diterima oleh Allah SWT. Kriteria tersebut dapat dicapai apabila pelaksanaan haji didasari oleh niat ikhlas, menggunakan harta yang halal dan baik, serta menjauhi dosa besar selama beribadah sesuai tuntunan Nabi Muhammad SAW.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berdoa:

اللهم حِجَّة لَا رِيَاءَ فِيهَا وَلاَسُمْعَةَ (أخرجه ابن ماجه)

"Ya Allah, jadikanlah haji kami murni karena-Mu, tidak ada riya’ (niat agar dilihat dan dipuji orang lain) dan sum’ah (niat agar didengar, memperoleh popularitas dan dipuji orang lain) di dalamnya." (HR. Ibnu Majah)

Perubahan perilaku ke arah yang lebih baik setelah kembali ke tanah air merupakan salah satu tanda diterimanya ibadah haji seseorang. Hal ini ditunjukkan dengan sikap yang tidak lagi mencintai dunia secara berlebihan dan lebih mengutamakan kehidupan akhirat.

Nasihat Para Ulama Mengenai Ketaatan

Kitab Latha’if al-Ma’arif karya Ibnu Rajab al-Hanbali menegaskan bahwa indikator diterimanya suatu ketaatan adalah ketika amal tersebut disambung dengan ketaatan berikutnya setelah ibadah selesai dilakukan.

Doa yang pernah dipanjatkan oleh Imam Ahmad berbunyi:

اللهم أَعِزَّنِي بِطَاعَتِكَ وَلَا تُذِلَّنِي بِمَعْصِيَتِكَ

"Ya Allah, muliakanlah aku dengan ketaatan kepadamu dan janganlah hinakan aku dengan bermaksiat kepada-Mu." (Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-ma’arifi)

Selanjutnya, Imam Ibrahim bin Adham juga sering membaca doa berikut:

اللهم انْقُلْنِي مِنْ ذُلِّ الْمَعْصِيَةِ إِلَى عِزِّ الطَّاعَةِ

"Ya Allah pindahkanlah aku dari kehinaan maksiat kepada kemuliaan taat." (Ibnu Rajab al-Hanbali dalam Latha’if al-ma’arifi)

Mengenai jumlah jemaah haji, sahabat ‘Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma pernah memberikan tanggapan saat seseorang menyebutkan banyaknya orang yang pergi berhaji.

“Alangkah sedikit jama’ah haji yang hajinya diterima.” (Mushannaf ‘Abd ar-Razzaq)

Pernyataan serupa juga disampaikan oleh Syuraih, seorang ulama dari kalangan tabi'in.

الحَاجُّ قَلِيْلٌ وَالرُّكْبَانُ كَثِيْرَةٌ

"Jamaah haji yang diterima hajinya sedikit walaupun orang yang berangkat untuk menunaikan haji banyak." (Mushannaf ‘Abd ar-Razzaq)

Sahabat ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma memberikan penjelasan mengenai keberadaan kerikil yang digunakan jemaah saat melempar jamarat.

“Yang diterima darinya diangkat, dan yang tidak diterima ditinggal.” (Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih seperti dituturkan oleh Ibnu Hajar al-‘Asqalani dalam at-Talkhish al-Habir)

Menyambut Kepulangan Jemaah Haji

Saat kepulangan jemaah haji Indonesia ke Tanah Air tiba, umat Muslim dianjurkan untuk mendatangi mereka demi bersilaturahmi sekaligus meminta didoakan agar dosa-dosa diampuni oleh Allah SWT.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

اللهم اغْفِرْ لِلْحَاجِّ وَلِمَنِ اسْتَغْفَرَ لَهُ الْحَاجُّ (رواه البيهقي وصححه الحاكم)

"Ya Allah, ampunilah dosa orang yang haji dan orang yang dimintakan ampunan dosa baginya oleh orang yang berhaji." (HR al-Baihaqi dan dinilai shahih oleh al-Hakim)

أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

اَلْحَمْدُ للهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّيْ وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا. وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلٰهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدِنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ، أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيْمِ وَاعْلَمُوْا أَنَّ اللهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيْمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيْمِ فَقَالَ: إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَٰٓئِكَتَهُۥ يُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِيِّۚ يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ صَلُّواْ عَلَيۡهِ وَسَلِّمُواْ تَسۡلِيمًا، اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ، فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ. اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ والْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، اللهم ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالسُّيُوْفَ الْمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

عِبَادَ اللهِ، إِنَّ ٱللَّهَ يَأۡمُرُ بِٱلۡعَدۡلِ وَٱلۡإِحۡسَٰنِ وَإِيتَآيِٕ ذِي ٱلۡقُرۡبَىٰ وَيَنۡهَىٰ عَنِ ٱلۡفَحۡشَآءِ وَٱلۡمُنكَرِ وَٱلۡبَغۡيِۚ يَعِظُكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَذَكَّرُونَ فَاذكُرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَلَذِكْرُ اللهِ أَكْبَرُ.