Kick Off Penanganan Perlintasan Sebidang, KAI Percepat Langkah Berbasis Data dan Teknologi

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Jakarta (ANTARA) - PT Kereta Api Indonesia (Persero) memulai langkah percepatan penanganan perlintasan sebidang melalui Kick Off Meeting yang digelar di Jakarta Railways Center pada Selasa (5/5). Kegiatan ini dihadiri oleh Kementerian Perhubungan, DJKA, BP BUMN, Danantara, serta KNKT sebagai bagian dari penguatan koordinasi lintas pemangku kepentingan.

Direktur Portofolio Manajemen dan Teknologi Informasi KAI I Gede Darmayusa menyampaikan bahwa penanganan perlintasan dilakukan dengan pendekatan berbasis data agar setiap langkah fokus pada titik yang paling membutuhkan.

“Saat ini terdapat 3.674 perlintasan sebidang. Dari jumlah tersebut, 1.810 titik menjadi fokus penanganan karena memiliki tingkat risiko yang perlu segera ditangani. Sebanyak 172 perlintasan diarahkan untuk penutupan, sementara 1.638 lainnya ditingkatkan aspek keselamatannya,” ujar I Gede Darmayusa.

Ia menjelaskan, data kecelakaan memperlihatkan urgensi penanganan yang lebih cepat dan terarah. Dalam periode 2023 hingga 2026, tercatat 948 korban akibat kecelakaan di perlintasan sebidang, dengan sekitar 80% kejadian terjadi pada perlintasan yang belum terjaga.

“Kita melihat pola yang sama dari waktu ke waktu. Karena itu, penanganan harus fokus pada titik-titik yang berisiko tinggi, sehingga dampaknya bisa langsung dirasakan oleh masyarakat,” lanjutnya.

Sejumlah langkah telah dijalankan, mulai dari pendataan dan pemetaan kondisi perlintasan, koordinasi dengan regulator dan pemerintah daerah, hingga penutupan perlintasan dengan tingkat risiko tinggi. Upaya ini dilanjutkan dengan kajian teknis serta penyusunan tahapan peningkatan keselamatan secara bertahap.

Pada tahap berikutnya, peningkatan difokuskan pada kelengkapan dasar di perlintasan seperti petugas penjaga, gardu, alat komunikasi, sirine, lampu peringatan, CCTV, hingga panic button yang terhubung langsung dengan masinis. Sistem ini memungkinkan respons lebih cepat saat terjadi kondisi darurat, termasuk ketika kendaraan berhenti di atas rel.

Di sisi lain, KAI juga mengembangkan sistem Automatic Train Protection (ATP) untuk memperkuat keselamatan perjalanan kereta. Sistem ini dirancang untuk memberikan peringatan otomatis hingga melakukan intervensi pengereman apabila terdeteksi potensi bahaya, sehingga dapat menekan risiko yang dipengaruhi faktor manusia.

Menurut I Gede Darmayusa, seluruh langkah ini diarahkan agar manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat.

“Dengan penanganan yang lebih terarah, risiko kecelakaan dapat ditekan, perjalanan kereta api menjadi lebih andal, dan masyarakat yang beraktivitas di sekitar perlintasan merasa lebih aman. Ini yang ingin kita capai bersama,” jelasnya.

KAI akan terus memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Perhubungan, pemerintah daerah, Danantara, serta KNKT agar setiap tahapan berjalan selaras dan konsisten.

Sebagai penutup, I Gede Darmayusa menegaskan bahwa keselamatan perlintasan merupakan tanggung jawab bersama yang membutuhkan konsistensi dalam pelaksanaan di lapangan.

“Melalui penanganan 1.810 perlintasan prioritas, penguatan perangkat keselamatan, serta pengembangan sistem seperti ATP, kita bergerak menuju sistem perkeretaapian yang lebih aman dan adaptif. Harapannya sederhana, perjalanan kereta api berjalan dengan baik dan masyarakat yang melintas di perlintasan bisa merasa lebih tenang,” tutup I Gede Darmayusa.

Pewarta: PR Wire
Editor: PR Wire
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.