Ummu Aiman menempati posisi yang sangat istimewa di antara deretan perempuan mulia dalam sejarah Islam. Sosok ini bukan sekadar sahabat, melainkan figur yang dianggap keluarga dekat oleh Nabi Muhammad SAW.
Dilansir dari Cahaya, Nabi Muhammad pernah menyebut Ummu Aiman sebagai "ibuku setelah ibuku" sebagai bentuk penghormatan atas dedikasinya. Perjalanan hidupnya mencakup tiga fase besar, mulai dari zaman jahiliah, era kenabian, hingga awal kekhalifahan.
Lahir dengan nama Barkah binti Tsa’labah, ia merupakan perempuan keturunan Habasyah yang menjadi bagian dari keluarga Bani Hasyim di Makkah. Barkah awalnya berada di rumah Abdullah bin Abdul Muthalib sebelum mendampingi Aminah binti Wahab.
Ibnu Sa’ad dalam Ath-Thabaqat al-Kubra mencatat bahwa Barkah menjadi saksi berbagai peristiwa penting, termasuk tanda-tanda kelahiran Nabi. Ia termasuk orang pertama yang menyambut kehadiran bayi Muhammad ke dunia.
Peran Ummu Aiman menjadi sangat krusial ketika Nabi Muhammad kehilangan ayahnya sejak kecil. Ia merawat dan menjaga Nabi dengan kasih sayang layaknya seorang ibu kandung.
Saat Nabi berusia enam tahun, ia mendampingi perjalanan ke Yatsrib bersama Aminah. Namun, di tengah perjalanan pulang, Aminah wafat, sehingga Ummu Aiman harus membawa Nabi kecil kembali ke Makkah sendirian.
Meskipun pengasuhan secara formal beralih ke kakek dan paman Nabi, Ummu Aiman tetap menjadi figur tak terpisahkan. Dalam Al-Isabah fi Tamyiz al-Sahabah, disebutkan Rasulullah selalu mengenangnya sebagai bagian keluarga yang tersisa.
Dimerdekakan dan Menjadi Bagian Awal Dakwah
Setelah Nabi menikah dengan Khadijah binti Khuwailid, Ummu Aiman resmi dimerdekakan dari status perbudakan. Meski demikian, ikatan batin di antara mereka justru semakin menguat seiring berjalannya waktu.
"Dia adalah ibuku setelah ibuku." kata Rasulullah saat memperkenalkannya kepada Khadijah dengan penuh penghormatan.
Ummu Aiman kemudian menikah dengan Ubaid bin Zaid dan melahirkan seorang putra bernama Aiman. Inilah yang menjadi asal-usul julukannya sebagai Ummu Aiman.
Ketika wahyu pertama turun, ia termasuk dalam golongan as-sabiqunal awwalun atau orang-orang yang pertama beriman. Ia berperan aktif membantu dakwah secara sembunyi-sembunyi dan menembus blokade kaum Quraisy.
Ketangguhan di Medan Perang
Kontribusi Ummu Aiman meluas hingga ke ranah publik dan militer, seperti dalam Perang Uhud serta Perang Khaybar. Ia bertugas menyediakan logistik, memberi minum pasukan, dan merawat prajurit yang terluka.
Pada peristiwa Perang Uhud, ia menunjukkan keberanian luar biasa dengan tetap maju saat sebagian pasukan mundur. Riwayat dalam Ath-Thabaqat al-Kubra menyebutkan bahwa ia sempat terluka akibat terkena serangan panah musuh.
Keteguhannya diuji ketika suaminya, Zaid bin Haritsah, gugur dalam Perang Mu’tah. Tak lama kemudian, putranya yang bernama Aiman juga syahid dalam perjuangan membela Islam.
Kesetiaan Hingga Akhir Hayat
Wafatnya Nabi Muhammad pada tahun 11 Hijriah menjadi momen duka yang sangat mendalam bagi Ummu Aiman. Saat dikunjungi oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Umar bin Khattab, ia tampak menangis tersedu-sedu.
Ia menjelaskan bahwa tangisannya bukan hanya karena kehilangan pribadi, melainkan karena terputusnya wahyu dari langit. Hal ini menunjukkan kedalaman spiritual dan pemahamannya terhadap nilai-nilai kenabian.
Selain pelaku sejarah, Ummu Aiman juga berperan sebagai perawi hadis yang tercatat dalam Shahih Muslim dan Musnad Ahmad. Riwayat darinya mencakup berbagai aspek kehidupan rumah tangga Nabi dan peristiwa-peristiwa penting lainnya.
Beberapa riwayat menyebutkan ia wafat beberapa bulan setelah Nabi, namun ada pula yang menyebut ia hidup hingga masa kekhalifahan Utsman bin Affan. Sosoknya tetap menjadi bukti bahwa kemuliaan dalam Islam didasarkan pada iman dan amal, bukan asal-usul strata sosial.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·