Kilang Asia Tingkatkan Impor Minyak Amerika Serikat Akibat Krisis Hormuz

Sedang Trending 2 hari yang lalu

Sejumlah kilang minyak di Asia meningkatkan ketergantungan pada pasokan minyak mentah Amerika Serikat guna mencegah kelangkaan energi akibat blokade Selat Hormuz pada Jumat, 17 April 2026. Langkah ini diambil para produsen bahan bakar untuk menggantikan pasokan Timur Tengah yang terhenti selama tujuh minggu terakhir.

Data volume pengiriman menunjukkan lonjakan signifikan untuk memenuhi kebutuhan pasar Jepang, Korea Selatan, Singapura, hingga Thailand. Dilansir dari Bloombergtechnoz, setidaknya 60 juta barel minyak mentah dari Teluk Amerika Serikat telah dibeli untuk jadwal pengiriman bulan depan.

Jumlah tersebut menyamai level pengiriman pada bulan April yang merupakan angka tertinggi dalam tiga tahun terakhir. Gangguan distribusi ini terjadi seiring memanasnya konflik di Iran yang menyebabkan industri penyulingan di kawasan Asia mengalami kekacauan pasokan.

Analis minyak mentah dari perusahaan intelijen energi Sparta Commodities, John Coleman, menyoroti keterbatasan armada pengangkut akibat tingginya permintaan ekspor tersebut.

"Kami tidak melihat adanya pasokan kapal VLCC yang tersedia untuk disewa selama dua minggu ke depan dibandingkan dengan rata-rata 90 hari biasanya empat VLCC," kata Coleman.

Kondisi pasar saat ini menunjukkan bahwa minyak asal Amerika Serikat menjadi opsi paling rasional bagi para pembeli di Asia meskipun terjadi kenaikan harga yang cukup tajam.

"Minyak mentah asal AS adalah beberapa dari sedikit jenis minyak mentah non-Hormuz yang menunjukkan margin positif ke Asia saat ini secara teoritis," kata Coleman.

Lonjakan aktivitas ekspor ini juga tercatat dalam laporan resmi pemerintah Amerika Serikat. Total ekspor minyak, termasuk produk olahan, mencapai angka rekor sebesar 13 juta barel per hari pada pekan lalu.

Analis pasar minyak senior di Vortexa, Rohit Rathod, memberikan pandangan mengenai pergeseran rute logistik global akibat penutupan jalur di Timur Tengah.

"Sepertinya setiap pemilik kapal saat ini berpikir: oke, saya tidak dapat memuat di Teluk Timur Tengah, saya pikir Cekungan Atlantik adalah satu-satunya wilayah," ujar Rathod.

Pihaknya memproyeksikan bahwa tingginya angka pengiriman dari Pantai Teluk Amerika Serikat akan terus bertahan dalam jangka panjang terlepas dari perkembangan situasi konflik.

"Kami memperkirakan ekspor Pantai Teluk AS akan tetap tinggi dalam beberapa bulan mendatang, bahkan jika konflik berakhir besok," kata Rathod.

Krisis ini memaksa negara-negara Asia mencari alternatif lain seperti minyak Alaska North Slope yang memiliki karakteristik serupa dengan minyak Teluk Persia. Namun, tingginya permintaan telah mendorong premi harga minyak tersebut hingga mencapai rekor 10 dolar AS di atas patokan Brent global.