Kisah Sukses Rita Terbangkan 'Nangoma' ke Pasar Global, Transaksi Lintas Negara Makin Praktis Lewat QRIS BRI

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Liputan6.com, Jakarta - Banyak orang sering kali salah fokus saat pertama kali mendengar nama 'Nangoma'. Dengan pelafalan yang unik, tidak sedikit yang mengira bahwa jenama home decor dan mebel asal Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) ini mengusung konsep ala Jepang. Namun, di balik nama tersebut, ada cerita perjuangan lokal yang sangat mendalam dari sang pemilik bernama Rita Cahaya Sari. 

Nangoma yang kini berlokasi di Jl. Bandulan, Purworejo, Sukoharjo, Kec. Ngaglik, Kabupaten Sleman, DIY merupakan bukti nyata bagaimana sebuah usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) mampu menembus pasar internasional berkat kegigihan, jeli melihat peluang dan pemanfaatan ekosistem digital perbankan seperti BRI.

Perjalanan Rita membangun Nangoma tidaklah instan. Sebelum menjadi pengusaha mandiri, Rita mengawali karirnya sebagai karyawan biasa dengan upah yang pas-pasan. Dari sisa tabungan yang dikumpulkan sedikit demi sedikit, ia memberanikan diri untuk membuka usaha sendiri dengan memanfaatkan fasilitas seadanya di rumah.

"Jadi kalau Nangoma itu banyak orang, namanya kayak orang Jepang gitu, Nangoma. Itu salah sebenarnya. Nangoma itu Bu Rita dulu kan ikut orang dengan UMR. Gaji tuh ya cukup lah buat hanya untuk makan ya nabung sedikit gitu. Jadi waktu mendirikan itu tuh memang modal apa adanya, seadanya gitu. Nah, Bu Rita tuh di garasinya Bu Rita dulu awalnya," ungkap Rita Cahaya Sari membuka ceritanya dengan Liputan6.com pada Jumat (22/5/2026) kemarin di tempat usahanya.

Di garasi rumahnya itu, filosofi nama usahanya pun lahir dengan sebuah doa dan harapan agar produknya bisa diterima dengan baik di hati para pelanggan.

"Di garasi rumah itu namanya di Nangoma kan. Nah, sementara kalau filosofinya Nangomah itu kan di rumah (plesetan dari bahasa Jawa 'Nang Omah'), ya kita berharap produk-produk dari Nangomah itu bisa memberikan warna juga di rumah-rumah customer-nya Bu Rita, gitu. Gitu," tambahnya.

Terjun ke Bisnis Kayu dari Pengalaman Kerja

Keputusan Rita untuk terjun ke bisnis kayu sempat membuat heran keluarga besarnya. Pasalnya, Rita lahir dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang mengabdi pada dunia pendidikan, bukan dunia usaha atau pertukangan. Kendati demikian, hal itu tidak dipusingkan Rita. Ia menganggap bahwa semua tersebut berdasarkan kondisinya yang sudah berpengalaman di bidang tersebut. 

"Nah itu dia. Orang tua Bu Rita tuh dari dunia pendidikan semua. Pada jadi guru-guru gitu. Sampai bingung juga, 'kamu kok ada darah nukang atau bisnis kayu-kayu gitu'. Ya kembali lagi mungkin rezekinya Bu Rita di situ. Terus yang kedua product knowledge-nya yang saya tahu itu. Nanti kalau Bu Rita misalnya ke kecantikan kan harus belajar lagi tuh. Nah itu kan juga gak gampang, butuh waktu lama. Kayu aja sampe sekarang Bu Rita masih belajar. Kayu gini kayaknya gak cocok deh buat ini, harus tetep belajar sampai sekarang," kenang Rita.

Rita mengatakan jika keahliannya di industri ini diasah secara tidak sengaja melalui pengalaman kerja pertamanya selepas menyelesaikan pendidikan di bidang bahasa asing.

"Bu Rita kan sekolahnya di bahasa asing karena dulu ngelamarnya tuh dapetnya awal tuh dikerja di furniture juga gitu loh mas. Jadi dulu tuh pernah di Jepara Bu Rita kenal sama orang Belanda terus bilang udahlah kamu kerja tempat itu aja gitu karena sekretarisku tuh mau nikah, yaudah Bu Rita ikut kesana. Itu Awalnya dan berlanjut pindah ke tempat lain lain.  Bu Rita dulu sempat di bagian produksi, admin produksi, staff marketing, jadi staff ekspor, ngurusin dokumen yang ekspor, gitu-gitu, mas," paparnya secara rinci. 

Strategi dan Segmen Pasar

Setelah menyerap banyak ilmu di berbagai tempat, Rita memutuskan kembali ke Yogyakarta untuk membuka usaha sendiri. Bermodalkan kemampuan komunikasi dan jaringan yang dimilikinya, ia memulai bisnis dengan sistem trading dari dalam garasi rumahnya sebelum akhirnya bisa berkembang dan mendapatkan tempat produksi sendiri yang lebih luas.

"Tak lama setelah itu Bu Rita tuh memutuskan untuk pindah ke Jogja dan mau nyoba usaha sendiri. Awalnya kan Bu Rita mainnya trading. Pas waktu di garasi itu masih trading gitu loh mas. Jadi masih beli di supplier-supplier, nanti kita benerin di garasi sama tukang-tukang gitu kan. Alasan Bu Rita berniat mengelola usaha itu ya karena Bu Rita tuh melihat banyak perajin-perajin di Jogja itu yang bagus-bagus produknya. Cuma mereka tidak bisa memasarkan produk mereka gitu loh dengan maksimal," jelas Rita.

"Karena mungkin terkendala teknologi, terkendala bahasa juga. Jadi Bu Rita pikir sayang banget, ya sudahlah kita kerjasama ya. Kamu yang bikin, aku yang jual. Awalnya seperti itu. Terus Bu Rita dapat support dari kementerian, dari dinas-dinas terkait. Terus akhirnya pindah ke sini," lanjutnya.

Di tempat baru ini, Rita secara konsisten mematangkan fokus bisnisnya pada produk dekorasi rumah berskala kecil untuk menghindari persaingan langsung dengan pabrik-pabrik besar.

"Jadi kenapa memilih home decor? Ya karena segmennya itu lebih kecil daripada mebel. Kalau orang udah ngomong furniture itu pasti udah pabrikan dengan furniture yang gede-gede sementara Bu Rita kan masih UMKM. Jadi segmennya itu Bu Rita masih produksi barang-barang kecil ini atau furniture mini misalkan kayak stool-stool gini itu masih oke gitu dan sejenisnya, gitu," tuturnya.

Membidik Pasar Internasional Lewat Kayu Daur Ulang

Kunci sukses Nangoma terletak pada keunikan bahan baku yang digunakan. Bukannya menggunakan kayu baru yang mulus, Rita justru jatuh cinta pada kayu recycle atau kayu daur ulang yang memiliki nilai seni dan cerita tersendiri.

"Untuk materialnya Bu Rita lebih ke kayu recycle. Kayu recycle itu Bu Rita dapatkan dari pembongkaran rumah, dari kayu-kayu kapal, kapal-kapal dari Probolinggo, mana-mana yang mungkin sudah bocor, sudah ini itu Bu Rita ambil," kata Rita.

Tak hanya itu, karakter bahan baku yang unik ini ternyata menjadi pemisah yang tegas antara target pasar domestik dan pasar luar negeri.

"Jadi karena Bu Rita tuh ngambil segmennya recycle ya. Otomatis segmen pasarnya itu lebih keluar negeri. Karena apa? Karena kalau di Indonesia cenderung pengen rumahnya itu dimasukin barang-barang yang mulus sebangsa IKEA kayak gitu kan, mulus barang-barang Cina yang pabrikan itu loh. Sementara kalau kayu recycle itu pasti ada bekas tetesan cat, bekas paku kalau rumah zaman dulu dari kayu-kayu itu kan ada paku, nah justru orang luar itu menyukai keunikan-keunikan seperti itu. Jadi segmen pasarnya lebih keluar lah," ujarnya.

Mampu Atasi Pembeli yang 'Saklek'

Meski pasarnya menjanjikan, perdagangan ekspor memiliki tantangan berat, terutama dalam hal pengiriman jarak jauh dan karakter pembeli asing yang sangat disiplin. Bahkan, pembeli asing tersebut tak segan meminta ganti rugi kepada Rita ketika barang-barangnya tak sesuai dengan yang diterima olehnya.  

"Banyak sih, kalau orang luar itu kan saklek. Jadi ya ya, enggak ya enggak gitu lho. Terus kadang tuh kalau barang sampai sana rusak, rusaknya kan kadang terombang-ambing di kapal kan hampir dua bulan. Jadi kadang rusak, kadang pecah. Kadang mereka minta ganti. Iya, mereka enggak mau tahu tetap tanggung jawab kita. Kadang-kadang minta diskon, atau minta apa lah nanti kita komunikasikan lah. Karena kadang, mereka tuh hanya butuh pertanggung jawabannya itu seberapa. Padahal ada orang yang enggak mau rugi, gitu kan. Ya sudah lah gitu,” terangnya.

Medapati hal tersebut, Rita pun berhasil mengelola usahanya dengan baik dan menjadi jalan keluar agar usahanya tidak rugi. Untuk transaksi, Rita biasanya memanfaatkan mata uang Dolar AS atau Rupiah melalui sistem e-catalog.

"Pastinya Bu Rita enggak mau ganti berupa uang. Kan ada deduction invoice gitu kan, kalau aku sering gantinya berupa barang, mas. Kalau barang kan cuma HPP kan, misalkan barang ini Rp100 ribu ya, nanti dipotong di invoice Rp100 ribu, kalau enggak ganti barang paling harga barang Rp50 ribu gitu lah. Kalau sama orang luar itu transaksinya gimana buk? Ada yang pake dolar, ada yang mereka rupiah, tergantung mereka sih. Kalau mereka rupiah, ya mereka nanti ratenya dari sana. Jadi masuk ke Bu Rita udah rupiah, gitu. Ada katalognya, e-catalog-nya," papar Rita panjang lebar mengenai dinamika ekspor.

Dilema Regenerasi Perajin Sepuh hingga Ikuti Berbagai Agenda Rutin Bergengsi

Di tengah kesuksesan pasarnya, Nangoma menghadapi isu pelik yang juga dirasakan oleh seluruh industri mebel nasional saat ini, yakni kelangkaan sumber daya manusia (SDM) dari generasi muda yang mau menjadi tukang kayu sejati.

"Kalau karyawan sih, nah itu masalah Nangoma ya dan mungkin semua perusahaan mebel saat ini. Masalahnya itu ada di SDM. Sekarang susah banget cari tukang, apalagi anak muda. Padahal pemerintah udah nyediain sekolah gratis khusus furniture, kayak Politeknik Kendal, SMK 5 Jogja, SMK di Semanu, sampai jurusan desain di UNY. Kami para UKM juga rutin kerja sama buat kasih wadah anak PKL yang ada di sana. Tapi kendalanya, anak-anak daerah, khususnya yang di Gunungkidul itu sering kali gak mau kerja keluar dari Gunungkidul. Sementara lulusan SMK yang di kota, ujung-ujungnya tetep gak mau jadi tukang. Walaupun mereka punya skill dan lulusan sekolah kayu, minatnya udah gak ke sana. Makanya sekarang hampir di semua perusahaan mebel tukang yang 'real' tukang itu pasti udah sepuh-sepuh. Anak mudanya paling cuma mau di bagian amplas atau finishing aja," keluh Rita mengenai tantangan regenerasi pekerja.

Meski didera kendala SDM, langkah Nangoma di pasar pameran nasional dan internasional tetap berjalan tegak berkat dukungan dari perbankan, khususnya PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk atau BRI. Rita tercatat aktif mengikuti berbagai kurasi pameran besar yang digagas oleh BRI maupun agenda tahunan sektor kerajinan.

"Bu Rita itu pernah ikut Brilianpreneur. Jadi itu dari BRI juga. Di BRI itu ada program pameran besar banget itu, seluruh Indonesia kan itu harusnya tiap Desember, cuman kemarin tuh ada terus ada yang, ini loh mas, yang tanah longsor di Aceh, Sumatera itu loh, nah akhirnya tuh di-cancel tahun lalu tuh. Brilianpreneur jadi semua UKM dari seluruh Indonesia itu, dikurasi sama BRI, jadi kita ngirim barangnya ke Jakarta. Kurasi, oh ini masuk, ini enggak, gitu. Ada juga pameran internasional itu tiap Maret jadi itu ada pameran terbesar furniture and home decor itu loh mas jadi seluruh buyer dari seluruh dunia itu ke Indonesia untuk lihat pameran itu jadi itu rutin tiap tahun itu di bulan Maret," jelasnya.

Kemudahan Transaksi Lewat BRI

Dukungan BRI dirasakan sangat nyata oleh Rita dalam operasional bisnis sehari-hari. Selain menggunakan akun bisnis BRI, Rita juga memanfaatkan fasilitas QRIS BRI untuk mempermudah transaksi para pembeli saat pameran.

“Bu Rita itu QRIS pake BRI, dan akun bisnisnya juga Bu Rita pake BRI,” ucapmya.

Kemudahan teknologi ini bahkan sempat menyelamatkan transaksinya dengan pembeli internasional dari negara tetangga secara tak terduga.

"QRIS sangat membantu, apalagi saat pameran ya. Bahkan kemarin sempat ada yang beli orang Malaysia. Dia mau beli cuma uang tunainya tidak cukup, jadi pakai QRIS itu dan ternyata bisa," pungkas Rita dengan senyum sumringah.

Temukan Kesejahteraan dan Pekerjaan Layak di Nangoma

Keberhasilan Nangoma dalam menembus pasar internasional tentu tidak lepas dari tangan dingin para perajin di balik layar. Salah satunya adalah Yono, seorang karyawan yang telah mendedikasikan dirinya bekerja di Nangoma selama hampir tiga tahun terakhir.

Bagi pria yang akrab disapa Pak Yono ini, Nangoma bukan sekadar tempat kerja, melainkan wadah di mana ia bisa mendapatkan penghidupan yang sangat layak. Saban hari, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, rutinitasnya diisi dengan memilah kayu-kayu recycle pilihan dan merakitnya menjadi produk kerajinan bernilai seni tinggi.

Pekerjaan sebagai perajin kayu ini sendiri bukanlah hal baru bagi Pak Yono. Meniti profesi sebagai tukang kayu sudah menjadi bagian dari jalannya sejak ia lulus dari bangku Sekolah Menengah Atas (SMA).

"Saya merasa mendapatkan pekerjaan yang sangat layak di sini. Bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 5 sore, memilah kayu lalu membuatnya jadi produk itu sudah jadi kebiasaan saya dari lama, bahkan sejak lulus SMA saya memang sudah bekerja sebagai tukang kayu," ungkap Pak Yono.

Meskipun enggan menyebutkan nominal upah yang diterimanya secara gamblang, Pak Yono mengaku sangat bersyukur. Pendapatan yang ia bawa pulang dari Nangoma terbukti sangat mencukupi untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya sehari-hari. Kenyamanan dan ketenangan kerja inilah yang membuatnya terus betah berkarya menghasilkan produk lokal berkualitas global bersama Ibu Rita. 

QRIS Alipay Dinamis dari BRI Hadir untuk Manjakan Wisatawan Mancanegara

PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BRI) kembali memperkuat ekosistem pembayaran digital di Tanah Air. Kali ini, BRI meluncurkan layanan QRIS Alipay Dinamis, sebuah inovasi yang memungkinkan merchant menerima pembayaran dari pengguna Alipay secara praktis, aman, dan real-time melalui perangkat EDC BRI.

Langkah strategis ini dirancang khusus untuk membantu para pelaku usaha memperluas jangkauan pasar mereka, terutama dalam melayani turis asing dan pelaku bisnis global yang mengandalkan Alipay sebagai metode pembayaran utama.

Direktur Network dan Retail Funding BRI, Aquarius Rudianto mengungkapkan bahwa akses ke metode pembayaran internasional kini menjadi kebutuhan krusial bagi para pelaku usaha lokal, khususnya yang sering berinteraksi dengan konsumen luar negeri.

"Melalui QRIS Alipay Dinamis, BRI memberikan solusi yang memudahkan merchant dalam menerima pembayaran lintas negara secara praktis, aman, dan real-time," ujar Aquarius pada Sabtu (23/5) kemarin. 

Kehadiran fitur ini diharapkan mampu mendongkrak volume transaksi para pelaku usaha, sekaligus mendukung pertumbuhan sektor pariwisata dan perdagangan nasional di tengah meningkatnya mobilitas global. Dengan solusi ini, merchant tidak hanya mendapatkan kemudahan dalam menerima pembayaran lintas negara, tetapi juga memperoleh pengalaman transaksi yang lebih lancer (seamless). Pelanggan cukup memindai kode QR menggunakan aplikasi Alipay, dan sistem akan secara otomatis melakukan verifikasi pembayaran dalam hitungan detik.

Cara Mudah Transaksi Pakai QRIS Alipay Dinamis BRI Adapun cara menerima pembayaran menggunakan QRIS Alipay Dinamis BRI adalah sebagai berikut:

1. Merchant memilih menu Generate QR pada perangkat EDC BRI.

2. Merchant memasukkan nominal transaksi sesuai dengan nilai pembayaran pelanggan.

3. Sistem EDC secara otomatis menghasilkan kode QR dinamis untuk transaksi tersebut.

4. Merchant menampilkan kode QR kepada pelanggan untuk dipindai.

5. Pelanggan melakukan pemindaian menggunakan aplikasi Alipay.

6. Sistem akan melakukan verifikasi transaksi secara real-time.

7. Merchant menerima notifikasi bahwa transaksi berhasil.

8. EDC BRI mencetak struk sebagai bukti pembayaran yang sah.

Solusi ini dapat dimanfaatkan oleh berbagai sektor usaha, mulai dari ritel, hotel, restoran, pusat oleh-oleh, destinasi wisata, hingga rumah sakit dan berbagai jenis usaha lainnya yang ingin memperluas pilihan metode pembayaran bagi pelanggan.