Klaster hantavirus di kapal pesiar dan alarm epidemiologi global

Sedang Trending 1 jam yang lalu
klaster hantavirus di kapal pesiar ini bukanlah indikasi terjadinya ancaman pandemi global

Surabaya (ANTARA) - Kemunculan klaster dugaan hantavirus di kapal pesiar MV Hondius merupakan peristiwa yang menarik, sekaligus penting dalam perspektif epidemiologi global.

Hantavirus, selama ini, dikenal sebagai penyakit zoonotik yang relatif jarang dan bersifat sporadis. Namun, dalam konteks mobilitas manusia yang kian tinggi, patogen yang jarang sekalipun dapat muncul dalam situasi tak terduga.

Kronologi kejadian memberi gambaran mengenai dinamika awal wabah ini. Pada 2 Mei 2026, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menerima notifikasi melalui mekanisme International Health Regulations dari Inggris terkait klaster penyakit pernapasan akut berat di atas kapal.

Pada tahap awal, dilaporkan dua kematian serta satu kasus dalam kondisi kritis. Pemeriksaan laboratorium di National Institute for Communicable Diseases mengonfirmasi bahwa pasien kritis tersebut terinfeksi hantavirus. Situasi berkembang cepat. Pada 3 Mei dilaporkan tambahan satu kematian, dan hingga 4 Mei total tujuh kasus teridentifikasi, terdiri atas dua kasus terkonfirmasi dan lima kasus suspek, dengan tiga kematian.

Jika ditelusuri lebih jauh, gejala penyakit telah muncul sejak 6 hingga 28 April. Pola klinis yang dilaporkan tergolong khas, namun agresif, bermula dari gejala nonspesifik, seperti demam dan gangguan gastrointestinal, lalu berkembang cepat menjadi pneumonia berat, acute respiratory distress syndrome (ARDS), hingga syok.

Manifestasi ini mengarah pada bentuk berat infeksi hantavirus, yakni hantavirus pulmonary syndrome (HPS), yang dikenal memiliki tingkat fatalitas tinggi serta perjalanan penyakit yang cepat.

Dari perspektif epidemiologi, kejadian ini dapat dikategorikan sebagai signal event yang penting. Hantavirus umumnya ditularkan melalui paparan urin, feses, atau saliva hewan pengerat yang terinfeksi, terutama melalui inhalasi partikel yang terkontaminasi.

Karena itu, kemunculan kasus di lingkungan kapal pesiar yang relatif tertutup, dan bukan habitat alami rodensia, menimbulkan pertanyaan penting mengenai sumber paparan. Kemungkinan paparan terjadi sebelum keberangkatan, misalnya saat penumpang atau awak kapal berada di wilayah endemis, atau selama aktivitas ekowisata yang meningkatkan kontak dengan lingkungan alami. Hal ini sejalan dengan masa inkubasi hantavirus yang berkisar 2 hingga 8 pekan.

Aspek lain yang patut dicermati adalah kemungkinan keterlibatan strain tertentu, seperti Andes virus. Sebagian besar hantavirus tidak menular antarmanusia. Andes virus diketahui memiliki kemampuan terbatas untuk transmisi antarmanusia. Hingga kini belum terdapat bukti kuat bahwa hal tersebut terjadi dalam klaster ini, tetapi investigasi epidemiologi dan analisis genomik yang sedang berlangsung menjadi krusial untuk memastikan pola penularan.

Peristiwa ini juga perlu ditempatkan dalam konteks yang lebih luas, yakni perubahan lingkungan dan perilaku manusia. Perubahan iklim, deforestasi, dan urbanisasi telah mengubah ekosistem serta memengaruhi dinamika populasi hewan pengerat sebagai reservoir alami hantavirus.

Di sisi lain, meningkatnya mobilitas global, termasuk perjalanan internasional, ekowisata, dan eksplorasi wilayah terpencil, meningkatkan peluang paparan terhadap patogen zoonotik. Dalam kerangka ini, hantavirus menjadi contoh pentingnya pendekatan one health, yang menekankan keterkaitan antara kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.

Baca juga: WHO tegaskan tak ada pembatasan perjalanan terkait Hantavirus

Sisi klinis

Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.