Klinik Korpagama mengembangkan Program Pengelolaan Penyakit Kronis (Prolanis) dari BPJS Kesehatan melalui inisiasi Sekolah Lansia sebagai sarana edukasi dan pemberdayaan bagi warga lanjut usia pada Senin (11/5/2026). Upaya ini bertujuan meningkatkan kualitas hidup peserta melalui aktivitas fisik dan interaksi sosial guna menjaga kebugaran tubuh secara berkelanjutan.
Sebagaimana dilansir dari Detikcom, program ini mengintegrasikan layanan kesehatan rutin dengan kegiatan kelompok yang terorganisir bagi para anggotanya. Wakil Ketua Sekolah Lansia, Suryono Hadi, menjelaskan bahwa kurikulum program mencakup berbagai aspek kesehatan yang komprehensif untuk mencegah penurunan fungsi kognitif.
"Setiap bulan kami menghadirkan narasumber, dan setiap enam bulan sekali ada outing class. Kegiatan ini bertujuan menjaga kebugaran sekaligus mencegah demensia," kata Suryono Hadi, Wakil Ketua Sekolah Lansia.
Tingginya minat masyarakat membuat inisiatif yang awalnya bersifat terbatas ini beralih menjadi program unggulan di Klinik Korpagama. Namun, kapasitas peserta saat ini masih tertahan pada angka 27 orang karena adanya keterbatasan infrastruktur pendukung di lokasi tersebut.
"Pengembangan program ke depan akan mencakup kelas yang lebih besar serta pemanfaatan teknologi digital agar jangkauan peserta semakin luas. Rencana akan dikembangkan kelas yang lebih besar dan juga nanti ada fasilitas streaming Youtube. Jadi yang tidak bisa ikut di kelas ini bisa mengikuti melalui Youtube," ujar Suryono Hadi.
Selain pendidikan di kelas, seluruh peserta mendapatkan fasilitas penunjang medis dari BPJS Kesehatan yang mencakup pemeriksaan penunjang, penyediaan obat-obatan, serta konsultasi dokter secara berkala. Integrasi ini juga mencakup dukungan operasional untuk kegiatan olahraga rutin kelompok.
"Sejak bergabung dengan kelompok lansia, para peserta mulai merasakan manfaat dari dukungan BPJS Kesehatan melalui kegiatan senam Prolanis. Dukungan tersebut diwujudkan dalam penyediaan instruktur senam serta konsumsi ringan untuk menambah semangat peserta selama mengikuti kegiatan," tambah Suryono Hadi.
Melalui penguatan program ini, pengelola berharap para lansia dapat mempertahankan kemandirian mereka dan meminimalisir risiko penyakit degeneratif. Fokus utama tetap pada pemeliharaan daya ingat dan stabilitas kesehatan fisik jangka panjang.
"Harapannya lansia bisa mandiri dan hidup lebih sehat. Selain itu, lansia juga diharapkan berusia lebih panjang serta tidak cepat mengalami penurunan daya ingat," kata Suryono Hadi.
Suryono turut menceritakan keberhasilannya dalam memulihkan kesehatan paru-paru melalui kontrol rutin di RSIY PDHI Yogyakarta dengan memanfaatkan penjaminan JKN. Meskipun sempat menjalani pengobatan intensif, ia dinyatakan sembuh pada tahun 2024 berkat kedisiplinan medis.
"Awalnya saya rutin kontrol, kemudian dua tahun terakhir dinyatakan sudah sehat. Itu karena disiplin berobat dan mengikuti anjuran dokter," ujar Suryono Hadi.
Saat ini, langkah preventif tetap dilakukan melalui pengobatan ringan untuk mengantisipasi potensi kekambuhan akibat faktor usia. Suryono mendorong peserta JKN lainnya agar proaktif menggunakan hak layanan kesehatan mereka secara benar dan teratur.
"Rutin kontrol, minum obat sesuai anjuran dokter, dan tetap aktif beraktivitas. Kita juga perlu menjaga kebahagiaan, misalnya dengan olahraga ringan dan bersosialisasi," tutup Suryono Hadi.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·