Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi IX DPR Charles Honoris akan meminta penjelasan dari Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) mengenai insentif Rp6 juta per hari yang tetap digelontorkan kepada Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang bermasalah.
Dia menilai kebijakan itu merupakan penghamburan terhadap uang negara karena membiayai unit-unit yang sedang tidak beroperasi setelah melakukan pelanggaran. Terlebih lagi, kata dia, pemerintah kini tengah mengedepankan efisiensi dan penghematan di segala lini.
"Kami akan meminta penjelasan dari Kepala BGN untuk mempertanggungjawabkan penggunaan anggaran yang sangat menyita perhatian publik ini dalam rapat kerja mendatang," kata Charles dalam keterangan di Jakarta, Rabu.
Berdasarkan informasi yang ia dapat, menurut dia, jumlah dapur yang telah ditutup berjumlah 3.778 unit. Jika ribuan SPPG itu ditutup selama dua pekan sana, dia menilai seharusnya negara bisa menghemat Rp317 miliar.
Menurut dia, dana sebesar itu seharusnya bisa digunakan untuk program pendidikan atau meningkatkan kesejahteraan tenaga kesehatan di garda terdepan. Dia menilai membiayai unit SPPG yang tengah disanksi adalah upaya yang percuma.
Dia pun mengingatkan kembali bahwa tujuan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah perbaikan gizi anak, bukan justru berbagi-bagi proyek.
"Jangan sampai esensi untuk memperbaiki gizi rakyat itu justru dikhianati oleh manajemen yang tidak baik," ujar Charles.
Sebelumnya, Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan bahwa SPPG yang ditutup sementara akan tetap menerima dukungan anggaran insentif sebesar Rp6 juta per hari, karena layanan itu tetap harus mengurus berbagai kebutuhan.
Dadan juga menegaskan meskipun terdapat SPPG yang dihentikan sementara karena berbagai faktor, namun di saat bersamaan terdapat 25 ribu lebih SPPG yang sudah melayani jutaan penerima manfaat program prioritas Presiden Prabowo Subianto tersebut.
Baca juga: Kepala BGN: 1.780 SPPG disetop sementara untuk perbaiki kualitas MBG
Baca juga: BGN tegaskan keamanan pangan MBG dijaga ketat di SPPG
Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Benardy Ferdiansyah
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·