Jakarta (ANTARA) - Ketua Komite Wasit PSSI Yoshimi Ogawa menekankan pentingnya penambahan kamera untuk menunjang kinerja Video Assistant Referee (VAR) di BRI Super League 2025/2026.
Penambahan kamera VAR bertujuan untuk meningkatkan akurasi keputusan wasit karena akan tersaji berbagai sudut pandang (angle) dari suatu kejadian, salah satunya apakah sebuah bola sudah keluar atau belum, seperti pada kejadian di laga Dewa United Banten FC melawan Persib Bandung di Banten International Stadium, Senin, dalam laga pekan ke-28 BRI Super League 2025/2026.
"Sebenarnya kamera garis gawang tidak wajib dalam penggunaan VAR. Tapi kalau ada, tentu akan jauh lebih baik," kata Ogawa saat ditemui awak media di GBK Arena, Jakarta, Kamis, setelah acara Refereeing Workshop for Media.
"Kami tidak bisa memaksakan kepada liga profesional. Namun ke depan, jika ada dua kamera di garis gawang, itu akan membuat keputusan lebih adil bagi semua pihak dalam sepak bola. Tapi posisi kami harus memahami kondisi saat ini. Kami harus mengelola kondisi yang ada," tambah Ogawa.
Di laga itu, gol pertama dari Dewa United yang dicetak Alex Martins memicu perdebatan karena sebelum bola mencapai kaki Martins, bola terlihat sudah keluar lapangan saat diambil oleh Alexis Messidoro.
Melihat ini, para pemain Persib bersikap pasif karena mengira bola sudah keluar, tetapi Messidoro tetap meneruskan permainan dan dia memberikan umpan akurat yang diselesaikan oleh Martins.
Baca juga: Menang 3-1 lawan Persik Kediri, PSM Makassar jauhi zona degradasi
Di kasus ini, menurut Ogawa, VAR tak bisa melakukan intervensi karena di Super League jumlah kamera VAR ada di 13 titik, terpaut jauh dibanding jumlah kamera VAR yang digunakan di Piala Dunia 2022 yang kabarnya mencapai 50 kamera.
Banyaknya jumlah kamera VAR di Piala Dunia 2022, kata Ogawa, turut membantu tim VAR mendapatkan banyak sudut pandang untuk meninjau sebuah insiden, salah satunya bagaimana gol kedua Jepang bisa disahkan saat mereka mengalahkan Spanyol di babak fase grup dengan skor 2-1.
Ketika itu, bola yang diterima Kaoru Mitoma pada gol kedua Jepang yang dicetak Ao Tanaka, sekilas sudah keluar lapangan. Namun, dari sudut pandang kamera lain, ternyata masih ada bagian bola yang berada di garis lapangan.
Intervensi VAR ini membuat Jepang keluar sebagai pemenang dan lolos ke babak 16 besar sebagai juara grup, sementara Spanyol sama-sama lolos, namun sebagai runner-up.
"Kejadian ini sama seperti waktu Jepang di Piala Dunia 2022," jelas Ogawa.
Baca juga: Bali United naik ke peringkat tujuh usai tundukkan Persita 1-0
Lebih lanjut, menurut Ogawa, keputusan yang dilakukan wasit yang memimpin pertandingan sudah benar, karena dia mendapatkan masukan dari asisten wasit bahwa bola yang dipegang Messidoro belum sepenuhnya keluar lapangan.
"Jika wasit atau asisten wasit sudah berusaha mengambil posisi terbaik dan melihat situasi, jika 100 persen yakin bola keluar, maka harus memberi sinyal. Namun jika tidak 100 persen yakin, keputusan di lapangan harus dipertahankan. Kemudian VAR akan mengecek," jelas pria asal Jepang tersebut.
"Jika VAR tidak menemukan bukti 100 persen bola keluar atau masuk, maka keputusan awal harus tetap dipertahankan. Jika ada bukti 100 persen, barulah direkomendasikan perubahan," tambah dia.
Baca juga: Utak-atik calon juara BRI Super League 2025/2026
Baca juga: Pelatih Persija: Percuma banyak peluang jika tak ada yang berbuah gol
Pewarta: Zaro Ezza Syachniar
Editor: Eka Arifa Rusqiyati
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.
1 jam yang lalu
English (US) ·
Indonesian (ID) ·