Konflik Amerika Serikat dan Iran Tekan Nilai Tukar Rupiah

Sedang Trending 1 jam yang lalu

Nilai tukar rupiah mengalami depresiasi terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (8/5/2026) menyusul eskalasi ketegangan militer di Timur Tengah. Pelemahan ini dipicu oleh serangan bersenjata AS ke sejumlah wilayah kedaulatan Iran yang memicu kekhawatiran pasar global.

Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia mencatat posisi rupiah berada di level Rp17.375 per dolar AS pada Jumat ini. Angka tersebut menunjukkan penurunan dibandingkan posisi pada hari sebelumnya yang berada di level Rp17.362 per dolar AS.

Kepala Ekonom Permata Bank Josua Pardede menjelaskan bahwa memanasnya situasi geopolitik menjadi faktor utama yang menekan mata uang Garuda. Ketegangan tersebut secara langsung berdampak pada aset berisiko dan komoditas energi dunia.

"Tensi di Timur Tengah kembali meningkat pasca penyerangan AS ke Iran di hari ini. Alhasil, harga minyak global kembali meningkat dan dolar AS kembali terapresiasi secara luas," ungkap Josua kepada ANTARA di Jakarta, Jumat.

Berdasarkan laporan Sputnik, serangan militer AS menyasar beberapa lokasi strategis termasuk Pulau Qeshm, kota Sirik, serta pantai pelabuhan Khamir. Tindakan tersebut dinilai sebagai pelanggaran gencatan senjata oleh pihak berwenang di Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya.

Pihak Iran segera melakukan aksi balasan dengan menyerang kapal perang AS di wilayah selatan pelabuhan Chabahar dan timur Selat Hormuz. Komando Pusat AS mengklaim tindakan mereka bertujuan untuk melenyapkan ancaman militer yang menargetkan pasukan Amerika.

Josua menambahkan bahwa pergerakan rupiah sepanjang pekan ini cenderung fluktuatif sebelum akhirnya ditutup melemah. Dukungan Tiongkok terhadap negosiasi damai sempat memberikan sentimen positif di akhir sesi sebelumnya, namun efeknya terhapus oleh insiden terbaru ini.

"Pada perdagangan pekan depan, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang terbatas di level Rp17.300-Rp17.425 per dolar AS," ucap Josua.